Mungkin tak banyak pejabat publik yang kematiannya begitu ditangisi oleh rakyat secara luas. Dan pada Minggu 7 Juli 2019 kita beruntung mendapat pengalaman demikian. Duka negeri pada pejabat publik yang bisa dibilang tidak begitu tinggi pangkatnya tertumpah pada Sutopo Purwo Nugroho. Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tersebut berpulang akibat kanker yang telah lama dia derita.

Rakyat sah-sah saja mengaku keheranan. Bagaimana sosok Sutopo yang bukan ketua badan, bukan ketua lembaga, bukan ketua komisi, bukan tokoh ormas besar, bukan pula menteri atau mantan presiden atau wapres begitu ditangisi kepergiannya. Ucapan bela sungkawa datang dari pelosok negeri. Pun ekspresi duka juga datang dari netizen di dunia maya.

Mengapa Pak Topo begitu mudahnya mendapat simpati publik? Barangkali, Pria kelahiran Boyolali 7 Oktober 1969 itu dinilai sanggup memenuhi ekspektasi rakyat terhadap sosok pejabat publik yang total dalam pelayanan. Dalam hal yang ekstrem dia mau bekerja keras meski tengah menderita kanker paru-paru stadium 4B.

Dia begitu optimal dalam hal pelayanan informasi publik. Khususnya tentang kebencanaan di Indonesia. Lulusan terbaik S1 Geografi Universitas Gajah Mada tersebut selalu memberikan update informasi kepada media. Di tengah sakit kanker paru-paru yang dia ketahui sejak 2017, Dia masih melayani masyarakat. Sutopo masih bertugas mengawal kejadian bencana di Indonesia dan menyampaikan konferensi pers kepada wartawan.

Kanker rupanya bukan penghalang dalam bertugas. Selama 24 jam penuh Sutopo menyampaikan update informasi secara detail. Beberapa wartawan juga mengaku Pak Topo begitu responsive dalam  menyediakan informasi yang dibutuhkan. Tak pernah ada kontak dari wartawwan, entah itu melalui sambungan telepon atau pesan elektronik yang tidak dibalasnya.

Selain waktu yang dia luangkan kepada media, ayah dua anak itu juga aktif menyampaikan informasi kebencanaan melalui twitter. “Saya tahu dokter menyuruh saya untuk banyak istirahat tapi setelah kena kanker saya jadi sulit tidur. Apalagi ada gempa tsunami, malah kebetulan, saya bisa pakai jam-jam itu untuk meng-update dan mengkompilasi informasi sana-sini dari hape,” kata Sutopo dilansir dari ABC Australia.

informasi-informasi penting yang harus disampaikan kepada public seperti banjir bandang, erupsi gunung berapi, gempa bumi dan tanah longsor memenuhi akun twitter-nya. Belum lagi kalau ramai hoax dia harus memverifikasinya dengan membalas langsung komentar netizen.

Dia melakukan pekerjaannnya dengan detail dan penuh dedikasi. Di grup WhatsApp Media Komunikasi (Medkom) Bencana, Sutopo terbiasa memperbarui informasi  ke media dengan cepat bila ada informasi teraktual. Sutopo pernah melakukan hal itu hingga jam satu dini hari dan kembali aktif lagi sebelum jam enam pagi. Dia juga tak segan menjelaskan panjang lebar, termasuk kepada wartawan yang baru pertama kali meliput bencana.

Kala gempa dan tsunami melanda Palu dan Donggala Sulawesi Tengah pada Oktober 2018, kran informasi yang media dapat berasal dari Sutopo. Dia berusaha memperbarui hal detail seperti data korban, kondisi di lokasi, hingga berapa jumlah bantuan yang datang di tengah rasa sakit.

Hal yang sama dilakukannya saat gempa mengguncang Lombok pada Agustus 2018. Perkembangan informasi tetap dia sampaikan walaupun dia tengah menjalani kemoterapi. Sesekali dia juga menyampaikan kondisi kesehatannya pada warganet. Pernah dia mengunggah fot bagian rambutnya yang rontok akibat kemoterapi, dan foto hasil CT scan paru-parunya.

Pria yang tidak sungkan mengaku wong ngapak itu mengaku bila sakit dia jarang tidur lebih dari tiga jam semalam.Untuk meredakan tulang punggungnya yang sakit seperti ditusuk-tusuk, Sutopo mengaku mengonsumsi morfin untuk meredakannya.

