Jurang Defisit Kian Lebar, Tembus Rp 353 T

0

Makin lebar saja jurang defisit APBN. Selasa 7 Januari 2020, Kemenkeu merilis realisasi kinerja APBN TA 2019. Hasilnya, tekor alias defisit sebesar Rp 353 triliun. Jumlah itu dipastikan lebih besar daripada periode sebelumnya. Defisit itu mencapai 2,2 persen dari PDB.

Baca juga : Perlambatan Ekonomi 2019 Berlanjut Tahun Ini

Capaian buruk tersebut dikarenakan realisasi penerimaan lebih kecil dibanding pengeluaran belanja negara.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan realisasi penerimaan negara Rp 1.957,2 triliun per 31 Desember 2019 dari target Rp 2.165,1 triliun. Sedangkan realisasi belanja negara sebesar Rp 2.310,2 triliun dari target Rp 2.461,1 triliun.

“Sehingga defisitnya Rp 353,0 triliun, lebih besar dari target awal Rp 296,0 triliun,” kata Sri Mulyani.

Defisit Rp 353 triliun sama dengan 2,2 persen terhadap PDB. Angka itu naik dari proyeksi awal pemerintah yang berada di level 1,84 persen alias Rp 296 triliun.

Jika dirinci, penerimaan negara sebesar Rp 1.957,2 triliun itu berasal dari penerimaan pajak sebesar Rp 1.543,3 triliun, PNBP sebesar Rp 405,0 triliun, dan hibah sebesar Rp 6,8 triliun.

Diketahui angka tax ratio penerimaan pajak tersebut adalah yang terburuk dalam 20 tahun terakhir dan terendah se-Asia.

Sementara itu, rincian belanja negara sebesar Rp 2.310,3 triliun berasal dari belanja pemerintah pusat Rp 1.498,9 triliun. Belanja pemerintah pusat terdiri dari belanja kementerian/lembaga (K/L) yang realisasinya Rp 876,4 triliun dan belanja non K/L sebesar Rp 622,6 triliun, dan subsidi Rp 201,8 triliun. Lalu berasal dari transfer ke daerah dan dana desa (TKDD) sebesar Rp 811,3 triliun.

Jumlah defisit akan semakin lebar seiring dengan kebijakan makroekonomi yang menggunakan pendekatan pengetatan anggaran. Akibatnya penerimaan pajak rendah dan pertumbuhan ekonomi semakin anjlok. Pemerintah perlu langkah inovatif dengan memangkas hutang.

K For GAEKON