Modyar! Masker Makin Langka dan Mahal!

0

Masker kesehatan sekarang ini menjadi barang paling dicari di mana-mana sehingga harganya ikut meroket naik.

Menyikapi hal ini, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengimbau produsen masker dalam negeri untuk memprioritaskan pasar domestik, alih-alih mengekspor produk tersebut menyusul konfirmasi kasus virus corona (COVID-19) di Indonesia.

“Kami akan mengimbau produsen untuk tidak mengekspor. Kebutuhan dalam negeri kita prioritaskan, itu yang pertama,” ujar Agus saat ditanyai GAEKON tentang hal ini di Jakarta, Kamis (5/3) yang lalu.

Mendag mengharapkan produktivitas produsen masker nasional dapat digenjot demi memenuhi lonjakan permintaan dalam negeri. Sebagaimana diberitakan dalam beberapa hari terakhir, sejumlah pusat-pusat perbelanjaan melaporkan adanya lonjakan permintaan alat-alat kesehatan.

Namun pada kenyataannya, harapan ini hanya seperti teori di atas kertas saja. Di lapangan, masker malah berubah menjadi komoditas baru yang keberadaannya tetap langka, dan harganya terus menerus mengalami kenaikan.

Kasus penimbunan masker dan cairan antiseptik semakin marak usai pemerintah memastikan bahwa terdapat dua pasien positif COVID-19. Kondisi ini pun diikuti oleh kenaikan harga yang tak wajar di sejumlah kanal-kanal perdagangan.

Survei yang dilakukan oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menunjukkan adanya peningkatan permintaan masker sejak Februari lalu, yang sayangnya tidak diiringi kenaikan pasokan.

Adapun sampai saat ini tercatat terdapat 28 produsen masker dalam negeri yang diawasi oleh Kementerian Kesehatan dengan distribusi oleh 28 pelaku usaha. Sementara itu, untuk produk impor, didistribusikan oleh 22 pelaku usaha.

Menteri BUMN Erick Thohir baru-baru ini mengungkapkan, sebanyak 4,7 juta masker dari perusahaan pelat merah sudah didistribusikan. Nantinya ada tambahan lagi di bulan April.

Hal tersebut disampaikan Erick dalam teleconference yang dipantau GAEKON, Selasa (24/3). “Masker yang 4,7 juta masker kita sudah didistribusikan, dan baru akan buat lagi di April ini,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Kimia Farma Verdi Budidarmo menjelaskan, 1,7 juta masker telah disalurkan Kimia Farma. Kemudian, Kimia Farma akan mendapat pasokan 3 juta masker di akhir Maret. Dengan begitu, masker yang disalurkan pada Maret saja 4,7 juta masker.

Kemudian, pada bulan April akan mendapat tambah 3 juta masker. Dengan demikian, tambahan pasokan untuk Maret dan April ialah 6 juta masker.

Dia mengatakan, tambahan itu merupakan pasokan minimal yang sudah terkonfirmasi produsen. Artinya, pasokan masih bisa bertambah banyak.

“Angka 6 juta itu minimal yang sudah konfirmasi dari produsen,” katanya.

Walaupun dengan perencanaan yang demikian, warga selama ini hanya bisa membeli masker di Kimia Farma dengan jumlah yang telah ditentukan.

Hal ini juga mengganggu golongan lain yang memang membutuhkan masker dalam keseharian mereka, seperti para penderita penyakit asthma dan alergi debu.

W For GAEKON