Ternyata, ketika perkawinan berakhir dengan perceraian, rumah yang pernah ditinggali berdua pun dapat menjadi korban. Tempat yang pernah menjadi istana kebahagiaan suami dan istri, akhirnya harus dibongkar seiring hancurnya pernikahan.

Itulah yang terjadi dengan (mantan) pasangan suami istri SE dan SS. SE, perempuan asal Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, adalah seorang TKI di Malaysia selama 10 tahun terakhir.

Ketika kembali ke tanah air di penghujung 2019, SE mengajukan cerai kepada suaminya, SS, yang pada saat itu menolak permintaan tersebut. Namun karena si istri terus mendesak, akhirnya SS meminta ganti rugi biaya pembangunan rumah yang ditempati oleh si suami beserta anaknya yang duduk di kelas 6 SD, di Desa Tasikmadu, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek.

Namun, si istri hanya menyanggupi di angka 40 juta. Dua kali mediasi teryata tidak membawa kesepakatan. Si istri malah menyuruh suaminya untuk membongkar saja rumah tersebut apabila tetap menuntut uang ganti rugi.

Kesepakatan untuk membongkar rumah itulah yang akhirnya disetujui oleh kedua bilah pihak di atas selembar kertas peryataan bematerai 6000, pada 31 Desember 2019.

Kepala Desa Tasikmadu Wignyo Handoyo sebenarnya sempat melakukan mediasi lanjutan agar rumah tersebut tidak dibongkar karena bisa diwariskan pada anaknya. “Sudah saya bilang, jangan dibongkar. Masih ada anak dan hak waris bisa ke anak pasangan SS dan SE,” ujar Wignyo.

Namun usaha sang kepala desa gagal. SS tetap memulai pembongkaran rumah itu secara bertahap mulai 1 Januari 2020. Puncaknya, si suami mendatangkan satu unit alat berat jenis eskavator untuk merobohkan total rumah tersebut pada hari Jumat (3/1/2020).

Proses pembongkaran dengan alat berat sebenarnya tidak diizinkan karena di kawasan pemukiman penduduk. Sempat pula direkam dan disiarkan langsung lewat media sosial hingga menjadi viral.

W For GAEKON

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here