Selain serius dalam bekerja, Sutopo juga dikenal dekat dengan pubik karena sisi humorisnya. Suatu ketika ada warganet yang bertanya siapa yang paling ingin ditemui Pak Topo. Dia pun lantas menjawab dua orang yaitu Presiden Joko Widodo dan penanyi wanita indolanya Raisa Andriana. Dan sebelum meninggal keinginan itu pun  terkabul.

Rekam Pengabdian

Sutopo lahir di Boyolali, Jawa Tengah, pada 7 Oktober 1969. Dia merupakan anak pertama Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari. Masa SD hinga SMA dia jalani di kampung halamannya. Dia merupakan alumni Universitas Gajah Mada dan Institut Pertanian Bogor. Dia memperoleh gelar S-1 geografi di Universitas Gadjah Mada pada tahun 1993, dan menjadi lulusan terbaik. Sementara gelar S-2 dan S-3 di bidang hidrologi dia tempuh di Institut Pertanian Bogor.

Setelah lulus, dia mulai bekerja di BPPT pada 1994. Dia kemudian bekerja pada bidang penyemaian awan. Perlahan-lahan, dia mulai naik pangkat ke Peneliti Senior Utama (IV/e). Kemudian, dia membantu BNPB sebelum bekerja secara penuh di sana pada Agustus 2010.

Awalnya, dia bekerja pada Direktur Pengurangan Risiko Bencana. Di bulan-bulan pertama dia bekerja, terjadi bencana-bencana terkenal yang menerjang Indonesia seperti banjir di Wasior, gempa bumi dan tsunami di Mentawai dan erupsi Gunung Merapi. Dia menjadi Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat di sejak November 2010.

Menurut Sutopo, dia menolak posisi tersebut sebanyak tiga kali. Sebab sewaktu ditawari dia belum memperoleh gelar S-3. Dengan gelar itu dia yakin public akan lebih mempercayainya. Sutopo memang dikenal aktif memberitakan bencana di media sosial ketika sedang berlangsung. Bahkan The Straits Times menyebutnya sebagai pejabat Indonesia yang paling sering dikutip dalam berita selama bencana berlangsung.

Selain rutinitas di BNPB, Pria yang menikah dengan Retno Utami Yulianingsih itu juga memiliki kesibukan di dunia akademik. Dia tercatat sebagai pengajar di IPB, Universitas Indonesia, dan Universitas Pertahanan Indonesia.

Meninggal di Guangzhou

Selama kurun tiga minggu dirawat di Guangzhou St. Stamford Modern Cancer Hospital China, akhirnya Sutopo menghembuskan nafas terakhir pada Minggu 7 Juli 2019 sekitar pukul 01.20 WIB. Kanker yang dia derita telah menyebar hingga ke tulang dan beberapa organ vital tubuh.

Sutopo sendiri sengaja hijrah sebab pengobatan selama dua tahun di RSPAD Gatot Subroto tidak menunjukkan kemajuan. Sebelum berangkat ke Tiongkok dia sempat berpamitan kepada rekan kerjanya. Diketahui kondisi Sutopo mulai memburuk setelah lebaran. Ditandai penurunan kesehatan, fisiknya melemah hingga suara bicaranya pun makin pelan.

Namun, selama menjalani pengobatan di Guangzhou, Sutopo sempat membaik. Rekaman video yan beredar di grup karyawan BNPB menunjukkan kondisinya yang lebih sehat dan segar. Usai itu tak ada lagi kabar terbaru hingga kabr duka kepergiannya sampai ke Indonesia

Berbagai ucapan bela sungkawa atas meninggalnya Sutopo terus berseliweran di media sosial dan grup-grup WhatsApp. Tak terkecuali dari Jokowi dan Raisa, dua orang yang paling ingin ditemui semasa hidup. “Inalillahi wa Innailaihi Rojiun. Kita kehilangan seorang yang hidupnya didedikasikan untuk orang banyak,” ucap Jokowi lewat akun resmi Twitter-nya.

Sementara Raisa juga turut berbela sungkawa pada fans beratnya tersebut. “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, turut berduka cita atas meninggalnya Bapak Sutopo PN. Semoga beliau diterima di sisi-Nya. Aamiin,” kicau Raisa.

Jenazah Sutopo dimakamkan di tanah kelahirannya, Boyolali, Jawa Tengah, Senin 8 Juli 2019 pada pukul 09.30 WIB. Semasa hidup Pak Topo selalu mengabarkan berapa jumlah korban meninggal dunia akibat bencana, Kini tiba kabar kematiannya yang sampai di telinga kita. Selamat jalan, untuk engkau yang pernah bilang, hidup itu bukan soal panjang pendeknya usia, tapi seberapa besar kita dapat membantu orang lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here