Damien Tarel, Pria Penampar Presiden Prancis Emmanuel Macron Dibui 4 Bulan

0

Damien Tarel, Pria Penampar Presiden Prancis Emmanuel Macron Dibui 4 BulanGaekon.com – Seorang pria penampar wajah Presiden Prancis Emmanuel Macron, Damien Tarel dihukum penjara selama 4 bulan.

Seperti yang dilansir GAEKON dari Kumparan, Pengadilan telah memutuskan hukuman Damien Tarel pada Kamis (10/6). Awalnya, pengadilan memberi Tarel hukuman 18 bulan penjara. Tetapi 14 dari bulan itu akhirnya ditangguhkan. Menurut keputusan, ia akan menjalani hukuman penjara selama 4 bulan.

Sebelumnya, Tarel menampar Macron pada Selasa (8/6) ketika presiden Prancis itu sedang melakukan kunjungan sosial di Desa Tain-L’Hermitage di wilayah Domre, Prancis.

Insiden Tarel menampar Macron itu terekam video dan viral di media sosial. Dalam video yang viral itu terlihat Macron sedang mengenakan kemeja lengan dan dasi. Ia berjalan menuju kerumunan simpatisan yang menonton kedatangannya di balik pembatas.

Macron kemudian mengulurkan tangannya, untuk menyambut Tarel yang memakai kaus hijau, kacamata, dan masker.

Namun saat itu Tarel justru berteriak “Turunkan si Macronie!” (“A Bas La Macronie”) dan ‘Montjoie, Saint-Denis’, yakni seruan perang Kerajaan Prancis lama yang merupakan motto Raja Charlemagne, lalu menampar wajah Macron.

“Itu adalah slogan patriotis,” kata Tarel di pengadilan.

Kepada pengadilan di Valence di Prancis selatan, Tarel mengaku dia menampar Macron karena presiden itu mendukung semua hal busuk di Prancis.

Tarel juga mengaku bahwa ia awalnya berniat melemparkan telur atau krim tart ke Macron, beberapa hari menjelang kunjungannya ke Drome. Namun ia berujung menampar Macron, yang semula bukan bagian dari rencananya.

Kepada penyelidik polisi, ia mengaku dekat dengan gerakan protes anti-pemerintah ‘Rompi Kuning’ yang mengecam kepresidenan Macron, dan memegang keyakinan politik Sayap Kanan.

Macron sendiri mendeskripsikan serangan itu sebagai insiden yang langka, serta menambahkan bahwa kekerasan dan kebencian merupakan ancaman bagi demokrasi.

Tarel ditangkap bersama dengan pria lain yang satu kampung halaman dengannya di Saint-Vallier. Meski tak ikut menampar Macron, ia ikut diselidiki polisi karena mendampingi Tarel.

Dari hasil penyelidikan, polisi menemukan senjata di rumah pria itu. Adapun salinan manifesto otobiografi Adolf Hitler Mein Kampf, serta bendera merah dengan palu dan arit emas yang merupakan simbol gerakan komunis.

Tarel tidak akan dihukum dengan tuduhan apa pun terkait dengan penamparan Macron. Tetapi ia akan dituntut karena kepemilikan senjata secara ilegal pada 2022.

Tarel didakwa dengan tuduhan penyerangan terhadap pejabat publik. Hukuman dari pelanggaran ini yakni maksimum tiga tahun penjara dan denda 45.000 Euro atau setara Rp 780 juta.

D For GAEKON