Jakarta – Keberadaan Keraton Agung Sejagat yan viral di media sosial membuat pihak berwenang turun tangan. Kepolisian, TNI hingga Pemkab Purworejo Jawa Tengah turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan fakta.

Wakapolres Purworejo Kompol Andis Arfan Tofani saat ini tengah berupaya mengklarifikasi isu tersebut. “Kami mengetahui informasi tersebut, namun tindak lanjut belum bisa sampai langkah hukum dan kita akan bareng-bareng melakukan klarifikasi,” kata Andis Senin 13 Januari 2020.

Kehebohan bermula ketika viral video rekaman wilujengan kirab budaya keraton itu pada Jumat 10 Januari hingga Minggu 12 Januari lalu. Keraton Agung Sejagat berada di Desa Pogung Jurutengah Kecamatan Bacan Purworejo.

“Kami memang sudah komunikasi dengan camat dan kades setempat tentang hal tersebut dan mereka akan lapor bupati lebih dulu,” lanjutnya.

Dari pantauan lapangan, keraton itu ditandai bangunan semacam pendopo yang tengah dibangun. Di sebelah utara, ada kolam sendang yang disakralkan pengikut keraton.

Di lokasi juga ditemukan batu yang diklaim sebagai prasati bertuliskan aksara Jawa. Prasasti yang di dalamnya tertera simbol dua telapak kaki itu disebut Prasasti I Bumi Mataram.

Pengikut keraton berjumlah sekitar 450 orang. Keraton ini dipimpin oleh Toto Santosa Hadiningrat yang dipanggil Sinuwun. Sementara itu istrinya Dyah Gitarja dipanggil Kanjeng Ratu.

Penasihat Keraton Agung Sejagat, Resi Joyodiningrat kepada GAEKON menampik bahwa keratonnya adalah format baru aliran sesat seperti kehawatiran masyarakat sekitar. Melainkan, kerajaan yang muncul karena berakhirnya perjanjian 500 tahun yang lalu. Yaitu sejak hilangnya imperium Majapahit 1518 – 2018.

Joyodiningrat mengklaim bahwa perjanjian itu dilakukan Dyah Ranawijaya sebagai penguasa Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang barat atau bekas koloni Kekaisaran Romawi di Malaka tahun 1518.

Dengan berakhirnya perjanjian tersebut, maka berakhir pula dominasi kekuasaan barat–didominasi Amerika Serikat– yang mengontrol dunia setelah Perang Dunia II dan kekuasaan tertinggi harus dikembalikan ke pemiliknya, yaitu Keraton Agung Sejagat sebagai penerus Medang Majapahit yang merupakan Dinasti Sanjaya dan Syailendra.

K For GAEKON

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here