Bayi Suka Isep Jari, Bahaya Atau Tidak?

0

Gaekon.com – Kebiasaan bayi yang tidak bisa ditinggalkan adalah mengisap jarinya. Kalau kata orang jawa ‘Ngemut driji’. Hal ini hampir setiap menit selalu dilakukan. Ketika bayi sudah bisa memegang sesuatu benda, ia akan mencoba memasukkan setiap benda yang dipegangnya ke dalam mulut.

Benda tersebut seperti mainan, boneka, buku, baju, selimut, sarung guling, sarung bantal dan benda lainnya yang berada disampingnya dan terjangkau oleh tangannya pasti akan diraih dan kemudian dimasukkan ke mulutnya. Sebenarnya yang dilakukan bayi tersebut tidak memakan bendanya, namun hanya mengisapnya. Apabila tidak dilarang orang disekelilingnya, ia akan terus mengisap sampai air liurnya memenuhi benda tersebut.

Namun apabila ia dilarang mengisap benda tersebut, dan diambil oleh orang tuanya maka ia akan melampiaskan dengan mengisap jarinya.

Perubahan sikap pada bayi menunjukkan mereka sedang dalam tahap tumbuh kembang. Awalnya hanya bisa senyum ketika ada orang lain melihatnya, hingga akhirnya bisa memegang sesuatu benda yang ada didekatnya.

Tidak semua ibu mengetahui bahwa sesungguhnya bayi memiliki naluri alamiah untuk ngempeng. Naluri inilah yang kemudian menjadikan kebiasaan mengisap jari adalah hal yang umum dilakukan Si Kecil untuk mencari kenyamanan. Seorang anak biasanya mengempeng ketika ia merasa lelah, bosan, sakit, marah, atau ketika kedua tangannya tidak melakukan apapun.

Biasanya, ibu jari adalah objek yang paling sering digunakan sebagai media pemuas kebutuhan ini. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan Si Kecil juga melakukannya dengan jari yang lain atau kepalan tangan. Bukan hanya jari tangannya saja, jempol kaki juga bisa menjadi mangsanya.

Ketika masih bayi, kebiasaan mengisap jari bukanlah sesuatu yang dapat mengganggu perkembangan fisik maupun mental seorang anak. Akan tetapi, pertanyaan muncul ketika seorang individu menginjak usia masuk sekolah. Apakah normal dan sehat jika kebiasaan ini terus berlangsung?

Tanpa disadari ternyata kebiasaan mengisap jari pada bayi akan berefek buruk, berikut beberapa efek yang bisa terjadi :

1. Pembentukan kalus

Saat diisap, kulit jempol bayi akan terus-menerus bergesekan dengan lidah dan ini menyebabkan timbulnya tumpukan sel kulit mati (kalus) di atas jempolnya. Kondisi ini bisa menimbulkan rasa sakit karena jempol kehilangan kulit, si lapisan pelindung, sehingga ia rawan mengalami memar.

2. Paronikia

Paronikia merupakan kondisi dimana bakteri menginfeksi akar kuku, di masyarakat Indonesia lebih dikenal dengan istilah cantengan. Hal ini terjadi ketika tekanan hisapan yang terus-menerus pada kuku menimbulkan trauma kuku minor, sehingga ada celah kecil antara kuku dan kulit. Belum lagi bayi yang usianya lebih tua, juga cenderung menggigit dan mengunyah jempolnya selagi mengisap. Ini membuat kuku terluka, dan luka sekecil apapun bisa menjadi sarang bakteri penyebab infeksi.

3. Herpetic whitlow

Ini merupakan infeksi kuku dan jari yang disebabkan oleh virus Herpes. Bayi yang mengalami herpes oral tanpa sengaja bisa menyebarkan virus dari mulut ke tangan ketika ia mengisap jempolnya. Begitu virus mengenai tangan, maka akan mudah menyerang kulit dan akar kuku sehingga menimbulkan luka lepuh yang menyakitkan.

4. Gangguan ortopedik

Mengisap jempol dalam waktu lama dapat membuat jari mengalami deformitas, pertumbuhan tulang berlebih, dan dislokasi atau tidak lurusnya sendi.

Meskipun gangguan yang disebutkan di atas tidak semata mata disebabkan karena mengisap jempol, namun bagaimanapun juga kebiasaan ini akan mempengaruhi kesehatan gigi bayi. Efek ini biasanya muncul bila bayi terus mengisap jarinya setelah umur 5 tahun. Apa sajakah itu? simak penjelasan di bawah ini.

5. Gigi tidak rapi

Akibat tekanan jempol terus-menerus, gigi bagian depan bisa tumbuh tidak rapi sehingga gigi atas dan bawah jadi tidak segaris, hal ini menyebabkan anak kesulitan untuk menutup mulut.

6. Gigi tonggos

Anak yang sudah berusia 5 tahun masih saja mengisap jempolnya, rata-rata akan memiliki gigi tonggos. Hal ini terjadi akibat gerakan mengisap tersebut mendorong terus menerus gigi depan ke arah depan. Sehingga kebiasaan mengisap jempol ini menyebabkan gigi tonggos

7. Crossbite

Crossbite terjadi kalau susunan gigi atas dan bawah berbeda atau berlawanan dari normalnya. Crossbite sendiri biasanya merupakan efek gigi tonggos tadi yang menyebabkan melemahnya kemampuan menggigit. Selain masalah gigi, anak usia 5 tahun juga bisa menderita gangguan kulit dan kuku juga. Meskipun begitu, pihak ADA (American Dental Association) menyatakan jika mengisap jempol hanya memprihatinkan kalau hal itu sampai menyebabkan masalah gigi permanen, dan ini biasanya muncul setelah usia 5 tahun.

Namun sebagai orang tua tidak usah khawatir. Berdasarkan pantauan GAEKON dari laman theasianparent, berikut tips untuk menemani anak ketika sedang mengisap jari :

  • Berikan bayi mainan gigit (Teether) untuk membuatnya nyaman (pastikan orang tua senantiasa menjaga kebersihan dan sterilitas teether tersebut)
  • Menjaga selalu kebersihan lingkungan sekitar bayi
  • Saat bayi sedang mengisap jari, rajin mencuci tangan dan memotong kukunya
  • Hindari meletakkan benda – benda kecil yang tidak aman jika termakan di sekeliling bayi
  • Memberinya MPASI juga salah satu alternatif baik bayi menjalani fase oralnya
  • Pastikan tidak ada benda – benda berbahaya yang rentan tertelan di dalam jangkauan bayi
  • Sterilkan mainan bayi agar tetap bersih secara berkala
  • Berikan ia makan yang teratur serta camilan sehat di sela waktu makan agar tidak terlalu lapar sehingga ingin memasukkan apapun yang ditemuinya

 

KL For GAEKON