Beredar Foto Puan Dan Pigai Dituduh Hancurkan Ganjar, Pigai: Quo Vadis Indonesia, Hoax Jadi Benar, Benar Jadi Hoax

0

Beredar Foto Puan Dan Pigai Dituduh Hancurkan Ganjar, Pigai: Quo Vadis Indonesia, Hoax Jadi Benar, Benar Jadi HoaxGaekon.com – Mantan Komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai bantah keras soal kasus yang menyebut Ketua DPP PDIP, Puan Maharani menggunakan jasanya untuk menghancurkan Ganjar Pranowo dan Jawa Tengah (Jawa Tengah).

Seperti yang dilansir GAEKON dari Detik, ia membantah soal itu dan mengatakan bahwa semuanya hoax.

“Quo vadis Indonesia. Benar jadi salah, waras jadi tidak waras, hoax jadi benar, benar jadi hoax,” kata Pigai.

Meski Pigai mengaku tak suka dengan PDIP, namun ia menghargai Megawati Soekarnoputri dan Puan Maharani.

“Saya tidak suka PDIP, tapi menghormati Ibu Mega, menghargai pribadi Ibu Puan. Seumur hidup tidak pernah ketemu bahkan Salaman,” ujarnya.

Pigai menduga bahwa gambar yang beredar itu dibuat oleh tim Ganjar. Dia kembali menegaskan kalau cuitannya tidak ada kaitan dengan PDIP.

“Kalau grup Ganjar mau main playing victim agar dapat simpati publik. Jangan giring ke Rasis dan Tuduhan yang kejam. Saya kritik tidak ada kaitan dengan PDIP, capres, Saya kritik untuk ketidakadilan terhadap rakyat Papua. Kecuali kalian ingin kan kita hidup sendiri di wilayah masing-masing antarpulau, dan itu pilihan kalian karena kalian yang mulai dengan gempuran Rasis,” lanjut Pigai.

Sebelumnya, beredar pesan gambar dengan foto Puan dan tulisan ‘Pigai Sengaja Digunakan Oleh Puan Untuk Menghancurkan Ganjar dan Jateng’ melalui WhatsApp.

Foto Puan di gambar tersebut sedang mengenakan kebaya merah, dan ada juga foto Pigai. Elite PDIP Hendrawan Supratikno menanggapi pesan gambar tersebut. Ia menyebut dalam menyongsong demokrasi Indonesia yang lebih baik, selalu ada pihak yang bertolak belakang dengan menebar fitnah.

“Dalam gerak kita ke masa depan, selalu ada kelompok orang yang ingin melakukan pendangkalan akal budi. Pencerahan berusaha ditutup-tutupi dengan kabut fitnah dan selubung kebencian. Kita didorong berkutat dalam lembah kelam yang dikuasai nafsu-nafsu primitif pra-demokrasi,” sebut Hendrawan.

“Ini zaman demokrasi, Bung. Jangan menghabiskan energi dan konsentrasi untuk menonton palagan devide et impera (politik adu domba)!” tegasnya.

D For GAEKON