BUKAN AJANG CIUMAN MASSAL, INI FAKTA TRADISI OMED-OMEDAN DI BALI

0

Dari sekian banyak tradisi perayaan Hari Raya Nyepi, ada sebuah tradisi yang unik dan hanya ditemui di Bali saja, yaitu tradisi omed-omedan. Omed-omedan adalah upacara yang diadakan oleh pemuda-pemudi Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar Selatan. Omed-omedan diadakan setelah Hari Raya Nyepi, yakni pada hari ngembak geni untuk menyambut tahun baru Saka. Sudah pasti agenda upacara ini selalu dilakukan setiap tahunnya.

Omed-omedan sendiri berasal dari bahasa Bali yang artinya tarik-tarikan. Upacara ini sudah berlansung sejak lama dan dilestarikan secara turun temurun. Jadi dapat disimpulkan bahwa ritual ini saling peluk dan tarik-menarik secara bergantian antara dua kelompok pemuda – pemudi.

FAKTA TRADISI OMED – OMEDAN

  • Sebagai Wujud Tali Persaudaraan

Tradisi ini dilaksanakan sehari setelah Hari Raya Nyepi oleh anak muda di Banjar Kaja, Desa Pakraman Sesetan, Denpasar. Omed-omedan menjadi ajang menguatkan tali persaudaraan, terutama para pemuda dan pemudi di Bali. Misalnya saja ada yang sekolah atau bekerja di luar Bali bahkan luar negeri, sehingga ketika pulang saat Nyepi bisa bersilaturahmi dengan yang lain.

  • Pemuda – Pemudi Yang Mengikuti Harus Masih Single

Untuk melakukan prosesi ini sendiri tidaklah sembarangan. Dalam tradisi ini melibatkan sekaa teruna teruni atau pemuda-pemudi berusia dari 17-30 tahun, dan masih single atau belum menikah.

  • Bukan Hanya Asal Cium

Ketika pasangan pemuda – pemudi saling bertemu dan berpelukan erat, ada kalanya mereka akan saling beradu pipi, kening, dan bahkan bibir. Masyarakat awam dari luar banyak yang menyalahartikan hal ini sebagai saling berciuman. Ritual omed-omedan pun secara salah kaprah mendapat sebutan ritual ciuman massal dari Desa Sesetan.

Tuduhan tersebut menurut masyarakat kurang tepat. Karena pasangan pemuda-pemudi ini saling bertemu dalam tempo yang singkat dan kondisi yang ricuh. Meskipun peluang itu ada dan peserta menghendaki hal tersebut, tetapi kondisi yang keos tidak akan memungkinkan para pesertanya untuk menikmati momen tersebut.

  • Didahului Dengan Upacara Persembahyangan

Dalam tradisi ini, para pemuda – pemudi setempat dikelompokkan menjadi dua grup, yaitu grup pria (teruna) dan grup wanita (teruni). Sebelum ritual dimulai, seluruh peserta mengikuti upacara persembahyangan bersama di Pura Banjar. Melalui persembahyangan bersama ini, para peserta memohon kebersihan hati dan kelancaran dalam pelaksanaan ritual omed-omedan. Setelah ritual sembahyang, kemudian ditampilkan pertunjukan tari barong bangkung (barong babi) yang dimaksudkan untuk mengingat kembali peristiwa beradunya sepasang babi hutan di desa ini.

Setelah sembahyang, mereka menuju pelataran Pura, berdiri berhadap-hadapan, sambil menunggu aba-aba mulai dari sesepuh desa, yang diiringi permainan gamelan.

  • Basah Kuyup

Kedua kelompok yang sudah berbaris berhadap-hadapan dipandu oleh para polisi adat (pecalang). Kemudian, secara bergantian dipilih seorang dari masing-masing kelompok untuk diangkat dan diarak pada posisi paling depan barisan.

Kedua kelompok ini kemudian saling beradu dan kedua muda-mudi yang diposisikan paling depan harus saling berpelukan satu sama lain. Saat keduanya saling berpelukan, masing-masing kelompok akan menarik kedua rekannya tersebut hingga terlepas satu sama lain. Jika kedua muda-mudi ini tidak juga dapat dilepaskan, panitia akan menyiram mereka dengan air hingga basah kuyup.

Keseruan perayaan pergantian tahun baru Saka akan semakin meriah dan hangat. Para penonton pun tidak luput kena siraman air dari panitia omed-omedan.

  • Akan Mengalami Hal Buruk Jika Tidak Digelar

Dalam prosesi ini terlihat luapan kebahagiaan serta kemeriahan, bahkan banyak dari peserta yang kesurupan (trance). Tradisi ini adalah warisan leluhur yang sudah berlangsung dari ratusan tahun lalu dan diyakini warga memiliki nilai sakral dan akan mengalami hal-hal buruk jika tidak digelar.

  • Tradisi Ini Pernah Ditiadakan

Tradisi ini pernah ditiadakan sebelumnya. Tetapi, tiba-tiba di tengah desa muncul dua ekor babi hutan yang saling bertarung. Masyarakat Desa Sesetan menganggap hal tersebut sebagai pertanda buruk. Melihat pertanda ini, sesepuh desa pun segera memanggil kembali para pemuda – pemudi untuk berkumpul dan menyelenggarakan omed-omedan seperti biasa. Setelah kejadian itu, tradisi ini terus diadakan secara rutin sebagai upaya agar desa terhindar dari malapetaka.

  • Sebagai Festival Warisan Budaya Tahunan

Di masa lalu, masyarakat Sesetan hanya memandang tradisi omed-omedan sebagai bagian dari wujud masima krama atau dharma shanti (menjalin silaturahmi) antar sesama warga. Seiring perjalanan waktu, tradisi ini ternyata menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.

Menyadari hal ini, masyarakat setempat kemudian mengemas tradisi omed-omedan sebagai sebuah festival warisan budaya tahunan dengan tajuk Omed-Omedan Cultural Heritage Festival yang juga dimeriahkan dengan bazzar dan panggung pertunjukan.

Dari tahun ke tahun, pengunjung festival ini terus meningkat, terlebih lagi dari kalangan penggemar fotografi yang saling berkompetisi untuk mengabadikan momentum langka tersebut sebagai objek eksplorasi mereka.

KL For GAEKON