Kasus Covid-19 Terus Melonjak, Epidemiolog: Indonesia Sudah Lama Dalam Kondisi “Herd Stupidity” Atasi Pandemi Covid-19

0

Kasus Covid-19 Terus Melonjak, Epidemiolog: Indonesia Sudah Lama Dalam Kondisi "Herd Stupidity" Atasi Pandemi Covid-19Gaekon.com – Angka kasus Covid-19 belakangan ini yang kian melonjak membuat Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Pandu Riono turut buka suara.

Menurutnya, selama ini Indonesia dalam kondisi herd stupidity atau kebodohan komunal atasi pandemi Covid-19.

Seperti yang dilansir GAEKON dari CNN, Pandu mengatakan bahwa kondisi herd stupidity bisa tercipta karena masyarakat maupun pemerintah melakukan kebodohan bersama yang memicu lonjakan kasus Covid-19.

“Indonesia sudah lama dalam kondisi “Herd Stupidity“. Perilaku Manusianya yang dorong replikasi virus, memperbanyak diri dan berubah menjadi lebih mudah menular. Manusia yang mendapat amanah jadi pejabat dan manusia-manusia lain yang tidak berperilaku 5M dan enggan divaksinasi,” kata Pandu.

Salah satu kebodohan yang tercipta menurut Pandu yaitu saat masa mudik Lebaran 2021. Masyarakat berbondong-bondong nekat pulang kampung untuk rayakan lebaran. Sedangkan pemerintah tidak membuat kebijakan yang ketat soal larangan mudik.

“Makanya Indonesia itu herd stupidity. Herd kan komunal, kebodohan bersama. Itu artinya kebodohan bersama. Sudah tahu mudik dilarang, masih pergi. Udah tahu mudik bisa meningkatkan kasus, tidak dilarang dengan ketat. Ya baik pemerintah maupun masyarakat sama-sama abai,” ujarnya.

Pandu mengibaratkan kondisi pandemi di Indonesia seperti rumah yang mengalami kebocoran atap saat hujan turun.

Menurut Pandu dalam kondisi itu seharusnya adalah memperbaiki atap agar hujan tidak masuk. Namun menurut pandangannya, yang dilakukan pemerintah saat ini justru memasang ember untuk mengatasi kebocoran dan tidak memperbaiki atapnya.

“Kasus Covid-19 (ibarat) kan air, kalau atap kita bocor, air masuk ke rumah kan. Seharusnya kan atap diperbaiki, tapi kita enggak boleh memperbaiki atap, hanya bisa pasang ember mengatasi banjir akibat hujan,” ujarnya.

Pandu menyebut perbaikan atap itu seperti pengetatan aktivitas masyarakat. Menurutnya, pengetatan seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Jakarta saat awal pandemi Covid-19 terbukti mampu menurunkan kasus.

“Semuanya kerja di rumah, seperti PSBB zaman dulu, kita enggak usah pakai kata lockdown, PSBB seperti di masa Pak Anies, itu udah terbukti menurunkan kasus. Tapi kita hanya bisa menyediakan ember menampung hujan. Ya hujannya terus, lama-lama banjir rumah kita,” kata Pandu.

Kasus positif Covid-19 secara nasional bertambah 13.737 pada Minggu (20/6). Kini, total kasus positif Covid-19 di Indonesia menjadi 1.989.909 sejak pertama kali diumumkan pada awal Maret 2020 oleh Presiden Joko Widodo.

D For GAEKON