Peristiwa Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di negara bagian New South Wales dan Victoria, Australia, telah memaksa Pemerintah Australia untuk menambah dana sebesar 2 miliar dollar Australia atau sekitar 19 triliun rupiah.

“Kebakaran api masih menyala dan kemungkinan masih akan terjadi selama beberapa bulan. Untuk itu kami menambah anggaran penanganan kebakaran hutan,” ungkap Scott Morrison, Perdana Menteri Australia.

Dana tambahan ini akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur dan kota-kota yang hancur akibat lalapan api. Korban tewas tercatat 25 orang, sementara kerugian lain berupa 2.000 rumah hancur, dan sepertiga jumlah koala tewas menjadi korban karhutla sampai awal 2020.

Di New South Wales, masih ada lebih dari 135 kebakaran, 70 diantaranya masih sulit dikendalikan oleh tim pemadam. Hujan pada Senin (6/1/2020) tidak banyak berpengaruh, malah membuat tim menjadi semakin kesulitan karena kabut asap yang dihasilkan.

Asap dari karhutla ini membuat awan terlihat kemerahan, dan sudah bergerak mendekati Argentina dan Chile setelah melewati Samudera Pasifik. Badan meteorologi di kedua negara tersebut terus memantau pergerakan awan karhutla secara terus-menerus.

Kepala Badan Meteorologi Chile, Patricio Urra, menyatakan bahwa awan asap itu terletak pada ketinggian 6,000 meter di atas permukaan laut. Tetapi bukan sesuatu yang mengancam warga Chile sebab diperkirakan awan tersebut tidak bakal turun kembali.

“Dampak yang bisa kita lihat adalah cahaya matahari terlihat kemerahan. Hal ini hanya terjadi jika cahaya matahari terhalang asap akibat kebakaran hutan,” kata Urra.

Karhutla merupakan fenomena musiman di Australia seperti banjir di Indonesia. Lazimnya terjadi ketika memasuki musim panas. Kebakaran hutan tahun ini diprediksi akan berlangsung hingga bulan Maret 2020.

Dampak karhutla tahun ini lebih membahayakan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tidak hanya mengancam jiwa, tetapi juga keberadaan satwa dan ekosistem lingkungan di daerah yang mengalami kebakaran.

Perdana Menteri Morisson sempat dikecam karena pemerintahnya dianggap lamban dan tidak sanggup untuk mencegah kebakaran hutan efek dari perubahan iklim. Morisson juga dikritik karena kebijakannya mempertahankan industi tambang batu bara yang tidak ramah lingkungan.

W For GAEKON

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here