Ini Nasib Napi Bila Gaekoner Jadi Seorang Menkumham

0

GAEKON.COM – Seorang Gaekoner adalah seseorang yang berkepala dingin, congkak, angkuh, sombong, dan bangga. Seorang Gaekoner kerap kali di jauhi oleh teman-temannya, di anggap aneh orang sekitarnya, sering disalahartikan dan tidak dimanfaatkan. “Ga papalah, percuma di jelasin mereka juga ga mau dengar”, begitu respon enteng seorang Gaekoner.

Tapi jelek-jelek begitu Gaekoner diam-diam adalah pribadi yang visioner dan progresif (semoga). Kalau jabatan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) diemban oleh Gaekoner, masalah jumlah narapidana dan lapas yang overcapacity bisa menemui jalan keluar.

Sebagai gambaran, kita simak dulu Tupoksi Menkumham NKRI sebagai berikut:

1. perumusan, penetapan dan pelaksanaan kebijakan di bidang peraturan perundang-undangan, administrasi hukum umum, pemasyarakatan, keimigrasian, kekayaan intelektual, dan hak asasi manusia;

2. koordinasi pelaksanaan tugas, pembinaan, dan pemberian dukungan administrasi kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

3. pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggung jawab Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

4. pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia;

5. pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia di daerah;

6. pelaksanaan pembinaan hukum nasional;

7. pelaksanaan penelitian dan pengembangan di bidang hukum dan hak asasi manusia;

8. pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia di bidang hukum dan hak asasi manusia;

9. pelaksanaan kegiatan teknis yang berskala nasional;

10. pelaksanaan kegiatan teknis dari pusat sampai ke daerah; dan

11. pelaksanaan dukungan yang bersifat substantif kepada seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Poin-poin diatas tentu jadi hal yang luar biasa rumit bila dibaca oleh rakyat jelata, miskin pengetahuan dan miskin kearifan. Karena pada hakikatnya, hukum adalah persetujuan yang di buat oleh manusia berdasarkan hal-hal yang telah disepakati bersama. Sedangkan Hak Asasi Manusia adalah sebuah konsep hukum dan normatif yang menyatakan bahwa manusia memiliki hak yang melekat pada dirinya karena dia adalah manusia.

Sebelas tupoksi itu kini diemban oleh Menkumham RI yang saat ini dijabat oleh Yasonna Laoly. Baru-baru ini, Pak Yasonna memancing kegaduhan lagi dengan langkah pembebasan narapidana di tengah pandemi corona.

Pertimbangan Pak Yasonna adalah kondisi penjara yang overcrowded. Terlalu penuh melebihi kapasitas. Di beberapa tempat ada yang malah overcapacity sampai 500 persen.

Kenapa bisa sampai segitu parah penuhnya? Pak Yasonna bilang itu karena ketidakrapian mekanisme. Kasus ecek-ecek seperti pengguna narkotika (seharusnya masuk panti rehabilitasi) malah harus masuk penjara. Belum lagi para pencuri ayam, pakaian dalam perempuan, maling nominal ratusan ribu rupiah, judi kecil-kecilan, sabung ayam, dll.

Ikhwal itulah yang bikin Pak Yasonna membebaskan 30,000 orang narapidana kembali ke masyarakat lewat jalur asimilasi dan integrasi. Entah beliau mendapatkan ide dari negara-negara lain atau dihimbau oleh Komnasham dari PBB.

Terobosan Gaekoner

Seorang Gaekoner bilang, mengapa tidak ada penerapan kerja sosial bagi mereka yang berstatus narapidana tindak pidana ringan. Wong ya Singapura, Amerika Serikat sudah memberikan contoh seperti itu buat mengurangi overcapacity penjara.

Alih-alih cuma duduk leyeh-leyeh, main gaple, jadi kaum rebahan yang dijamin makan minum dan dan sebagainya di penjara. Bukankah alangkah lebih baiknya bila mereka dikaryakan supaya produktif dan tidak menghabiskan APBN. Atau kalau pembangunan penjara memang sangat mahal kenapa tidak di lempar ke sektor private saja?

Gaekoner menganggap para kriminal ecek-ecek itu kok ya lebih baik dijadikan tenaga kerja di proyek infrastruktur pemerintah. Tentu langkah ini bisa menekan anggaran belanja pegawai proyek. Ujungnya, negara jadi hemat duit dan plusnya tak perlulah ngutang besar-besar lagi.

Hal itu juga toh sebenarnya mendukung langkah Pak Yasonna. Dengan mereka bekerja di proyek pemerintah, penjara jadi berkurang penghuninya. Tak hanya itu banyak variasi kerja, kerja, kerja yang bisa jadi pilihan program menjalani hukuman.

Selain itu, ini nih, Gaekoner coba ngasih berbagai opsi format kerja sosial yang bisa Pak Yasonna terapkan:

– Jadi buruh pabrik untuk membuat masker kain. Bantu PT Sritex dsb.
– Jadi tenaga kebersihan. Bisa diperkerjakan di fasilitas umum atau tempat wisata.
– Jadi pengurus rumah ibadah. Tak hanya produktif tapi bikin dia ingat dosa-dosanya ke Tuhan Yang Maha Kuasa.
– Kerja bakti tiap minggu. Enak kan kalau kerja bakti diwakilkan ke mereka. Anda bisa quality time bersama keluarga di rumah.
– Dst

Intinya kasih pekerjaan yang tidak berat, tidak susah, dan tidak banyak biaya buat mereka. Opsi kerja sosial ini toh ya tidak melanggar Ham, tidak melanggar hukum, tidak menghabiskan uang rakyat. Tapi poin pentingnya mereka tetap harus diawasi, kalau nggak ya kabur dong mereka.

Simpel saja Pak Yasonna, Gaekoner punya gagasan begitu supaya menghindari anekdot “Ngapain repot-repot hidup, saya mencuri saja lah, biar makan, minum, tidur dijamin negara” tidak jadi kenyataan

S For GAEKON