Nilai Ekspor Di Posisi Pertama, Indonesia Kuasai Pasar Sarang Burung Walet Di China

0

Nilai Ekspor Di Posisi Pertama, Indonesia Kuasai Pasar Sarang Burung Walet Di ChinaGaekon.com – Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Rakyat Tiongkok, Djauhari Oratmangun, mengatakan bahwa Indonesia saat ini menguasai pasar sarang burung walet di China hingga 75,6 persen.

Seperti yang dilansir GAEKON dari Kumparan, Sarang Burung Walet (SBW) saat ini memang menjadi salah satu produk andalan Indonesia untuk diekspor ke China. Djauhari mengatakan jika nilai ekspor SBW Indonesia berada di posisi pertama.

“Nilai ekspor SBW Indonesia berada di posisi pertama. Kalau kata orang Maluku itu seng ada lawan. Kita kuasai pasar mereka 75,6 persen. Berdasarkan data China Custom nilai ekspor SBW di 2020 mencapai USD 413 juta naik 88,05 persen dari 2019 yang sebesar USD 219 juta,” terang Djauhari.

Djauhari optimistis semakin bertambahnya jumlah eksportir maka akan turut mendongkrak nilai ekspor SBW Indonesia ke Tiongkok.

Apalagi di masa pandemi, permintaan sarang burung walet naik signifikan. Saat ini ada 23 perusahaan Indonesia yang sudah terdaftar di China sebagai pemasok sarang burung walet.

“Apabila jumlah perusahaan Indonesia bertambah dari yang saat ini 23 menjadi lebih banyak lagi, tentunya akan meningkatkan nilai ekspor tersebut. Sebab demand untuk SBW atau yang kita sebut Caviar Dari Timur khususnya dalam masa pandemi ini meningkat tajam,” tambahnya.

Regulasi yang ditetapkan pemerintah Tiongkok untuk impor SBW memang sangat rumit dan memerlukan waktu yang panjang.

Hal ini dilakukan untuk memastikan mutu pangan produk impor yang akan dikonsumsi masyarakat Tiongkok, sudah sejalan dengan standar yang berlaku di sana. Apalagi SBW merupakan produk pangan dengan harga yang cukup mahal.

Djauhari mengajak Kementerian Perdagangan agar semakin solid mendorong sarang burung walet asal Indonesia bisa masuk ke pasar China.

“Saya yakin kita bisa lakukan sama-sama. Yang penting kompak dan solid. Kami sangat yakin SBW akan tetap menjadi The Caviar From The East bagi konsumen Tiongkok,” urainya.

Di luar 23 perusahaan Indonesia yang sudah terdaftar, saat ini Kedutaan Besar RI untuk RRT juga tengah membantu 13 perusahaan lainnya agar bisa terdaftar di RRT sebagai pengimpor SBW.

Menurut Djauhari 13 perusahaan ini telah melengkapi dokumen yang diminta oleh pihak RRT. Semua dokumen tersebut telah diaudit oleh pihak berwenang di RRT sejak Desember 2019. Namun karena pandemi Covid-19, hasil audit baru keluar satu tahun kemudian yaitu Desember 2020.

Dari hasil audit, Djauhari mengatakan ada beberapa dokumen yang harus diperbaiki. Pihaknya pun optimistis bisa menyelesaikannya dalam beberapa waktu ke depan.

Dari 23 perusahaan yang telah terdaftar, sebanyak 12 perusahaan lainnya sedang mengurus perizinan untuk penambahan kapasitas impor.

Di luar jumlah tersebut, masih ada 5 perusahaan lagi yang sedang antre agar bisa terdaftar di RRT sebagai pengimpor SBW.

D For GAEKON