Jadi Ketua Harlah NU Ke-100, Erick Thohir Minta Doa Para Ulama

0

Jadi Ketua Harlah NU Ke-100, Erick Thohir Minta Doa Para UlamaGaekon.com – Menteri BUMN, Erick Thohir memohon doa para ulama agar bisa menjadi Ketua Harlah NU Ke-100 tahun dengan baik.

Melansir dari Detik, Erick memohon doa saat tengah bersilaturahmi dengan para ulama se-Pasuruan Raya, Jawa Timur.

“Mohon doa dan restu dari para kiai, ulama, dan santri agar persiapan agenda kita berjalan lancar. Akhir kata, saya hendak mengajak seluruh keluarga besar pesantren untuk bersama merawat keharmonisan antar umat, mengikat kembali simpul-simpul silaturahmi demi kebaikan seluruh rakyat Indonesia,” kata Erick di Gedung Gradika, Pasuruan, Kamis (5/5).

Erick Thohir berbicara soal program BUMN dan peran pondok pesantren untuk kemajuan bangsa saat bersilaturahmi dengan para ulama se-Pasuruan Raya.

Erick berkomitmen menjadikan pondok pesantren (ponpes) sebagai mercusuar peradaban dan sebagai salah satu motor penggerak ekonomi umat.

“Kita dapat bersolidaritas dalam membangun tanah air tercinta dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat, baik secara sosial maupun ekonomi. Terutama, dalam menghadapi tantangan menuju Indonesia Emas 2045,” kata Erick.

Erick mengaku telah merancang sejumlah program di BUMN yang dapat dioptimalkan, khususnya oleh kalangan pesantren agar memiliki kemandirian ekonomi.

Di antaranya, program BUMNU (Badan Usaha Milik Nahdlatul Ulama) yang dimulai dari pendirian 250 BUMNU baru tahun ini. Erick berharap BUMNU yang didampingi BUMN dapat menjadi faktor pendorong perekonomian umat berbasis pesantren.

Untuk diketahui, BUMNU adalah program kolaborasi antara BUMN dan unit usaha di bawah NU, yang diluncurkan pada akhir Februari 2022, saat peringatan hari lahir NU ke-99.

Kemudian Program Santripreneur dan Santri Magang di BUMN yang diharapkan dapat memberdayakan para santri dalam pengembangan ekosistem bisnis dan ekonomi syariah melalui perspektif ilmu fiqih yang dikuasai.

Selanjutnya program vokasi melalui tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) di 15 pesantren sebagai percontohan. Selain itu, ada juga program beasiswa pendidikan S2 yang dapat diikuti guru dan pengajar di pesantren.

“Keharmonisan dan persatuan warga harus dijaga karena itu adalah fondasi bangsa Indonesia untuk menjadi negara maju. Orang tua saya mengajarkan pentingnya karakter sejak kecil karena kepandaian tanpa karakter akan menjadi kejahatan, kekayaan tanpa karakter akan menjadi kerakusan. Maka dari itu, dalam kepemimpinan saya, saya sangat menjunjung nilai-nilai akhlak,” ungkapnya.

Erick mengatakan para alim ulama dan pesantren memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan generasi muda muslim yang memiliki akhlakul karimah, moderat, lembut, dan tawadhu seperti teladan dari KH Abdul Hamid.

Melalui teladan itu, Indonesia bisa menciptakan tatanan masyarakat yang kuat simpul silaturahminya, dimulai dari kalangan santri dan pesantren.

D For GAEKON