22 Warga Terluka, Ricuh Penggusuran Oleh Pertamina

0

22 Warga Terluka, Ricuh Penggusuran Oleh PertaminaGaekon.com – Sebanyak 22 warga Gang Buntu II, Pancoran, Jakarta Selatan terluka akibat kekerasan dalam upaya penggusuran yang dilakukan PT Pertamina Training and Consulting (PTC) pada Rabu (17/3).

Seperti yang dilansir GAEKON dari CNN, Perwakilan warga Gang Buntu II, Pancoran, Jakarta Selatan mengaku bahwa mereka mengalami kekerasan.

Perwakilan Forum Pancoran Bersatu, Leon Alvinda Putra mengatakan akibat kekerasan itu sebanyak 22 warga terluka. Bahkan karena lukanya itu mereka harus dilarikan ke rumah sakit.

“Jumlah data korban kekerasan Pancoran 22 orang. Dengan rincian korban luka ringan 15 orang, korban luka berat 7 orang. Seorang warga dengan luka berat masih dirawat di RS Tebet,” katanya.

Luka yang dialami warga bermacam-macam. Menurut keterangan Leon luka mereka berupa kepala bocor dan kaki sobek. Bahkan dari video yang diterima CNN, sejumlah warga ada yang terlihat tak sadarkan diri maupun luka-luka.

Leon menceritakan bahwa kericuhan bermula ketika organisasi masyarakat dan preman mendatangi lokasi pemukiman warga dan memblokade akses masuk dan pintu belakang Gang Buntu II sekitar pukul 15.00 WIB. Karena terus melakukan intimidasi, warga meminta preman-preman itu segera pergi.

Pihak ormas dan preman juga diminta segera mengembalikan sekolah PAUD di wilayah pemukiman yang dikuasai secara paksa. Sekitar pukul 17.00 WIB, warga dan perwakilan forum melakukan negosiasi dengan pihak Pertamina, Polres Metro Jakarta Selatan dan Polsek Pancoran.

Sementara itu Pertamina meminta warga mengirimkan perwakilan untuk melakukan mediasi, namun warga menolaknya.

“Karena yang sudah-sudah mediasi hanya berujung intimidasi dan ancaman untuk menandatangani surat penerimaan kerohiman,” tutur Leon.

Akhirnya, pertamina menyerahkan kembali bangunan sekolah PAUD ke warga. Namun aparat dan ormas tidak keluar dari wilayah pemukiman. Sekitar pukul 18.30 WIB, Leon mengatakan kondisi sudah mulai memanas.

Pukul 22.00 WIB, kericuhan mulai terjadi. Ia menyebut ormas berupaya memprovokasi warga dan melempari batu ke arah warga sehingga terjadi bentrokan.

Sempat ada tembakan gas air mata ke posko medis yang digunakan untuk mengungsikan warga yang luka-luka karena bentrokan.

Kondisi yang semakin tidak kondusif ini membuat warga berupaya menghubungi ambulans dari rumah sakit terdekat. Namun tidak ada yang mau menangani. Karena akses bantuan yang ingin masuk ke posko medis sulit dijangkau, pasalnya, seluruh pintu masuk ke Pancoran Gang Buntu II dijaga ketat oleh aparat.

Diketahui, warga di wilayah pemukiman tersebut terlibat sengketa lahan dengan Pertamina. Menurut laporan warga, serangkaian upaya penggusuran paksa dilakukan beberapa kali dengan intimidasi dan kekerasan.

D For GAEKON