Pandemi Covid-19 Bikin Orang Berjemur Tiap Hari, Awas Jangan Salah Kaprah!

0

Menjemur badan di bawah sinar matahari memang bermanfaat untuk kesehatan tubuh. Dengan berjemur tubuh akan mendapatkan asupan vitamin D secara alami. Mengingat tubuh manusia tidak dapat memproduksi vitamin D dengan sendirinya. Apalagi vitamin D yang didapatkan dari makanan cukup terbatas, hanya disebagian jenis makanan saja seperti kuning telur dan susu.

Aktivitas menjemur badan di bawah sinar matahari akhir-akhir ini sudah menjadi kegiatan rutin semua orang. Sejak pandemi Covid-19 setiap pagi orang berjejer di depan halaman rumah hanya untuk berjemur.

Apalagi pemerintah sudah menetapkan work from home, sehingga sebelum mulai bekerja di rumah mereka menjemur badannya di bawah sinar matahari. Kegiatan ini menjadi rutinitas semenjak beredar kabar bahwa virus corona akan mati apabila terpapar sinar matahari. Karena virus tersebut tidak dapat bertahan lama dalam suhu yang panas.

Alhasil orang beramai-ramai menjemur tubuhnya di bawah sinar matahari. Berdasarkan pengetahuan sebagian orang, menjemur yang baik adalah dibawah jam 09.00. Karena bagi mereka, di jam-jam tersebut sinar matahari belum terlalu panas seperti jam 12.00, sehingga sangat bagus untuk kesehatan. Padahal hal tersebut tidak dibenarkan.

Seperti yang dikutip GAEKON dari tribunsolo.com, masih banyak yang salah kaprah soal berjemur di bawah sinar matahari ini. Misalnya, banyak orang yang menganggap, sinar matahari terbaik adalah yang bersinar di bawah pukul 09.00. Selebihnya, matahari dianggap sumber penyakit, seperti kanker.

Anggapan tersebut justru dianggap salah kaprah. Dilansir dari Kompas.com, Ketua Perhimpunan Geriatri Medik Indonesia (Pergami), Prof dr Siti Setiati, SpPD-KGER, mengatakan, sinar matahari di atas jam 09.00 ternyata yang terbaik bagi tubuh kita.

Meskipun sinar matahari di jam tersebut sangat menyengat dan kerap diyakini tidak baik bagi kulit, namun sebenarnya sinar matahari di atas jam 09.00 sangat bermanfaat khususnya bagi lansia.


Ketua Perhimpunan Geriatri Medik Indonesia (Pergami), Prof dr Siti Setiati, SpPD-KGER juga mengatakan bahwa sinar matahari yang dianjurkan untuk berjemur bukan di bawah jam 09.00.

“Sinar matahari yang dianjurkan bukan yang di bawah jam 09.00, karena pada jam tersebut ultraviolet-B (UVB) belum ada,” kata Siti di Jakarta.

Siti juga menjelaskan ultraviolet-A dan ultraviolet-C adalah jenis UV yang tidak sehat. Sementara itu, ultraviolet-B yang justru memberikan vitamin D yang baik bagi pertumbuhan tulang dan gigi.

“Nah, UVB adanya di jam 09.00 ke atas sampai jam 15.00,” jelas Siti.

Siti menambahkan bahwa berjemur di bawah sinar matahari kebutuhan waktunya berbeda-beda. Durasi waktu berjemur disesuaikan dengan jam saat berjemur. Seperti ketika berjemur jam 09.00 durasi berjemurnya hanya cukup 15 menit. Kemudian apabila berjemur jam 11.00 maka durasinya cukup 5 menit. Semakin siang berjemur maka akan semakin sedikit kebutuhan berjemurnya.

Bukan hanya masalah jam berjemur. Namun kesalahan yang sering kita lakukan adalah soal lama waktu berjemur.Banyak yang berjemur setiap hari, padahal Siti menganjurkan, cukup 3 kali dalam seminggu.

“Ini (berjemur) cukup tiga kali seminggu,” Tambah Siti.

Kesimpulan ini didapatkan Siti setelah mengamati 74 perempuan berusia 60-90 tahun yang tinggal di empat panti werda di Jakarta dan Bekasi.

Sebanyak 74 perempuan ini dibagi menjadi dua yakni kelompok kontrol dan kelompok studi.

Kelompok kontrol hanya mendapat kalsium 1000 mg/hari, sedangkan kelompok intervensi dipajankan dengan matahari selama 6 minggu.

Hasil yang diukur sebelum dan sesudah 6 minggu paparan sinar matahari adalah konsentrasi 25(OH)D, PTH, dan ion kalsium.

Dalam pengamatan tersebut ditemukan bahwa waktu paparan yang optimal adalah 1 jam sebelum dan sesudah tengah hari.

Prevalensi defisiensi vitamin D pada wanita usia lanjut adalah 35,1 persen. Pada kelompok terpapar sinar, konsentrasi 25(OH)D meningkat lebih tinggi daripada yang tidak dipapar yakni 51,8 persen banding 12,5 persen.

Hasil tambahan adalah rerata asupan kalsium 248 mg/hari, dan rerata asupan vitamin D 28 IU/hari.

Bagi perempuan lanjut usia, vitamin D berperan penting untuk mencegah osteoporosis, osteomalasia, kelemahan otot, jatuh dan fraktur osteoporotik. “Matahari kita perlukan, ini paling murah soalnya dari pada suplemen vitamin D. Dan jangan berlebihan, nanti bisa kena kanker kulit kalau kata dokter kulit. Tetapi tenang saja, kita orang Indonesia diperkaya dengan melanin yang bisa melindungi kita,” kata Siti.

KL For GAEKON