’Big Boss’ Butuh Bantuan, Eks Sesmenpora Setor Rp 300 Juta

0

Jakarta – Mantan Sekretaris Kemenpora (Sesmenpora) Alfitra Salamm mengatakan bahwa dirinya sering dimintai uang oleh asisten pribadi Imam Nahrawi, Miftahul Ulum. Alfitra mengatakan sering tertekan karena Ulum kerap meminta uang yang jumlahnya bervariasi.

Hal itu dikatakan Alfitra saat bersaksi di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Rabu (11/3). Alfitra mulanya menjelaskan pernah dimintai uang oleh Ulum yang nantinya uang itu diperuntukkan untuk organisasi keagamaan yang dilaksanakan di Jombang, Jawa Timur. “Waktu itu (Ulum) mengatakan begini, bahwa ‘big boss’ butuh bantuan, mau ada kegiatan keagamaan pada 6 Agustus maka urgent untuk dibantu,” ujar Alfitra.

Alfitra mengaku pada saat itu mendapat ancaman dari Ulum. Dia mengaku diancam akan dicopot jika tidak menyerahkan uang untuk organisasi keagamaan itu. “Beliau (Ulum) bilang ini harus diberikan kalau tidak jabatan saya sebagai sesmenpora akan dievaluasi, dicopot,” tuturnya.

Alfitra memaparkan selama 2016 itu Ulum meminta uang kepada Alfitra sebesar Rp 300 juta untuk organisasi keagamaan. Kemudian permintaan kedua, di tahun yang sama berjumlah Rp 5 miliar.

Alfitra juga menjelaskan awalnya Ulum meminta uang Rp 500-700 juta untuk organisasi keagamaan. Namun, dia mengaku tidak memiliki uang dan anggaran Kemenpora juga tidak ada. Akhirnya karena terus didesak Ulum dan takut akan dicopot, dia pun meminta bantuan Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy. “Hamidy bilang kita juga nggak ada uang, akhirnya karena Pak Hamidy ini adalah seorang pengusaha, dia punya uang ya dia akhirnya bantu,” jelasnya.

Ending menyanggupi permintaan Alfitra untuk membantu menyerahkan uang ke Imam sebesar Rp 300 juta. Ending, kata Alfitra, langsung menghubungi Bendara Pengeluaran Pembantu (BPP) Satlak Prima yang bernama Lina Nurhasannah.

Setelah terjadi komunikasi antara Lina, dan telah disepakati jumlah uang yang diberikan. Akhirnya Alfitra bersama Ending pergi ke Jombang, Jawa Timur untuk menghampiri Imam dan Ulum yang sudah lebih dulu ada di sana untuk menghadiri acara organisasi keagamaan yang dimaksud. “Kita ke kota Jombang, (temuin) Ulum sama Pak Menteri,” katanya.

Alfitra menjelaskan setelah sampai di tempat tujuan mereka langsung memberikan uang Rp 300 juta yang ditaruh di dalam tas ke Ulum. Menurut Alfitra saat penyerahan uang itu, Imam berada di jarak 15 meter dengan Ulum. “Saya serahkan uang langsung ke Ulum, ada Pak Hamidy di samping saya. (Disaksikan terdakwa) terdakwa kelihatan tetapi jaraknya sekitar 15 meter,” jelasnya.

Setelah menyampaikan uang ke Ulum, kemudian Alfitra mengaku langsung menemui Imam. Saat pertemuan itu, Imam mengucapkan terima kasih ke Alfitra. “Saya menyampaikan kepada terdakwa ‘mohon maaf baru sekarang saya bisa bantu’, kata terdakwa ‘terimakasih’,” ucap Alfitra menirukan percakapannya dengan Imam kala itu.

Dalam sidang ini, Imam Nahrawi didakwa menerima uang Rp 11,5 miliar. Penerimaan uang tersebut untuk mempercepat persetujuan dana hibah KONI ke Kemenpora. Selain itu, Imam Nahrawi didakwa menerima gratifikasi Rp 8,6 miliar. Uang gratifikasi itu berasal dari Sekjen KONI Ending Fuad Hamidy hingga anggaran Satlak Prima.

W For GAEKON