Rabu pagi (13/11/2019) Polrestabes Medan Jalan HM Said Sumatera Utara diguncang ledakan bom. Serangan bom bunuh diri itu membuat satu pelaku meninggal dunia di tempat kejadian. Berdasarkan jumpa pers  kepolisian, Karopenmas Mabes Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo saat ini polisi tengah mengupayakan hasil investigasi kasus tersebut. Usai kejadian tim dari Densus 88 dan Polda Sumut segera melakukan oleh TKP.

Pelaku bom bunuh diri menggunakan atribut ojek online. Berdasarkian keterangan kepolisian, pelaku yang mengenakan jaket ojek online masuk melalu pintu depan. Selanjutnya pelaku berjalan menuju bagian operasional Polrestabes Medan. Usai tiba disana, pelaku langsung meledakkan diri dan mengakibatkan korban terluka.

Empat korban luka antara lain, Kasi Propam, Pekerja harian, Anggota Propam, dan Anggota piket bagian operasional. Pelaku sendiri meninggal duni dengan tubuh hancur. Ledakan terjadi pada pukul 08.45 WIB. Saat kejadian Mapolrestabes Medan sedang ramai orang yang mengurus SKCK guna keperluan pendaftaran CPNS 2019.

Beruntungnya, ledakan itu tidak menyasar masyarakat yang membuat SKCK. Ledakan bom masih berada di halaman parkir dan tidak sampai memasuki tempat masyarakat berkumpul. Sejumlah mobil yang terparkir dilaporkan rusak ringan akibat ledakan tersebut.

Pelaku Berprofesi Driver Ojol

Tak lama usai kejadian, polisi berhasil mengantongi identitas pelaku bom bunuh diri. Pemuda berusia 24 tahun dikethui bernama Rabbial Muslim Nasution (RMN alias D). Polisi mendapatkan identitas dari sidik jari jenazah pelaku. Berdasarkan data KTP, RMN diketahui lahir di Medan dan berstatus mahasiswa atau pelajar.

Seperti diketahui, RMN melakukan aksi bom bunuh diri dengan mengenakan jaket berlogo ojek online. Usai penggeledahan di rumah orang tuanya di Gang Tentram, Lingkungan III, Kelurahan Sei Putih Barat, Kecamatan Medan Petisah, Sumatera Utara,  diketahui pelaku memang berprofesi sebagai driver ojek online. Pelaku juga berporfesi sebagai tukang bakso bakar sebagai sambilan.

Kepala lingkungan IV, Nardi (59) mengaku pernah mengenal RMN. Dia membenarkan bila RMN lahir di daerah tersebut. Pelaku sempat menetap di Kuala Simoang namun, ketika besar sempat balik lagi di rumah orang tuanya. “Dia rajin shalat, orangnya baik. Tapi entah apa yang terjadi. Begitu berumah tangga berubah, sikap jadi seperti ini,” tutup Nardi.

Usai Menikah dengan Dewi (DA) RMN tinggal di rumah kontrakan di Gang Melati, Kelurahan Tanah 600, Kecamatan Medan Marelan. Tak lama berselang usai eldakan, Dewi langsung diamankan polisi.

Masih ada satu DPO yang masih jadi incaran polisi, yaitu guru agama pelaku. “Yang diduga juga sebagai imamnya kini masih dalam pengejaran. Kita sudah mengantongi identitas yang diduga imamnya,” kata Wakapolda Sumut Brigjen Mardiaz Kusin Dwihananto.

Polisi saat ini masih melakukan penyelidikan apakah RMN terlibat dalam jaringan Jamaah Ansharut Daulah. JAD sendiri dikenal merupakan kelompok yang berafiliasi dengan ISIS. Jaringan ini masih ada meskipun pimpinan ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi diberitakan tewas 26 Oktober lalu.

Tak Mau Akui Kecolongan

Menkopolhukam Mahfud MD angkat bicara mengenai bom bunuh diri tersebut. Pihaknya menampik narasi yang beranggapan polisi terkesan kecolongan dalam kejadian tersebut. Menurutnya, aksi terorisme memang terjadi dengan cara curi-curi waktu.

“Enggak (kecolongan) lah. Memang teroris itu selalu nyolong,” kata Mahfud saat ditemui di Sentul International Convention Center, Rabu (13/11/2019).

Namun, apa yang terjaadi di lapangan memang menindikasikan polisi kecolongan. Pasalnya pelaku RMN rupanya sempat digeledah ketika memasuku Mapolrestabes Medan. “Yang bersangkutan sudah dua kali diperiksa karena tindak tanduknya mencurigakan,” kata Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Tatan Dirsan Atmaja.

Pelaku yang berdiri sendirian dan membawa tas ransel besar itu sempat ditegur petugas karena gerak-geriknya mencuigakan. “Ditegur oleh anggota, ‘Mau ke mana pak?’ ‘Mau buat SKCK’. Buka jaket, dibuka, bawa tas apa isinya, dibuka nggak ada apa-apa hanya buku. Digeledah tidak ada benda mencurigakan. Itu di luar Polres,” ucapnya.

Anggota yang pertama kali menggeledah berganti jaga karena adanya sistem piket. Pada waktu itu warga yang mengurus SKCK juga pelaku mulai masuk usai gerbang dibuka. RMN juga sempat kembali ditegur oleh petugas pertama yang menggeledahnya. Petugas meminta agar dirinya membuka jaket. Berselang lima menit dari teguran itu, baru terdengarlah suara ledakan di parkiran mobil.

Aplikator Angkat Bicara

Dua raksasa aplikator ojek online, Grab dan Gojek langsung merespon kejadian itu. Chief Corporate Affairs Gojek Nila Marita mengatakan Gojek mengutuk keras aksi teror yang terjadi di Medan. Gojek juga berduka cita atas jatuhnya korban dari aksi teror tersebut.

“Kami tidak dapat berkomentar mengenai atribut terduga pelaku. Kami telah dengan segera menghubungi dan berkoordinasi dengan pihak berwajib, serta siap untuk memberikan seluruh bantuan dan dukungan yang diperlukan untuk proses investigasi,” ujarnya. Gojek menentang keras segala tindakan anarkis dan akan memberikan dukungan penuh upaya pihak berwajib dalam menjaga keamanan masyarakat

Hal senada disampaikan Presiden Grab Indonesia Ridzki Kramadibrata. Ridzki mengaku prihatin atas peristiwa yang terjadi di Medan dan mendoakan kesembuhan bagi mereka yang terkena dampak dari peristiwa tersebut. “Sejak mengetahui informasi tersebut kami langsung berkoordinasi dengan pihak Kepolisian terkait untuk memberikan dukungan penuh dalam proses investigasi lebih lanjut,” ujarnya.

K for GAEKON

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here