Berbahan Baku Limbah Sedotan, Mahasiswa UMM Ciptakan Masker Unik Khusus Disabilitas Tuna Rungu

0

Berbahan Baku Limbah Sedotan, Mahasiswa UMM Ciptakan Masker Unik Khusus Disabilitas Tuna RunguGaekon.com – Ditengah pandemi Covid-19, banyak mahasiswa yang berinovasi menciptakan sesuatu untuk memerangi virus corona. Seperti yang dilakukan 4 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka berinovasi membuat masker unik dari limbah sedotan.

Seperti yang dilansir GAEKON dari Liputan6, mereka adalah Habibah Alifatus Syaidah, Aulia Amanda, Briliant Ghaustin Yoly Ala, dan Annisa Firdaus Ramadhini. Mereka membuat kreasi unik masker khusus tuna rungu berbahan baku limbah sedotan.

Menurut salah satu anggota tim, Habibah Alifatus Syaidah penggunaan masker untuk mencegah penyebaran Covid-19 ini menyulitkan para disabilitas tuna rungu dalam berkomunikasi. Padahal, membuat masker adalah suatu keharusan saat ini.

Pemilihan bahan dasar limbah sedotan ini menurut Habibah untuk mengurangi sampah plastik yang sering ditemui.

“Ini menjadi salah satu upaya kita bersama agar terus menjaga lingkungan dan mengurangi penggunaan sampah plastik. Limbah sedotan ini sebagai bahan dasar strap masker (pengait masker),” ujarnya.

Untuk membantu para disabilitas tuna rungu agar tidak terganggu komunikasinya saat memakai masker, mereka kemudian membuat inovasi masker transparan.

Habibah mengatakan bahwa ide awal masker ini dari mata kuliah kewirausahaan yang mereka jalani di UMM. Saat itu, Habibah dan timnya membuat model usaha penjualan masker dengan desain yang unik.

Keunikan itulah yang menjadi potensi dari model usaha yang mereka bangun hingga akhirnya mendaftarkannya ke Program Kreatifitas Mahasiswa-Kewirausahaan (PKM-K). Kreasi yang diperkuat dengan dorongan serta motivasi dari dosen kewirausahaan ini lolos pendanaan dari Direkorat Jendral Perguruan Tinggi (DIKTI) pada Mei lalu.

Masker Sedotan Mulai Dipasarkan Dengan Harga Rp. 35.000 – 40.000

Habibah menerangkan masker kain tembus pandang yang mereka buat itu terdiri dari dua lapis masker. Lapisan pertama di bagian luar seperti masker biasa yang berisikan filter penyaring. Filter tersebut diharuskan untuk diganti tiga hari sekali.

Untuk lapisan keduanya merupakan masker transparan, sehingga orang dapat melihat ekspresi dan gerak bibir dari para tuna rungu dan memudahkan dalam berkomunikasi.

Harga masker dipatok dari harga Rp 35.000-Rp 40.000. Harga tersebut sudah termasuk masker, tiga filter serta strap masker. Proses pemasarannya akan dimulai pekan depan secara daring. Habibah berharap masker transparan tersebut bisa menjadi opsi untuk membantu komunikasi tuna rungu di tengah pandemi.

D For GAEKON