BPS Ungkap Data Peningkatan Jumlah Pengangguran Dan Kemiskinan Ekstrem Di Jawa

0

BPS Ungkap Data Peningkatan Jumlah Pengangguran Dan Kemiskinan Ekstrem Di JawaGaekon.com – Jumlah pengangguran di Indonesia semakin mencemaskan. Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan peningkatan tingkat pengangguran berdasarkan data Februari 2021 terhadap Februari 2020.

Seperti yang dilansir GAEKON dari CNBC, peningkatan pengangguran tertinggi berdasarkan pendidikan terjadi pada jenjang pendidikan SMA/SMK. Di mana pada Februari 2021 jenjang SMA mencapai 8,55%, naik 1,86% poin dibandingkan pada posisi Februari 2020 yang mencapai 6,69%.

Sementara untuk pendidikan SMK, pada Februari 2021 mencapai 11,45%, naik 3,03% dibandingkan Februari 2020 yang mencapai 8,42%.

“Pengangguran pada usia muda lumayan tinggi. Kelompok muda ini, dari pendidikan SMA sangat tinggi,” ujar Kepala BPS Margo Yuwono.

Pengangguran usia 20-24 tahun pada Februari 2021 mencapai 17,66%, meningkat 3,36% poin (yoy) dibandingkan Februari 2020 yang mencapai 14,3%.

Sementara pada usia 25-29 tahun pada Februari 2021 mencapai 4,94%, meningkat 2,26% poin dibandingkan Februari 2020 yang mencapai 3,26%.

Margo mengatakan persentase penduduk miskin ekstrem di Indonesia juga perlu menjadi perhatian khusus pemerintah. Pasalnya, saat ini tingkat kemiskinan ekstrem pada 2021 diperkirakan akan meningkat dari 3,8% pada 2020 menjadi 4% pada 2021.

“Berdasarkan jumlah dan persentase penduduk miskin ekstrem menurut provinsi pada Maret 2021, jumlah penduduk miskin ekstrem tertinggi terdapat di Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah,” kata Margo.

Berdasarkan data BPS yang ditampilkan Margo, jumlah penduduk ekstrem di Jawa Barat mencapai 1,8 juta orang dengan persentase sebesar 3,6%.

Disusul oleh Jawa Timur dengan jumlah angka kemiskinan ekstrem sebanyak 1,7 juta orang dengan persentase sebanyak 4,4%, dan Jawa Tengah dengan angka kemiskinan ekstrem mencapai 1,5 juta dengan persentase mencapai 4,4%.

Margo menjelaskan, kemiskinan ekstrem adalah kemiskinan yang mengikuti standar global yang dibuat oleh Bank Dunia. Di mana Bank Dunia menggunakan estimasi konsumsi yang dikonversi ke dalam US$ Purchasing Power Parity (PPP).

Bank Dunia menetapkan dua set batasan kemiskinan internasional yaitu 1,90 US$ PPP sebagai batas extreme poverty dan 3,20 US$ PPP sebagai batas poverty.

Angka konversi PPP menunjukkan banyaknya rupiah yang dikeluarkan untuk membeli sejumlah kebutuhan barang dan jasa dengan jumlah yang sama, dibandingkan dengan barang dan jasa yang dapat dibeli dengan harga US$ 1.

Pada 2021 diperkirakan 1,9 US$ PPP setara dengan Rp 11.941,1. Hal tersebut berdasarkan estimasi konversi USD PPP pada 2017 yang digerakkan dengan perubahan IHK periode Maret 2017-Maret 2021. Di mana tahun 2017 1,9 US$ PPP setara dengan Rp 10.195,6 (berdasarkan data terakhir Bank Dunia).

D For GAEKON