Ikut Prihatin, KSP Minta Polri Usut Lagi Kasus Perkosaan Anak Luwu Timur

0

Ikut Prihatin, KSP Minta Polri Usut Lagi Kasus Perkosaan Anak Luwu TimurGaekon.com – Kantor Staf Presiden ikut prihatin dengan kasus tindak perkosaan dan kekerasan seksual yang dialami tiga kakak beradik berusia di bawah 10 tahun oleh ayah kandungnya di Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

Melansir dari Republika, Deputi V KSP bidang Politik, Hukum, Hankam, HAM dan Antikorupsi serta Reformasi Birokrasi, Jaleswari Pramodhawardani berharap agar Polri membuka kembali kasus tersebut.

Jaleswari tetap berharap dibuka kembali meskipun proses penyelidikan kasus tersebut telah berlangsung pada 2019 dan penyelidikan telah dihentikan oleh Polres.

Jaleswari mengatakan, peristiwa perkosaan dan kekerasan seksual terhadap anak ini melukai nurani dan rasa keadilan masyarakat.

Menurutnya Presiden Jokowi pun sangat tegas dan tidak bisa mentolerir predator seksual anak. Maka dari itu pada 7 Desember 2020 Presiden Jokowi meneken Peraturan Pemerintah (PP) No 70 Tahun 2020 tentang Tata Cara Pelaksanaan Tindakan Kebiri Kimia, Pemasangan Alat Pendeteksi Elektronik, Rehabilitasi, dan Pengumuman Identitas Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak.

Jaleswari menegaskan, perkosaan dan kekerasan seksual terhadap anak ini merupakan tindakan yang keji, terlebih dilakukan sendiri oleh ayah kandungnya.

“Perkosaan dan kekerasan seksual terhadap anak tindakan yang sangat serius dan keji. Tindakan tersebut tidak bisa diterima oleh akal budi dan nurani kemanusiaan kita. Terlebih lagi bila yang melakukan adalah ayah kandungnya. Oleh karena itu pelakunya harus dihukum berat” kata Jaleswari.

Jaleswati mengatakan bahwa meskipun korban adalah anak-anak, namun suara mereka tetap harus didengarkan dan diperhatikan.

Jaleswari pun berharap Kapolri bisa menginstruksikan jajarannya untuk kembali membuka kasus tersebut jika ditemukan kejanggalan dan kesalahan dalam proses penyelidikan oleh Polres Luwu Timur.

“Karena itu, kalau memang ditemukan adanya kejanggalan dan kesalahan dalam proses penyelidikan oleh Polres Luwu Timur yang menyebabkan diberhentikannya proses penyelidikan pada akhir tahun 2019 yang lalu, atau ditemukannya bukti baru sebagaimana disampaikan oleh Ibu korban dan LBH Makassar, maka kami berharap Kapolri bisa memerintahkan jajarannya untuk membuka kembali kasus tersebut” tambah Jaleswari.

Beberapa hari terakhir ini publik digegerkan dengan kabar perkosaan dan kekerasan seksual yang dialami oleh tiga kakak beradik. Kekerasan seksual itu diduga dilakukan oleh ayah kandungnya.

Peristiwa ini terjadi di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan, pada 2019. Polres Luwu Timur menghentikan proses penyelidikan pada 10 Desember 2019, lantaran tidak menemukan cukup bukti.

Sebelumnya, dalam rapat terbatas tentang penanganan kasus kekerasan kepada anak pada 9 Januari 2020 Presiden Jokowi memberi arahan agar kasus kekerasan terhadap anak ditindaklanjuti secepat-cepatnya. Presiden juga menginginkan agar pelaku kekerasan terhadap anak diberikan hukuman yang bisa membuatnya jera.

D For GAEKON