Berlangsung Hampir Sebulan, Banjir Sintang Jadi Banjir Terbesar Dalam 40 Tahun Terakhir

0

Berlangsung Hampir Sebulan, Banjir Sintang Jadi Banjir Terbesar Dalam 40 Tahun TerakhirGaekon.com – Banjir yang melanda Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar) saat ini menjadi yang terbesar selama 40 tahun terakhir.

Melansir dari CNN, kabar ini diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Daerah Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalbar, Nicodemus Ale.

“Di sintang itu adalah banjir terbesar dalam 30 hingga 40 tahun terakhir,” kata Nico.

Nico menerangkan ada dua indikator sehingga pihaknya menyebut banjir saat ini terbesar dalam kurun waktu 40 tahun terakhir.

Indikator tersebut meliputi cakupan wilayah yang terdampak dan lama bencana hidrometeorologi berlangsung.

Banjir di Siantang tersebut telah merendam 12 kecamatan di Sintang yaitu, Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, Binjai Hulu, Kecamatan Sintang, Kecamatan Sepauk, Tempunak, Ketungau Hilir, Dedai, Serawai, Ambalau, Kecamatan Sei Tebelian dan Kecamatan Kelam Permai.

Banjir tersebut berlangsung selama hampir satu bulan terhitung sejak Kamis pagi (21/10). Nico menjelaskan, banjir berkepanjangan di Sintang ini dipicu oleh dua faktor yaitu cuaca dan berkurangnya resapan air imbas deforestasi.

“Karena durasinya lama, areal yang terdampak itu juga cukup besar. Ini kan ada 12 kecamatan areal terdampak. Itu bisa dikatakan indikator kenapa ini banjir terbesar setelah 30 an tahun terakhir,” jelasnya.

Banjir di Sintang belum juga surut. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sintang mencatat per Selasa (16/11), sebanyak 35.807 KK atau 124.497 warga terdampak. Dari jumlah warga yang terdampak itu, sebanyak 25.884 warga masih harus mengungsi.

Nico tak memungkiri, bahwa saat ini Indonesia sedang memasuki masa La Nina. Curah hujan di Sintang sendiri cukup tinggi, belum masuk kategori ekstrem namun intens. Meski begitu, kata Nico, intensitas hujan yang tinggi tidak akan menyebabkan banjir parah seperti sekarang ini jika resapan airnya berfungsi.

Menurut Nico, dari 14,7 juta hektare lahan daratan Kalbar, sekitar 12 juta hektare lahan digunakan untuk industri. Padahal, jika mengacu pada ketentuan yang telah ditetapkan, dari jumlah lahan daratan itu, lahan yang boleh digunakan untuk industri sebesar 6,4 juta hektar.

“Nah 6,4 yang aktivitas produksi investasi itu sekarang sudah overload dengan total investasi itu sekitar 12 juta hektar itu sudah diplotkan menjadi industri, Artinya 100 persen lebih terjadi kesalahan, oke perencanannya benar, tapi dalam implementasi perencanaan itu enggak benar. Itu udah melenceng jauh, udah 100 persen lebih,” ujarnya.

D For GAEKON