Keluarga Pasien Covid-19 Di Semarang Ngamuk Hingga Lukai Perawat Pakai Gunting, Begini Kronologinya!

0

Keluarga Pasien Covid-19 Di Semarang Ngamuk Hingga Lukai Perawat Pakai Gunting, Begini Kronologinya!Gaekon.com – Pertengkaran antara keluarga pasien dengan petugas medis kembali terjadi. Seorang pria keluarga pasien di Rumah Sakit dr Gunawan Mangun Kusumo (RSUD Ambarawa) Kabupaten Semarang mengamuk dengan perawat lantaran tidak diizinkan membawa pulang jenazah pasien Covid-19.

Seperti yang dilansir GAEKON dari Okezone, Akibat insiden tersebut, dua orang perawat RSUD Ambarawa, Sinta Mega dan Edy Gunadi mengalami luka robek di bagian tangan karena terkena sabetan gunting pelaku.

Kini pelaku berhasil ditangkap dan diamankan di Polsek Ambarawa. Pelaku mengamuk lantaran tidak setuju jika pemulasaraan jenazah kerabatnya dilakukan secara protokol Covid-19.

Kronologi Keluarga Pasien Yang Ngamuk

Manager Ruang isolasi Anyelir RSUD Ambarawa, Meisasi Widyastuti menjelaskan kronologi kejadian tersebut. Awalnya, pasien Nyoya NH mengalami pneumonia reaktif Covid-19 hasil rapid antigen. Pasien mengalami penurunan kesadaran dan hipertensi pada Jumat (23/7) sekitar pukul 00.30 WIB.

NH datang dari IGD dengan kesadaran sopor terpasang NRM 15. Sebelum pasien masuk ruang isolasi Anyelir, petugas melakukan edukasi ulang terkait tata tertib dan segala risiko serta konsekuensi kepada pihak keluarga pasien.

“Keluarga tampak bimbang karena tidak diizinkan untuk menunggu atau menjenguk pasien. Selanjutnya keluarga minta agar pasien segera diantar ke kamar,” ujar Meisasi.

Setelah setuju dengan tata tertib ruang isolasi, pihak keluarga justru mengajukan permintaan mengakses langsung CCTV ruang isolasi, menerima laporan rutin ttv (pemeriksaan vital) pasien, hingga memberi minum pasien setiap 10 menit.

Petugas medis kemudian menjelaskan bahwa pihak keluarga tidak bisa mengakses CCTV. Namun jika ingin menanyakan keadaan pasien bisa langsung ke nurse station. Suami NH menilai tata tertib ini tidak masuk akal dan menuding sebagai rekayasa.

Pukul 00.40 WIB, tim medis melakukan monitoring pasien. Saat itu kesadaran sopor TD 80/50. HR 120. SPO2 81 persen dan dilakukan tindakan pemasangan oksigen doble NRM 15 lpm + NC 5 lpm. Hasil evaluasi, TD pasien naik 120/70. SpO2 91.

Kemudian pukul 01.55 WIB, keluarga menanyakan ttv pasien. Keluarga juga menanyakan kenapa saturasi bisa turun dan langsung menerobos masuk ke ruang isolasi.

“Pukul 02.00 WIB, keluarga menerobos masuk, marah-marah ingin menunggui pasien dan memaksa agar dipindahkan ke IGD lagi. Setelah koordinasi dengan IGD dan supervisi, kemudian pasien dibawa ke IGD lagi,” ujarnya.

Selang satu jam kemudian, keluarga meminta agar pasien dipindahkan ke Ruang Anyelir. Petugas pun melakukan edukasi ulang kepada adik pasien di Ruang Anyelir terkait dengan kesanggupan mematuhi tata tertib atau aturan di ruang isolasi. Keluarga menyatakan sanggup mematuhi

Pada pukul 03.30 WIB, petugas kembali melakukan edukasi kepada suami pasien dan adik di ruang IGD dan mengabarkan bahwa kondisi pasien kritis.

Keluarga tampak bimbang, pukul 04.30 WIB, adik pasien beserta anggota keluarga meminta ke tim medis agar pasien dirawat di ruang isolasi kembali jikalau pasien sudah sadarkan diri dan meminta dr DPJP untuk rutin memeriksa pasien ke IGD.

Pukul 10.10 WIB, pasien dibawa lagi ke ruang isolasi dan perawat kembali memberi edukasi kepada keluarga tentang kondisi pasien dan tata tertib di ruang isolasi.

Kemudian pukul 12.30 WIB, perawat mengabarkan  kondisi pasien yang semakin menurun, SpO2 40% – 50% dan suami pasien memahami dan menerima. Sekitar pukul 13.45 WIB, kondisi pasien menurun dan perawat mencari keluarga di ruang tunggu tapi tidak ketemu.

Bahkan, perawat Krisna menghubungi keluarga melalui telepon seluler dan informasi tersebut diterima oleh adik pasien. Pada pukul 14.00 WIB, pasien dinyatakan meninggal.

Tak lama kemudian, suami pasien datang dan dokter serta perawat memberitahukan bahwa pasien tidak bisa tertolong dan memberi penjelasan tentang prosedur pemulasaraan jenazah secara protokol Covid-19.

Suami pasien bisa menerima penjelasan dokter. Namun, sang adik pasien tidak setuju akan hal itu. Ia justru menghendaki jenazah dibawa pulang serta disucikan sendiri di rumah.

Dokter jaga, perawat didampingi satpam memberikan penjelasan tentang konsekwensi dan resiko jika jenazah di pulasara sendiri di rumah. Namun keluarga masih ngotot dan tidak mau menerima.

Keluarga pasien diberi penjelasan bahwa nanti salah satu keluarga diperbolehkan untuk ikut pulasara jenazah di kamar jenazah dan akan difasilitasi dengan penggunaan APD (alat pelindung diri).

Namun, saat diperingatkan, tiba-tiba satu orang keluarga pasien (pelaku) mengambil gunting di nurse station dan memukul-mukul meja nurse serta mengacungkan gunting dalam posisi terbuka. Meski dua perawat itu sudah berusaha menahan gunting, namun pelaku semakin berontak hingga akhirnya mengakibatkan luka pada tangan perawat tersebut.

D For GAEKON