Kritisi Kemendikbud Terkait Belajar Online Pelajar Ini Inginkan Bantuan Kuota dan Fasilitas Belajar Merata Hingga Pelosok

0

Kritisi Kemendikbud Terkait Belajar Online Pelajar Ini Inginkan Bantuan Kuota dan Fasilitas Belajar Merata Hingga PelosokGaekon.com – Dalam sebuah video memperlihatkan seorang pelajar yang tengah mengkritik kebijakan pembelajaran secara daring atau disebut juga Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Pelajar tersebut bernama Syamil Shafa Besayef, seorang siswa kelas 12 di SMAN 7, Jakarta.

Dalam acara tersebut juga hadir narasumber berbagai tokoh seperti Mendikbud Nadiem Makarim, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indonesia I Gusti Bintang Puspayoga, Ketua MPR RI Bambang Soesatyo. Kemudian, ada Ketua Dewan Gubernur Perkumpulan Lions Indonesia, Yodianto Jaya, Ketua Family and Women’s Specialist Forum Perkumpulan Lions Indonesia Multi Distrik 307 yang juga anggota DPD RI, Sylviana Murni dan Ketua Panitia HAN 2020 Lions Club MD 307 Tatyana Sutara.

Terdapat ada 21 pelajar yang diundang untuk menyampaikan pendapat di kegiatan tersebut serta disaksikan oleh 500 orang se-Indonesia via Zoom. Seperti yang dilansir dari Indozone, Syamil menceritakan bahwa kritikan itu disampaikan pada kegiatan peringatan Hari Anak Nasional dan Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR RI, 23 Juli 2020.

Pelajar tersebut mengaku bahwa dirinya sering mengikuti kegiatan nasional dan memiliki banyak teman dari berbagai penjuru Indonesia. Kemudian terkait belajar daring dirinya menanyakan pendapat teman-temannya yang berada di pelosok.

“Ternyata yang dari Gorontalo, Lampung, mereka pun memiliki keluhan yang sama. Mereka ada kendala, pertama di gadget, yang kedua di kuota, yang ketiga sinyal dan disana sering mati lampu,” kata pelajar tersebut.

Oleh karena itu, fakta inilah yang menjadi dasar kritikannya. Kepada pemerintah dirinya ingin agar tidak menjadikan Jakarta sebagai patokan dalam membuat sebuah kebijakan. Menurutnya, di Jakarta segala fasilitas tersedia lengkap dan murah, namun hal tersebut tidak seperti daerah dipelosok Indonesia.

Bahkan, teman-temannya ada yang curhat kepadanya, bahwa mereka hanya diberikan subsidi pulsa sebesar Rp25 ribu. Sedangkan harga kuota internet di sana begitu mahal. Tidak seperti Jakarta, dengan uang Rp25 ribu bisa mendapatkan kuota berlimpah.

Kemudian dirinya menegaskan bahwa ia tidak mendukung dibukanya sekolah di tengah pandemi covid-19. Dirinya mengkritisi terkait fasilitas dan infastruktur belajar online yang masih sangat kurang. Apalagi untuk pelajar yang berada di pelosok Indonesia.

“Saya mendukung pemerintah memberikan dan memperhatikan teman teman yang memiliki masalah kuota, sinyal, dan fasilitas seperti android untuk dibantu,” kata Syamil.

Lalu Syamil menceritakan bahwa di daerah Sulawesi ada temannya yang mendapatkan jatah kuota internet hanya 1 kali per semester sebanyak 2 GB. Itu pun tidak semua sekolah dan jenjang pendidikan mendapatkannya. Bantuan kuota internet 2 GB hanya diberikan untuk pelajar SD. Sementara untuk SMP dan SMA, tidak mendapatkan sama sekali.

“Saya harap minimal ada bantuan kuota gratis untuk siswa, mahasiswa, guru. Mungkin bisa registrasi dengan NISN lalu kuota gratis dari jam 06.00- 12.00. selama pembelajaran saja. Tujuan registrasi agar yang menggunakan fasilitas ini adalah orang orang yang sedang melakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh).” tambah Syamil.

Untuk sekolah Syamil sendiri, SMAN 7 Jakarta, ia mengatakan bahwa sekolahnya memberikan fasilitas uang paket internet untuk pelajar yang mengajukan dan membutuhkan.

Terkait soal efektivitas PJJ, menurut Syamil tanpa kehadiran seorang guru secara langsung maka ruh pendidikan seakan menghilang. Karena kehadiran guru untuk membentuk karakter para siswanya.

“Kita kurang efektif tidak seperti di sekolah. Di sekolah kita dipantau langsung sama guru. Guru itu kan digugu dan ditiru. Sedangkan kalau kita belajar cuma mau pintar, Google lebih pintar daripada sekolah, menurut saya,” katanya.

Sehingga menurutnya, bahwa sistem pendidikan tidak hanya mencerdaskan semata, akan tetapi juga membentuk karakter para murid. Guru harus mempersiapkan murid untuk menjadi generasi penerus yang akan melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan bangsa.

“Jadi kelebihan guru itu memiliki perasaan terhadap siswa. Mereka mendidik, mereka mengajar, mereka membentuk karakter kita siswa-siswa Indonesia,” sambungnya.

Z For GAEKON