Akhir-akhir ini peristiwa-peristiwa besar terjadi diberbagai kota di Indonesia. Kebakaran Hutan di Sumatera & Kalimantan, kerusuhan yang terjadi di Papua, hingga demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh mahasiswa dan pelajar terkait KPK & RUU KUHP. Apakah ini pertanda bahwa Wiranto sudah tidak mampu lagi mengatasi berbagai persoalan untuk menjamin keamanan masyarakat di Indonesia?. Seolah-olah semuanya menjadi sangat remeh. Semuanya seolah-olah dilemahkan. Media dikurung, segalanya mulai dibatasi geraknya. Satu hal yang ingin menjadi pertanyaan, apakah eksistensi Wiranto sudah tidak lagi sejalan dengan pergembangan era milenial?

Gaekon Indonesia sempat melakukan diskusi dengan pengamat hukum milenial Michael Stefanus Krisna, S.H, M,H. Beliau mengatakan bahwa “eksistensi Wiranto dalam merespon apa yang terjadi akhir-akhir ini saya rasa kurang tepat. Salah satunya dengan beberapa pernyataannya mungkin saya rasa malah membuat gaduh”. Menurut Michael, tindakan dan statment yang tidak memberikan sinyal yang sejuk dalam hal genting membuat sentimen orang lain berpikir bahwa ini era digital, era anak muda, era yang sangat kental dengan pesan-pesan yang sejuk, karena, jika dibandingkan dengan era 98, situasi dan suasanannya jauh sangat berbeda. Michael juga menyampaikan bahwa, “Narasi seperti itu sudah tidak pantas di era milenial seperti ini, sehingga narasi-narasi untuk sekelas Menko, seharusnya lebih baik fokus pada substansi mahasiswa dan bagaimana cara menyelesaikan persoalan, bukan fokus pada hal-hal lain yang membuat suasana menjadi tidak nyaman.

Disisi yang lain, tim Gaekon Indonesia juga berhasil menghubungi psikolog M. Jahidun Nafi MPsi, Psikolog. Beliau mengatakan bahwa “Aktivis milenial cenderung menyukai sesuatu hal yang bebas dan demokratis, dan itu bertabrakan dengan pola kebijakan Wiranto yang cenderung kaku dan membatasi hak-hak publik untuk berekspersi secara bebas”. Pendapatnya juga diperkuat melalui teori atribusi yang beliau kemukakan bahwa, “Teori atribusi menjelaskan tentang pemahaman akan reaksi seseorang terhadap peristiwa di sekitar mereka, dengan mengetahui alasan-alasan mereka atas kejadian yang dialami. Teori atribusi dijelaskan bahwa terdapat perilaku yang berhubungan dengan sikap dan karakteristik individu, maka dapat dikatakan bahwa hanya melihat perilakunya akan dapat diketahui sikap atau karakteristik orang tersebut serta dapat juga memprediksi perilaku seseorang dalam menghadapi situasi tertentu. Tentunya semuanya kita tahu bahwa Wiranto juga mempuyai latar belakang militer.”

Z for GAEKON

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here