Gunung Ile Lewotolok Erupsi Besar, Anak-anak Berlarian Ketakutan

0

Gunung Ile Lewotolok Erupsi Besar, Anak-anak Berlarian KetakutanGaekon.com – Sebuah video yang merekam suasana mencekam saat Gunung Ile Lewotolok di Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) erupsi besar pada Minggu pagi (29/11/2020) membuat merinding. Tampak dalam video, warga dan anak-anak berlarian untuk menyelamatkan nyawa.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaporkan, hujan abu dan kerikil mengguyur sebagian wilayah Kabupaten Lembata akibat erupsi kali ini.

Sebagian warga membawa serta barang-barang berharga dari rumah mereka. Anak-anak tampak berlari ketakutan, sambil melihat awan panas yang membumbung ke langit.

Kasubbid Mitigasi Gunung api Wilayah Timur ESDM, Devy Kamil Syahbana mengatakan, erupsi kali ini ketinggiannya mencapai 4.000 meter di atas puncak, lebih tinggi dari erupsi sebelumnya yang terjadi pada Jumat.

“Untuk saat ini ancaman bahaya utamanya berupa jatuhan material vulkanik, mulai dari ukuran kerikil hingga abu. Untuk itu saya mengimbau masyarakat untuk menggunakan masker dan sementara waktu keluar dari radius bahaya,” kata Devy.

Sebelumnya pada Jumat (27/11/2020), Gunung Ili Lewotolok erupsi dengan tinggi kolom abu teramati ± 500 meter di atas puncak (± 1.923 meter di atas permukaan laut.

“Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dan durasi ± 2 menit,” kata Devy menjelaskan.

Gunung Ili Lewotolok atau Ile Ape adalah jenis gunung berapi stratovolcano yang terletak di bagian utara Pulau Lembata, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Gunung berketinggian 1.423 mdpl ini sejak 7 Oktober 2017 lalu dinaikkan statusnya menjadi waspada karena ada peningkatan kegempaan yang berasosiasi dengan pergerakan magma, yaitu gempa Tektonik Lokal (TL), Vulkanik Dalam (VA) dan Vulkanik Dangkal (VB).

Namun, setelah meningkat signifikan, erupsi tidak terjadi karena tekanannya belum cukup.

“Nah, seiring waktu tekanannya terus terakumulasi dan sekarang sudah cukup untuk erupsi,” katanya menjelaskan.

Sejarah letusan Gunung Lewotolok tercatat sejak tahun 1660 kemudian tahun 1819, dan 1849. Selanjutnya pada tahun 1939 dan 1951 terjadi kenaikan aktivitas vulkanik Gunung Lewotolok.

Letusan Gunung Lewotolok yaitu berupa lontaran lava pijar, abu, awan panas dan embusan gas beracun. Gunung api ini sempat mengalami masa krisis gempa pada Januari 2012.

Saat itu PVMBG meningkatkan status gunung dari normal ke waspada hingga siaga, hanya dalam waktu kurang dari satu bulan.

Namun, pada 25 Januari 2012 pukul 16.00 WITA, PVMBG menurunkan statusnya dari siaga ke waspada dan turun lagi menjadi berstatus normal pada 17 Oktober 2013 pukul 10.00 WITA.

K For GAEKON