JANGAN BIARKAN SAKIT ! AWASI ANAK SAAT MUSIM PENGHUJAN

0

Musim penghujan masih terus melanda sebagian kota di Indonesia. Intensitas hujan di Indonesia semakin bertambah akhir-akhir ini. Hal tersebut sesuai dengan prediksi BMKG yang menyatakan bahwa puncak musim hujan pada tahun 2020 terjadi di bulan Februari hingga Maret.

Musim hujan yang bisa membuat udara sejuk bagi tubuh ternyata juga dapat mempengaruhi kesehatan anak. Apalagi, daya tahan tubuh anak umumnya belum sebaik orang dewasa.

Saat musim hujan, badan cenderung lebih rentan untuk mengalami sakit. Berikut adalah beberapa alasan badan mudah sakit saat musim hujan :

  • Daya Tahan Tubuh Melemah

Meski masih menjadi pro-kontra, beberapa studi menduga bahwa suhu dingin saat musim hujan berpengaruh pada daya tahan tubuh (imunitas) seseorang. Suhu dingin ini dianggap dapat melemahkan sistem imun, sehingga bisa membuat tubuh rentan sakit.

  • Perubahan Suhu Ekstrem

Suhu udara saat hujan dan tidak hujan tentu berbeda. Tidak jarang, perbedaan suhu ini  cenderung ekstrem dan menuntut tubuh untuk beradaptasi. Akibatnya, perubahan suhu ini secara tidak langsung dapat mempengaruhi sistem imun tubuh.

  • Minimnya Aktivitas Fisik

Studi yang dilakukan oleh International Journal of Sports Medicine menyebutkan bahwa hujan bukanlah penghalang untuk melakukan aktivitas fisik seperti olahraga. Sebab, olahraga diperlukan untuk menjaga tubuh tetap fit beraktivitas selama musim hujan. Justru tanpa olahraga, daya tahan tubuh bisa melemah sehingga menjadi rentan sakit.

  • Mudahnya Penyebaran Virus dan Bakteri

Saat musim hujan, lingkungan cenderung lembap. Kondisi ini yang bisa membuat bakteri dan virus penyebab penyakit berkembang lebih cepat. Di antaranya melalui genangan air yang terbawa oleh cipratan lumpur, sepatu, dan lain-lain.

Musim penghujan dapat memberi kesempatan virus dan kuman untuk berkembang biak. Akibatnya anak-anak akan mudah terserang penyakit. Hal tersebut bukan karena mereka jorok, tetapi imunitas mereka belum sekuat orang dewasa. Penyakit yang sering menyerang anak-anak menjelang musim hujan adalah :

  • Difteri

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Anak yang terserang difteri pada umumnya kerap terpapar lingkungan kotor, kurang asupan bernutrisi, serta tidak mendapatkan vaksin DPT. Jika anak belum divaksin, maka harus waspada. Karena kemungkinan besar ia bisa terserang difteri.

Penyakit ini dapat tertular dari kontak fisik dengan seseorang yang terkena difteri, barang yang terkontaminasi bakteri, atau bisa juga melalui percikan ludah dari batuk dan bersin yang tidak sengaja terhirup.

Adapun ciri-ciri penyakit difteri pada anak adalah; ada lapisan abu-abu di tenggorokan dan amandel, sehingga ia akan merasa sakit tenggorokan, susah menelan, suara serak, hidung meler, demam, serta leher bengkak karena pembengkakan kelenjar getah bening.

  • Diare

Seorang anak dikatakan diare jika ia sudah buang air besar atau BAB lebih dari tiga kali disertai feses encer, demam, dan muntah. Penanganan pertama ketika anak diare adalah memberikannya cairan oralit, yang berfungsi menghidrasi tubuhnya. Pastikan pula asupan makanan bergizi dan bersih, cukup minum, serta istirahat.

Jelang dan selama musim hujan, baik anak-anak maupun orang dewasa dapat dengan mudah menderita penyakit ini. Penyebabnya karena makanan dan minuman yang mereka konsumsi terpapar air hujan atau air genangan. Di mana air itu telah terkontaminasi mikroorganisme, virus, bakteri, maupun parasit.

Akibatnya mereka terkena infeksi usus dan terjadilah diare. Untuk mencegahnya, ajak anak selalu mencuci tangan dengan sabun (sebelum makan, setelah buang air, pasca memegang hewan peliharaan, dan selepas bermain) dan selalu menjaga kebersihan di mana pun berada.

  • Flu

Flu disertai demam, batuk, dan pilek adalah penyakit yang sering menghinggapi tubuh anak-anak. Mungkin ini penyakit sepele, tetapi jika sering muncul akan menjadi hal melelahkan bagi seluruh keluarga.

Flu merupakan penyakit yang mudah menular ke orang lain, terutama pada 3-4 hari pertama setelah penderita terinfeksi. Bahkan pada beberapa kasus, penderita flu dapat menularkan penyakitnya sebelum gejala muncul.

Untuk mencegah flu datang, dapat dilakukan dengan mengajarkan hal kecil kepada anak-anak. Seperti membiasakan mereka mencuci tangan dengan sabun, membawa bekal dari rumah, serta memakai masker jika terkena flu. Dan memberikan pengertian ke mereka bahwa untuk sementara waktu jangan jajan di luar rumah atau berbagi makanan dan minuman dengan teman. Jika mereka terkena flu dan jajan makanan terkontaminasi bakteri, penyakitnya bisa bertambah serius.

  • Penyakit Kulit

Jelang musim hujan dapat mempengaruhi kelembapan tubuh. Di mana tempat lembap tempat kuman, bakteri, dan jamur bersarang. Akibatnya kulit menjadi sensitif dan mudah terserang penyakit. Misalnya tangan anak terkena percikan air genangan dan tidak segera mencucinya. Kemungkinan kulitnya akan terasa gatal, lalu digaruk, bahkan bisa melepuh.

Jika penyakit kulit diabaikan, bukan tidak mungkin akan infeksi, terkena kutu air, atau kudis. Padahal penyakit ini sangat mudah dicegah. Dengan cara segera mengganti baju anak-anak ketika berkeringat dan memperhatikan di mana mereka bermain. Setelah bermain sebaiknya memandikan atau mengajak mereka untuk cuci tangan dan kaki.

  • Leptospirosis

Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Leptospira sp yang menyebar lewat urine tikus. Ketika terjadi banjir, tikus akan keluar dan urine tikus bercampur dengan air banjir atau air hujan kemudian masuk ke tubuh lewat kulit.

Gejala dari penyakit ini adalah mukosa yang kering dan kulit berwarna kekuningan. Pada kasus tertentu, penderita bisa mengalami diare dan kekurangan cairan.

Leptospirosis harus dibuktikan melalui tes laboraturium, jika seorang anak terbukti menderita penyakit ini, penanganannya adalah dengan memberikan antibiotik. Orang tua yang sering membiarkan anaknya bermain air ketika hujan ternyata sudah melakukan kesalahan besar. Di balik segarnya air hujan yang jatuh ke tanah ternyata menyimpan sejuta kuman yang siap menyerang tubuh anak.

KL For GAEKON