Ditengah Maraknya Penghapusan Mural, Mural Di Bali Ini Justru Dibuat Pemerintah Untuk Kritik Masyarakat

0

Ditengah Maraknya Penghapusan Mural, Mural Di Bali Ini Justru Dibuat Pemerintah Untuk Kritik MasyarakatGaekon.com – Mural, belakangan ini menjadi sorotan publik. Apalagi yang berbau dengan kritikan, tak usah menunggu 24 jam, aparat setempat pasti langsung menghapusnya.

Masyarakat terutama pelaku seni sepertinya mengungkapkan perasaan dan emosinya melalui sebuah coretan tersebut. Namun hal itu selalu berakhir dengan penghapusan.

Berbeda dengan yang pernah ada, di Bali, coretan mural ini justru dibuat oleh pemerintah untuk mengkritik pola hidup masyarakat. Seperti yang terjadi di Kabupaten Klungkung, Provinsi Bali. Di daerah tersebut berjajar mural-mural dengan berbagai macam gambar dan tulisan.

Merupakan Mural Terpanjang Di Bali

Mural tersebut bahkan dapat dikatakan sebagai mural terpanjang di Bali. Bagaimana tidak, mural ini terlukis di sepanjang tembok Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) di Dusun Karangdadi, Desa Kusamba, Kabupaten Klungkung. Panjang temboknya sekitar 500 meter.

Mural ini selesai dilukis pada awal Tahun 2021 dan diinisiasi oleh Bupati Klungkung, I Nyoman Suwirta.

“Mural di Karangdadi itu dilukis oleh seniman-seniman lokal Klungkung,” ungkapnya.

Meski demikian, Suwirta enggan menyebut soal berapa biaya dari mural tersebut. Namun pembiayaannya dibantu oleh CSR (Corporate Social Responsibility) dari pihak swasta.

Konsep mural tersebut sesuai dengan keinginan Suwirta yaitu tentang pengelolaan lingkungan. Secara tidak langsung, mural tersebut menggambarkan bagaimana pola hidup masyarakat sekitar, dan dampaknya terhadap lingkungan.

Dari tembok paling sisi timur, tergambar jelas bagaimana sampah menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akibat dari pengelolaan sampah yang belum berjalan di setiap desa.

Bagaimana sampah-sampah itu mengotori lingkungan perumahan, bahkan laut. Lalu ada pula gambaran sungai dan parit yang tercemar sampah, hingga akhirnya menimbulkan bencana banjir.

Sementara di bagian tembok sebelah barat tergambar bagaimana perilaku masyarakat yang mau mencoba mengelola sampahnya. Seperti pemilahan sampah dari rumah, dan dikelola dengan baik oleh Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) di setiap desa.

Kemudian mural berupa sampah plastik yang dapat dijual dan memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat.

Suwirta mengatakan bahwa mural tersebut sekaligus sebagai media edukasi yang dapat menarik minat anak-anak dan masyarakat untuk belajar mengolah sampah.

“Mural edukasi ini dibuat untuk memberikan pemahaman yang lebih, agar kesadaran masyarakat memilah sampah dari rumah tentunya semakin meningkat,” ujarnya.

Suwirta enggan berkomentar ketika disinggung mengenai mural-mural yang dihapus oleh aparat karena mengkritik pemerintah. Tetapi ia menilai, mural hanyalah media berekpresi yang seharusnya dilindungi oleh undang-undang.

D For GAEKON