Merasa Terancam, Guntur Romli Laporkan Guru Besar UGM Prof Karna Wijaya Ke Polda Metro Jaya

0

Merasa Terancam, Guntur Romli Laporkan Guru Besar UGM Prof Karna Wijaya Ke Polda Metro JayaGaekon.com – Kader PSI, Guntur Romli melaporkan Dosen sekaligus guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Karna Wijaya ke Polda Metro Jaya atas tuduhan pengancaman di media sosial.

Melansir dari Detik, Laporan Guntur Romli terhadap Prof Karna Wijaya ini teregistrasi dengan nomor: LP/B/1983/V/2022/SPKT/POLDA METRO JAYA. Dalam laporan tersebut, Guntur Romli melaporkan Karna Wijaya atas tuduhan Pasal 160 KUHP, Pasal 28 dan 29 UU ITE.

Guntur Romli Merasa Terancam, Seolah Menjadi Target Selanjutnya

Guntur merasa terancam atas postingan Karna Wijaya itu. Menurut pengakuannya, Karna Wijaya menampilkan foto dirinya dan istrinya seolah menjadi target selanjutnya seperti Ade Armando.

“Hari ini melaporkan pemilik Facebook yang terduga atas nama Karna Wijaya dosen guru besar UGM. Saya merasa diancam dan dihasut karena ada postingan dia di Facebook yang memuat foto saya dan istri saya yang isinya itu ‘satu per satu dicicil massa’,” kata Guntur Romli di Polda Metro Jaya, Senin (18/4).

Guntur Romli kemudian menanggapi pernyataan Karna Wijaya soal ‘disembelih’ pada kolom komentar postingan di media sosial hanya bercanda. Guntur menilai bercandaan Prof Karna Wijaya ini tidak lucu.

“Kita dengar Karna Wijaya sudah dipanggil rektorat dan dia mengaku postingan dia buat tapi tujuan dia bilang bercanda. Bagi saya itu candaan nggak lucu kalau pakai bedil, disembelih, dan dicicil massa sudah nggak lucu,” tutur Guntur.

Guntur bahkan menyebut Karna Wijaya terlibat dalam gerakan intoleran dan radikal. Dugaannya itu mengacu pada sebuah postingan di media sosial. Karna Wijaya, kata Guntur Romli, dituliskan dalam postingan itu terlibat dalam pengkaderan organisasi Negara Islam Indonesia (NII).

“Itu ada tulisan di Facebook yang saya baca tapi ini baru dugaan ya bahwa ada pengkaderan NII di fakultas kimia di situ. Tapi itu baru dugaan-dugaan saya karena saya anggap ini orang bukan dosen biasa,” katanya.

Tak hanya Guntur, ada juga foto Deni Siregar hingga Ade Armando dalam postingan tersebut. Bahkan, pada gambar wajah Ade Armando diberi tanda silang yang dinilainya sebagai sebuah pengancaman.

“Jadi artinya kalau saya pahami ini kan kayak target mau dihakimi seperti Ade Armando selanjutnya. Itu juga diperkuat komentar yang dilakukan oleh Karna Wijaya dengan kata-kata disembelih dan dibedil. Itu saya lihat ancaman yang serius,” katanya.

Karna Wijaya sebelumnya mengaku dirinyalah yang mengunggah postingan terkait Ade Armando dan menyatakan komentarnya itu hanya sebatas guyonan.

“Saya memposting sesuatu yang sebenarnya hanya gojekan, gojekan (guyonan-red) sangat biasa sekali. Bahkan mungkin statement-statement yang dibuat katakanlah Ade Armando dan sebagainya itu lebih sadis ya. Tapi ini kan hanya sebuah gojekan saja terhadap kejadian seperti itu,” kata Karna.

Karna Wijaya kemudian mengatakan ada pihak lain yang mengedit postingan itu seakan-akan untuk mengomentari Ade Armando. Postingan itu kemudian diunggah di grup Facebook Kagama oleh orang tanpa sepengetahuannya.

“Saya, kata ‘sembelih’ itu juga tidak pada Ade Armando, pada konteks lain yang diambil orang itu diedit dan masukkan satu frame bahwa saya melakukan ujaran kebencian. Padahal hanya guyonan saja dan pemilihan diksinya,” imbuhnya.

Karna Wijaya kemudian meminta maaf karena telah menimbulkan kegaduhan atas pernyataannya itu.

D For GAEKON