Heru Dan Benny Sanggupi Pengembalian Rp 10,9 Triliun Aset Asabri

0

Jakarta – Dirut PT Asabri Sonny Widjaja mengklaim telah melakukan penagihan terhadap Heru Hidayat dan Benny Tjokro. Dua orang itupun bertanggungjawab atas hilangnya aset Asabri senilai Rp 10,9 triliun.

Baca juga : BPK Mulai Periksa Investigatif Asabri

“Semalam, keduanya sudah menyanggupi untuk memenuhi (penagihan). Kami sudah komitmen atas penurunan aset ini harus dipulihkan,” ujar Sonny dalam rapat dengar pendapat di Komisi IX DPR, Rabu, 29 Januari 2020.

Benny akan membayar utang senilai Rp 5,1 triliun. Sementara Heru bakal membayar Rp 5,8 triliun. Untuk diketahui, Benny adalah Direktur Utama PT Hanson International Tbk. Sedangkan Heru merupakan Presiden Komisaris PT Trada Adalam Minera Tbk.

Asabri mengambil langkah untuk meminta pertanyaan kesanggupan Heru dan Benny untuk memenuhi tanggung jawabnya. Selain melakukan upaya penagihan, Asabri tengah merancang sejumlah langkah untuk memulihkan kondisi keuangan perusahaan yang doyong.

Direktur Investasi dan Keuangan Asabri Rony Hanityo Apriyanto mengatakan langkah pertama ialah melakukan pemetaan aset yang bermasalah dan mengubah gaya investasi dari risk profile ke moderate.

Selanjutnya, Asabri juga akan meminta pertanggung jawaban kepada manajer investasi atas kinerjanya yang buruk alias underperform.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), harga saham-saham yang menjadi portofolio Asabri berguguran, bahkan penurunannya mencapai lebih dari 90 persen sepanjang tahun lalu. Total ada 14 saham emiten yang dikoleksi perseroan. Penurunan harga saham drastis itu di antaranya terjadi pada saham PT SMR Utama Tbk (SMRU) sebesar 92,31 persen ke posisi Rp 50, dimana perseroan memiliki porsi saham 6,61 persen.

Sejumlah saham lainnya yang dikoleksi dan mengalami penurunan adalah PT Alfa Energi Investama Tbk (FIRE), PT Inti Agri Resources Tbk (IIKP), PT Hanson International Tbk (MYRX), dan PT Pool Advista Finance Tbk (POOL).

Kerugian akibat investasi yang dialami Asabri ini serupa dengan yang dialami oleh PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebelumnya mengungkapkan dugaan kelalaian dalam berinvestasi yang dilakukan manajemen Jiwasraya, dengan mengoleksi saham-saham lapis kedua (second liner) yang berkinerja rendah dan berisiko tinggi.

Kerugian negara akibat penyimpangan itu pun ditaksir mencapai Rp 13,7 triliun. Adapun beberapa saham second liners yang dimiliki Asabri itu serupa dengan portofolio Jiwasraya, seperti MYRX, IIKP, dan SMRU

K For GAEKON