Ini Profil Anggota DPRD Bantul, Dibalik Gegernya Makamkan Pasien Covid-19 Bagai Kuburkan Anjing

0

Ini Profil Anggota DPRD Bantul, Dibalik Gegernya Makamkan Pasien Covid-19 Bagai Kuburkan AnjingGaekon.com – Potongan video 30 detik membuat anggota DPRD Bantul, Drs Supriyono, MSi viral di media sosial. Pasalnya, Anggota DPRD Bantul dari Partai Bulan Bintang (PBB) itu berpidato menyebut proses pemakaman pasien Covid-19 di daerahnya bagai menguburkan seekor anjing.

Seperti yang dilansir GAEKON dari Kumparan, buntut dari pernyataannya, membuat massa yang mengatasnamakan relawan pemakaman pasien Covid-19 menggeruduk gedung DPRD Bantul pada Senin (22/2).

Saat dihubungi jurnalis, Supriyono mengaku sedang mengikuti sebuah acara penting di Purworejo, sehingga ia tidak ada di kantor.

Para relawan yang memprotesnya memberi ia tenggat 1×24 jam untuk minta maaf. Jika tidak memenuhi tuntutan tersebut, maka perkara akan berlanjut ke jalur hukum.

Ini Profil Anggota DPRD Bantul, Dibalik Gegernya Makamkan Pasien Covid-19 Bagai Kuburkan AnjingSupriyono merupakan Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai Bulan Bintang (PBB) Daerah Istimewa Yogyakarta. Supriyono memiliki latar belakang sebagai guru aparatur sipil negara (ASN). Namun, belum ditemukan informasi di mana Supriyono pernah mengajar.

Sebelumnya ia pernah menjabat sebagai Ketua Pimpinan Cabang Partai Bulan Bintang Kabupaten Bantul. Pada tahun 2019, Supriyono mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Bantul dari dapil 4.

Pada tahun 2013, ia memutuskan terjun ke politik dan keluar sebagai guru untuk bergabung dengan PBB. Supriyanto kemudian terpilih menjadi anggota DPRD Bantul periode 2013-2019.

Pada 2019, ia mencalokan lagi dan kembali terpilih dengan perolehan 14.300 suara untuk DPRD Bantul periode 2019-2024. Pada tahun 2020, Supriyono sempat mengambil formulir untuk mencalonkan sebagai Bupati Bantul.

Sebelumnya, Supriyono menyebut bahwa pemakaman Covid-19 adalah proyek semata. Ia juga mengatakan pemakaman pasien Covid-19 seperti memakamkan kirik atau anjing.

Mati lan urip iku kagungane Gusti, ora opo-opo di-COVID-ke opo-opo di-COVID-ke. Bar operasi kanker payudara, penyakit gula, mulih di-COVID-ke. Njur le mendem kaya mendem kirik … seko dinas kesehatan entuk proyek do sakpenake dewe (hidup dan mati itu milik Tuhan, jangan apa-apa di-COVID-kan, apa-apa di-COVID-kan. Habis operasi kanker payudara, penyakit gula, pulang di-COVID-kan. Lalu nguburnya seperti mengubur anjing. Dari Dinas Kesehatan dapat proyek semaunya sendiri,” katanya dalam video tersebut.

Akhirnya para relawan pemakaman Covid-19 di Daerah Istimewa Yogyakarta menggeruduk kantor DPRD Bantul. Mereka membawa peti mati dan menyemprotkan disinfektan sebagai simbol kekecewaan.

Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kabupaten Bantul, Waljito, dalam orasinya menjelaskan bahwa kehadiran para relawan ini untuk meminta penjelasan dari Supriyono. Pasalnya selama ini relawan sudah memakamkan pasien Covid-19 dengan baik.

“Kita memanggil dan meminta klarifikasi. Karena ini membentuk opini tidak baik,” kata Waljito.

Waljito menjelaskan bahwa siapa pun jangan meremehkan tugas relawan. Pasalnya mereka telah meluangkan waktu untuk mengabdi pada kemanusiaan.

“Marilah kita sama-sama tunjukkan kita relawan santun, tidak seperti Supriyono,” kata Waljito.

D For GAEKON