Terjerat Kasus Korupsi Asabri, Heru Hidayat Dituntut Hukuman Mati

0

Terjerat Kasus Korupsi Asabri, Heru Hidayat Dituntut Hukuman MatiGaekon.com – Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera Heru Hidayat dituntut hukuman mati dalam sidang lanjutan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (6/12).

Melansir dari Tempo.co, Heru dinilai terbukti melakukan korupsi yang mengakibatkan kerugian negara sebesar Rp 22,788 triliun dari pengelolaan dana PT Asabri (Persero) serta pencucian uang.

“Menyatakan terdakwa Heru Hidayat terbukti secara sah bersalah melakukan tindak pidana korupsi dengan pemberatan secara bersama-sama dan tindak pidana pencucian uang,” kata jaksa.

Heru Hidayat Juga Diwajibkan Bayar Uang Rp. 12,643 T

Tak hanya dituntut hukuman mati, Heru Hidayat juga diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp 12,643 triliun.

Apabila terpidana tidak membayar uang pengganti paling lama satu bulan sesudah putusan berkekuatan hukum tetap, maka harta bendanya akan disita oleh kejaksaan dan dilelang untuk menutupi uang pengganti tersebut.

Heru merupakan satu dari tujuh terdakwa perkara dugaan korupsi pengelolaan dana PT Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Asabri).

Sebelumnya, Audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan mengurai detail penyimpangan penempatan dana investasi di saham dan reksadana yang dilakukan Heru. Kegiatan itu ditengarai merugikan negara lebih dari Rp 10 triliun.

Pada 2012 saat Asabri yang dipimpin oleh Mayor Jenderal (Purnawirawan) Adam Damiri memindahkan Rp 3 triliun, dari total Rp 3,8 triliun, obligasi korporasi ke reksadana.

Dewan Komisaris menyetujui usul itu dengan syarat manajer investasi yang mengelola dana harus melalui beauty contest. Pemindahan juga harus dilakukan untuk mencari imbal hasil yang lebih optimal.

Adam Damiri disebut langsung memilih manajer investasi, salah satunya PT Insight Investment Management.

Pada Desember 2012, Asabri menjual Rp 974 miliar obligasi korporasi untuk diinvestasikan ke Reksa Dana Guru lewat manajer investasi tersebut. Nilai investasi kemudian bertambah Rp 100 miliar, sehingga totalnya Rp 1,07 triliun.

Penempatan ke Reksa Dan Guru dinilai janggal sebab sejak 22 Agustus 2011, ketika Asabri pertama kali menempatkan investasi ke reksa dana itu, nilai aktiva bersihnya tidak pernah melebihi harga beli.

Audit BPKP menyebut rupanya koleksi saham di Reksa Dana Guru adalah saham-saham yang nilainya terus turun.

Audit itu juga menyimpulkan bahwa saham yang menjadi aset Reksa Dana Guru terafiliasi dengan Benny Tjokro dan Heru Hidayat.

BPKP mengaudit penempatan saham Jiwasraya saat bersamaan. Kesimpulan audit itu mirip, bahwa mayoritas investasi mengalir ke saham-saham yang terafiliasi dengan dua pengusaha itu.

Dari audit itu terungkap Sonny Widjaja, Direktur Utama yang menggantikan Adam Damiri, merancang jalan keluar mitigasi risiko portofolio perusahaan. Mitigasi dijalankan lewat pembelian saham dari Heru Hidayat.

Sejak itu, Asabri beberapa kali melakukan pembelian saham-saham yang terafiliasi dengan Heru Hidayat dan Benny Tjokro.

Audit BPKP menyebut transaksi tersebut merugikan senilai Rp 2,1 triliun pada akhir 2018. Audit BPKP menyimpulkan kerugian akibat semua investasi yang terafiliasi dengan Heru mencapai Rp 9,7 triliun. Sedangkan, transaksi yang terafiliasi dengan Benny sebanyak Rp 859 miliar.

D For GAEKON