172 Tahun Menghilang, Burung Endemik Kalimantan Kembali Ditemukan

0

172 Tahun Menghilang, Burung Endemik Kalimantan Kembali DitemukanGaekon.com – Burung Endemik Kalimantan, Burung Pelanduk kembali teridentifikasi pasca selama 172 tahun tidak terdeteksi.

Saat ditemukan, PEH Pertama Balai Taman Nasional Sebangau Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Teguh Willy Nugroho menjelaskan bahwa dirinya sempat menganggap burung tersebut sebagai spesies baru.

“Karena menurut spesimen, kami tidak menemukan kesamaan warna paruh, iris mata, dan kaki. Menurut data, kaki burung pelanduk berwarna pink, tapi tidak terlihat disini,” katanya.

Seperti yang dilansir GAEKON dari Liputan6, Kronologi identifikasi burung pelanduk bermula pada 5 Oktober 2020. Saat itu, seorang warga Kecamatan Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, Suranto menemukan burung tak biasa.

Suranto kemudian memberitahu rekannya Fauzan, dan menyambungkan informasi tersebut pada komunitas GALEATUS melalui admin grup, Doddy, pada 7 Oktober 2020.

Komunitas itu kemudian sepakat membuat grup diskusi dengan nama “New Species,” keesokan harinya, 8 Oktober 2020. Kemudian pada 9 Oktober 2020, Irham dari LIPI menyatakan burung tersebut merupakan keluarga Malacopteran.

Identifikasi sebagai burung pelanduk disambung kecurigaan anggota bernama Panji, seorang birdpacker, pada 10 Oktober 2020. Pada 30 Oktober 2020, Yong Ding Li dari Birdlife membantu mengoreksi draft jurnal.

Draf jurnal akan identifikasi burung pelanduk itu kemudian diterima Oriental Bird Club pada 5 November, hingga dirilis melalui Jurnal BirdingAsia vol. 34 halaman 13–14 pada 25 Februari 2021.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati KLHK, Indra Eksploitasia menanggapi penemuan ini dengan menjelaskan regulasi melalui PP Nomor 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Ada tiga identifikasi tumbuhan maupun satawa yang wajib ditetapkan dalam golongan dilindungi. Pertama, mempunyai populasi yang kecil. Kemudian, adanya jumlah penurunan populasi yang tajam pada jumlah individu di alam. Terakhir, daerah penyebarannya yang terbatas atau endemik.

Peneliti burung Pusat Peneliatan Biologi LIPI, Tri Haryoko turut menyoroti data burung endemik tersebut.

“Punya banyak sekali PR untuk melengkapi data. Misal, karakter genetik saja belum diketahui, suaranya belum pernah direkam. Populasinya juga berapa banyak, itu belum tahu,” katanya.

Berkaca pada kronologi penemuan burung pelanduk, Tri menyinggung pentingnya mendorong peran citizen science.

Hal ini memungkinkan masyarakat untuk turut serta dalam mengumpulkan, mengarsipkan, menganalisa, dan berbagi data keanekaragaman hayati untuk pengembangan ilmu pengetahuan.

D For GAEKON