Indonesia masih mengalami pasang surut prestasi dalam pentas olahraga internasional. Sebagai salah satu negara dengan penduduk terbanyak di dunia (no.4 setelah China, India, dan Amerika Serikat), kelihatannya pemerintah masih belum mempunyai formula yang tepat untuk dapat menemukan bibt unggul calon atlet.

Bulutangkis merupakan satu-satunya cabang olahraga ( cabor ) yang dapat mengangkat nama Indonesia di mata dunia. Sepak bola yang merupakan olahraga favorit di negara kita, tidak cukup lantang untuk bersuara dan memberikan sesuatu prestasi yang dapat dibanggakan.

Apa yang salah? Apakah pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga gagal dalam melaksanakan tugasnya untuk mencari, membina dan menghasilkan atlet yang berprestasi?

Kemenpora belum menjadi sebuah kementrian yang terolah dengan baik. Banyak di rundung oleh masalah korupsi dan praktik memperkaya diri sendiri, seperti yang ditunjukkan mentri pendahulu seperti Roy Suryo yang menjarah 3.266 aset negara, Andi Mallarangeng dan Imam Nahrawi yang tersandung kasus korupsi.

Bagaimana masyrakat bisa mengharapkan kemajuan yang signifikan dalam prestasi olahraga Indonesia, bila para petingginya lebih sibuk memikirkan dompet mereka sendiri dibanding kesejahteraan para atlet.

Dan kejadian yang menimpa atlet senam artistik proyeksi SEA Games belum lama ini, seharusnya bisa menjadi warning bagi Pemerintah dan Jokowi sebagai Presiden, untuk lebih memperhatikan sektor olahraga sebagai salah satu sarana untuk membawa nama Indonesia di dunia internasional.

Tersebutlah SAS, yang harus menerima kenyataan pahit bahwa dia tidak hanya gagal membela merah putih, tetapi juga harus dipermalukan oleh jajaran pelatih yang harusnya membimbing dan mengarahkan para atletnya untuk mencapai prestasi terbaik.

Dan betapa absurdnya penyebab ini semua. Sangat tidak masuk logika dan sulit diterima akal sehat. Penyebab sang atlet dipulangkan, sama sekali tidak berhubungan dengan prestasi ataupun cedera. Tetapi hanya karena dicurigai bahwa sang atlet sudah tidak perawan lagi.

Ya benar. Hanya karena dicuragi bahwa sang atlet sudah TIDAK PERAWAN lagi.

Dimana hubungan antara keperawanan dan prestasi? Sang atlet sendiri telah membuktikan bahwa dia layak untuk menjadi atlet nasional. Pencapaian prestasi selama ini cukup menjadi bukti bahwa yang bersangkutan bukan atlet karbitan.

Akibatnya sang atlet merasa depresi dan mengucilkan diri karena malu pada lingkungan sekitar. Serta kehilangan hasrat untuk meneruskan cita-citanya menjadi atlet senam.

Ada indikasi bahwa hal semacam ini adalah bentuk diskriminasi terselubung. Tentunya Jonathan Sianturi, sang legenda senam Indonesia, tidak pernah dipertanyakan masalah keperjakaannya, atau hal lain mengenai daerah selangkangan dan sekitarnya, ketika menjadi atlet nasional.

Ancaman diskriminasi gender kepada para atlet putri/wanita, bila dibiarkan, akan semakin memperparah perkembangan olahraga negara kita. Akan menjadi momok yang menghantui para atlet wanita di setiap cabor.

Belum lagi bila pelatih cabor yang lain ikutan latah menuntut tes keperawanan bagi para atlet wanita mereka, dengan ancaman dikeluarkan dari pelatnas atau pemusatan pelatihan.

Jadinya para atlet wanita ini harus menghadapi tantangan baru. Sudah capek terkuras secara fisik dan mental ketika berlatih dan bertanding, masih harus memikirkan ancaman diskriminatif yang mengancam eksistensi mereka sebagai atlet nasional.

Mungkin arwah RA Kartini hanya bisa menepok jidatnya di alam sana, melihat bagaimana para atlet wanita ini mengalami diskriminasi. Bukannya mereka dipupuk dan dibina agar mekar dengan sempurna dan mengharumkan nama Indonesia, malah harus dibuat layu sebelum berkembang.

Semoga kejadian seperti ini tidak terulang di masa depan olahraga Indonesia, dan pemerintah benar-benar serius untuk membikin program yang dapat mengangkat nama Indonesia berkibar di ajang internasional, serta dapat lebih menyejahterakan para atlet.

W for GAEKON

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here