Kebakaran Hutan, Kawasan Paru-Paru Dunia, Cagar Biosfer Berubah Jadi Abu

0

Kebakaran Hutan, Kawasan Paru-Paru Dunia, Cagar Biosfer Berubah Jadi AbuGaekon.com – Kawasan paru-paru dunia, Cagar Biosfer Giam Siak Kecil, Kabupaten Bengkalis, Riau berubah menjadi abu. Ratusan hektare lahan itu berubah jadi abu pasca kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berlangsung selama satu pekan.

Seperti yang dilansir GAEKON dari Liputan6, Karhutla itu disebabkan karena pembukaan kebun secara ilegal. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Suharyono sudah ke lokasi membantu pemadaman.

Suharyono menyatakan lokasi karhutla berada di kawasan Giam Siak Kecil yang merupakan zona inti dari Cagar Biosfer. Daerah ini didominasi gambut dan kondisinya kering karena musim kemarau.

“Gambutnya dalam sehingga sulit memadamkan api,” kata Suharyono.

Bersama sejumlah pegawai, Suharyono dibantu Manggala Agni untuk menjinakkan kebakaran lahan gambut itu. Suharyono mengatakan bahwa untuk sampai ke lokasi ia harus menembus semak-semak.

“Untuk sampai ke lokasi kami naik sepeda motor menembus semak-semak, jarak tempuh 5 kilometer,” kata Suharyono.

Suharyono berharap pemadaman tidak hanya dilakukan melalui darat. Ia ingin ada pemadaman dari udara atau water bombing karena ada beberapa titik di lokasi yang sulit ditempuh via darat. Ia menyebut masih fokus mendinginkan sejumlah lokasi dan memadamkan satu titik api. Sehingga belum memastikan luasan karhuta di Cagar Biosfer.

“Pendataan luasan terbakar belum pasti, tapi diperkirakan 100 hektare lebih karena sifatnya sporadis,” ucap Suharyono.

Suharyono menyatakan karhutla ini bukan faktor alam. Namun disebabkan ulah manusia karena tak jauh dari lokasi pemadaman ada aktivitas manusia membuka lahan secara ilegal.

“Sekitar 1,5 kilometer dari titik saya berdiri ini ada aktivitas, membakar lahan sehingga apinya merembet ke sini,” tambah Suharyono.

Cagar Biosfer merupakan kawasan paru-paru dunia yang sudah diakui United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO). Kawasan ini juga menjadi habitat satwa langka dilindungi, seperti harimau sumatra.

D For GAEKON