Kumpulkan Uang Dari Kontraktor Sebesar Rp3,2 Miliar, Edy Rahmat Mengaku Dapat Rp320 Juta

0

Kumpulkan Uang Dari Kontraktor Sebesar Rp3,2 Miliar, Edy Rahmat Mengaku Dapat Rp320 Juta

Gaekon.com – Edy Rahmat mengaku mengumpulkan uang dari sebelas kontraktor selama Januari hingga Februari 2021 sebesar Rp3,2 miliar. Dari total tersebut, Edy mengaku mendapat Rp320 juta lebih.

Seperti yang dilansir GAEKON dari Suarasulsel, Edy mengaku mendapat Rp320 juta lebih, sementara sisanya Rp2,8 miliar diserahkan ke pegawai BPK Sulsel atas nama Gilang. hal ini diungkapkan Edy pada sidang lanjutan kasus dugaan suap dan gratifikasi proyek infrastruktur di Pemprov Sulsel, Rabu (3/11).

“Saya jemput Gilang di Kantor BPK baru antar masuk ke asramanya. Disitu saya serahkan,” tutur Edy.

Edy kemudian menjelaskan kenapa ia memberikan uang tersebut ke Gilang. Menurutnya karena Gilang yang menghubunginya dari awal. Ia juga mengira Gilang adalah auditor utama.

“Saat pemeriksaan, ternyata bukan dia yang masuk. Ada dua Gilang itu auditor, tapi Gilang yang terima itu yang dihadirkan di persidangan,” beber Edy.

Terdakwa Nurdin Abdullah mengaku lupa soal laporan uang untuk BPK tersebut. Namun ia mengaku tidak akan setuju jika mengetahui itu.

“Saya mohon maaf, apakah saya lupa. Tapi kalaupun saya diberitahu, pasti saya tidak setuju. Karena ini akan merugikan kas daerah. Kalau ada denda pengerjaan kan, kontraktor harus setor ke kas daerah,” kata Nurdin Abdullah.

Edy Rahmat mengaku memberikan uang itu ke auditor BPK Perwakilan Sulsel untuk menghilangkan hasil temuan, pada laporan keuangan Pemprov Sulsel tahun 2020.

Mereka adalah Jhon Theodore Rp525 juta, Petrus Yalim Rp445 juta, Haji Momo Rp250 juta, Andi Kemal Rp479 juta, Yusuf Rombe Rp525 juta. Kemudian Robert Wijoyo Rp58 juta, Hendrik Rp395 juta, Lukito Rp64 juta, Tiong Rp150 juta, Rudi Moha Rp200 juta, dan Karaeng Kodeng Rp150 juta.

Jumlah yang terkumpul, kata Edy Rp3,241 miliar. Uang itu kemudian diserahkan ke pegawai BPK atas nama Gilang.

Edy mengaku awalnya Gilang menghubunginya pada Desember 2021. Mereka bertemu di Hotel Teras Kita, Jalan AP Pettarani, Makassar. Gilang mengatakan BPK akan melakukan pemeriksaan pada Januari 2021.

Gilang juga mengatakan jika ada pengusaha yang ingin berpartisipasi, bisa menyetor satu persen dari nilai paket proyek yang dikerjakan. Nantinya, BPK akan menghilangkan hasil temuan pekerjaan tersebut. Imbalannya, Edy mendapat 10 persen dari pungutan itu.

Hal tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh Edy. Ia menghubungi sebelas kontraktor tersebut bahkan melaporkan hal ini ke Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah.

D For GAEKON