Begini Penampakan Rumah Yang Dilarang Dijadikan Rumah Ibadah Kristen

0

Begini Penampakan Rumah Yang Dilarang Dijadikan Rumah Ibadah KristenGaekon.com – Kasus larangan beribadah di rumah terhadap umat Kristen di Desa Ngastemi, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menyita perhatian publik dalam beberapa jam terakhir.

Poin utama yang menjadi sorotan adalah surat yang dilayangkan oleh Kepala Desa Ngastemi, H Mustadi SH kepada seorang warga yang tinggal di RT03 Dusun Karangdami, Desa Ngastemi, bernama Sumarmi.

Dalam surat bertanggal 21 September 2020 dan bersifat sangat penting itu, Sumarmi diperingatkan untuk menghentikan aktivitas peribadatan di rumahnya. Surat itu sendiri sampai di tangan Sumarmi pada 24 September 2020.

Surat itu juga menyoroti renovasi rumah Sumarmi yang dianggap menyerupai rumah ibadah Kristen, salah satunya karena terdapat salib di depannya. Berdasarkan pantauan di lapangan, rumah tersebut saat ini memang sedang direnovasi. Warga, termasuk sang kepala desa, menduga kalau rumah tersebut hendak disulap menjadi rumah ibadah bagi jemaat Gereja Kristen Pantekosta (GPdI).

Proses renovasi rumah tersebut baru berjalan sekitar 40 persen. Ada penambahan ruangan di bagian luar rumah yang baru dipasangi tiang-tiang kayu sebagai kerangka bentuk bangunan. Namun, tidak terlihat adanya salib, sebagaimana yang dikhawatirkan warga setempat.

Sementara itu, para jemaat Gereja Kristen Pantekosta (GPdI) keberatan terhadap larangan beribadah di rumah yang disampaikan melalui surat yang diterima oleh Sumarmi. Mereka menilai larangan itu melanggar konstitusi negara yang menjamin setiap penduduk untuk bebas memeluk dan meyakini serta beribadah menurut agama dan keyakinan masing-masing.

Pendeta Kristin, mewakili jemaat GPdI, menilai poin kedua isi surat tersebut terlalu berlebihan. Kristin bilang, melaksanakan ibadah Kebaktian merupakan hak umat Kristen sebagai warga negara Indonesia yang menganut Pancasila dan berdasarkan UUD 1945.

“Apalagi, kan, kegiatan ibadah ini sudah berlangsung sejak lama, sejak 2009. Saya berharap, warga tetap dibolehkan beribadah di rumah Ibu Sumarmi,” kata Kristin, saat bermusyawarah dengan perwakilan Gusdurian Mojokerto, Sabtu (26/9/2020).

Terkait renovasi rumah, menurut Sumarmi yang suaranya diwakili oleh Kristin, dilakukan karena kondisi rumah memang sudah sepantasnya diperbaiki. Antara lain karena atap rumah telah rusak dan sering masuk air ketika hujan.

“Adapun glassblock untuk meletakkan salib itu sudah dihilangkan,” terang Kristin, seperti dikutip dari Inilahmojokerto.

Sementara itu, Koordinator Gusdurian Mojokerto Imam Maliki berharap agar umat Kristen di Desa Ngastemi mendapatkan hak dan perlakuan yang sama dan adil dalam menjalankan peribadatan.

“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan beribadat menurut keyakinannya. Itu sudah tertuang dalam UUD 1945 Pasal 29 ayat 2,” kata Imam.

Terpisah, Kepala Desa Ngastemi H Mustadi mengatakan bahwa surat itu ia layangkan lantaran renovasi rumah Sumarmi tidak memiliki izin serta tidak memenuhi syarat yang diatur dalam SKB Dua Menteri. Ia berkata begitu karena menganggap rumah Sumarmi mau direnovasi jadi rumah ibadah umat Kristen.

Mustadi juga menjelaskan bahwa warga desanya yang beragama Kristen hanya sembilan orang, sehingga jika rumah itu hendak diubah menjadi rumah ibadah, tidak akan memenuhi syarat SKB Dua Menteri.

H Mustadi mengaku menulis surat itu setelah bermusyawarah dengan perangkat desa, Muspika, Kepala KUA, MUI Bangsal, perwakilan muslim, serta perwakilan umat Kristen di Desa Ngastemi.

“Apabila maksud pembangunan atau renovasi rumah adalah untuk tempat tinggal (hunian), silakan dilanjutkan. Namun DILARANG mencirikan atau mencerminkan karakteristik tempat ibadat Kristen, misalnya adanya salib. Namun apabila maksud pendirian atau renovasi adalah untuk membangun rumah ibadah atau tempat doa atau gereja, harus dihentikan, kecuali sudah memenuhi persyaratan yang berlaku sesuai dengan SKB dua menteri (Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama RI) terkait pendirian rumah ibadah,” demikian bunyi poin pertama surat tersebut.

Surat itu juga menyampaikan bahwa aktivitas peribadatan yang rutin dilakukan di rumah Sumarmi telah menimbulkan keresahan warga masyarakat Dusun Karangdami.

“…maka untuk selanjutnya dilarang melakukan ibadah dan atau doa bersama di rumah saudari Sumarmi yang ada di RT 03 Dusun Karangdami tersebut agar tercipta suasana harmonis kehidupan antar umat beragama khususnya di Dusun Karangdami,” begitu bunyi poin kedua surat tersebut.

K For GAEKON