Pemerintah Larang Sholat Idul Fitri, Ini Respon 3 Ormas Islam

0

Gaekon.com – Sholat Idul Fitri 1441 H tahun ini dilarang untuk digelar. Baik di masjid atau tanah lapang, pemerintah melarang ibadah tersebut demi menekan penularan Covid-19.

“Pertama di tengah masyarakat ini sekarang timbul diskusi, apakah sholat Id boleh dilakukan di masjid atau lapangan seperti yang sudah-sudah sebelum adanya COVID, maka tadi kesimpulannya bahwa kegiatan keagamaan sifatnya masif, seperti sholat berjamaah, atau sholat Id di lapangan termasuk kegiatan yang dilarang oleh Permenkes Nomor 9 Tahun 2020 tentang PSBB,” kata Menko Polhukam Mahfud MD.

Mahfud menegaskan bahwa kebijakan itu berdasarakn UU Nomor 6 Tahun 2018 tentang Karantina Wilayah. Isinya, kegiatan keagamaan yang sifatnya masif termasuk kegiatan yang dilarang. Dia meminta agar masyarakat mematuhi aturan itu.

Keputusan itu membuat tiga ormas islam buka suara. Mulai dari Muhammadiyah, NU dan Dewan Masjid Indonesia. Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah meminta jajarannya untuk mengikuti arahan pemerintah terkait larangan melaksanakan sholat Idul Fitri berjamaah di lapangan atau masjid. Muhammadiyah berharap warganya dapat mematuhi perintah itu.

“Harap mematuhi Edaran PP. Muhammadiyah dan aturan Pemerintah,” ujar Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti.

“Apabila pada tanggal 1 Syawal 1441 H yang akan datang keadaan negeri Indonesia oleh pihak berwenang (pemerintah) belum dinyatakan bebas dari pandemi COVID-19 dan aman untuk berkumpul orang banyak maka Sholat Idul fitri di lapangan sebaiknya ditiadakan atau tidak dilaksanakan. Hal itu untuk memutus rantai mudharat persebaran virus corona tersebut agar kita cepat terbebas daripadanya dan dalam rangka sadduẓ-ẓarīʻah (tindakan preventif),” bunyi surat edaran yang ditandatangani oleh Ketum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir Kamis (14/5).

Lebih lanjut, Muhammadiyah mengatakan, perkumpulan orang banyak dapat memudahkan penyebaran virus Corona. Sehingga pihaknya meminta agar sholat Id dilaksanakan di rumah.

“Lantaran kondisi lingkungan belum dinyatakan oleh pihak berwenang bersih (clear) dari COVID-19 dan aman untuk berkumpul banyak orang, maka sholat Id bagi yang menghendaki dapat dilakukan di rumah masing-masing bersama anggota keluarga dengan cara yang sama seperti sholat Id di lapangan,” katanya.

“Bahkan sebaliknya, tidak ada ancaman agama atas orang yang tidak melaksanakannya, karena sholat Id adalah ibadah sunah,” imbuhnya.

Sementara itu, PBNU meminta warganya yang berada di zona merah untuk mematuhi larangan pemerintah untuk tidak melaksanakan sholat Idul Fitri di lapangan ataupun di masjid. PBNU meminta agar mengikuti arahan dalam penanganan COVID-19 itu.

“Sesuai Surat Edaran Nomor 3953/C.I.034/04/2020 tanggal 3 April 2020, selama terjadi pandemi corona PBNU menganjurkan agar umat Islam melaksanakan ibadah di rumah atau sesuai protokol COVID-19 yang ditetapkan pemerintah, termasuk sholat Idul Fitri,” ujar Ketua PBNU, Robikin Emhas.

“Hal itu karena pada COVID-19 mengandung unsur yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan orang. Oleh karena itu umat Islam harus menghindari bahaya tersebut dan sekaligus membahayakan orang lain,” imbuhnya.

Robikin menyebut untuk tetap di rumah adalah salah satu upaya untuk mengurangi penularan Corona. Seperti halnya melaksanakan Sholat ID di rumah.

“Belajar dari rumah, kerja dari rumah dan beribadah dari rumah, termasuk tarawih dan sholat Idul Fitri di rumah adalah dalam rangka menghindari bahaya tertular COVID-19 atau mencegah penularan kepada orang lain,” kata Robikin.

Selain itu warga NU diminta untuk tidak melaksanakan takbiran keliling. Serta melakukan silaturahmi cukup dengan menggunakan media sosial.

“Turunannya, dianjurkan juga agar takbiran juga dilakukan dari rumah masing-masing. Tidak takbir keliling. Silaturahim juga cukup melalui daring. Bisa kirim pesan singkat, voice call atau video call. Tidak perlu menggelar halal bihalal sebagaimana lazim dilakukan sebelum-sebelumnya,” kata dia.

“Imbauan itu berlaku bagi daerah yang merupakan zona merah. Berapa dengan zona hijau,” imbuhnya. Surat Edaran itu disampaikan kepada struktur NU mulai dari tingkat provinsi hingga desa,” tutur Robikin.

Sedangkan, Dewan Masjid Indonesia (DMI) tidak mengeluarkan larangan terkait pelaksanaan sholat Idul Fitri di Masjid. Namun DMI menyarankan agar sholat dilaksanakan di rumah.

“Nggak ada perintah atau melarang, yang DMI lakukan adalah semacam pencerahan aja. Situasi COVID ini jika belum mereka demi keamanan, maka cara pelaksanaan Sholat Tarawih atau Sholat Id itu harus memberikan jaminan pelaksanaan distancing, baik physical ataupun social distancing,” kata Sekjen DMI, Imam Addaruqutni.

“Kedua itu boleh opsional, melaksanakan di lapangan atau di masjid, atau lebih baik di rumah,” kata dia. Imam mengatakan pelaksanaan sholat Id di lapangan atau masjid dengan menerapkan protokol kesehatan hanyalah opsional. DMI lebih menyarankan agar sholat dilaksanakan di rumah untuk menghindari pencegahan virus Corona.

Imam kemudian meminta umat muslim untuk mengikuti arahan dari MUI. Dia menyebut panduan Sholat Id di rumah sudah diberikan oleh MUI.

“Apalai MUI di mana DMI bagian dari anggotanya juga telah mengeluarkan panduan untuk Sholat Id di rumah. Jadi DMI tidak memiliki kompetensi untuk melarang. Yang melakukan itu kan pemerintah, kalau kita melarang atau memerintah kan kita tidak punya instrumen penegakan hukumnya tidak ada,” ungkapnya.

K For GAEKON