Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19) masih terus menjadi perbincangan publik. Pemerintah sudah melakukan upaya untuk pencegahan virus tersebut, namun masih saja jumlah pasien terus bertambah.

Menurut data hari Rabu 25 Maret 2020 Jumlah pasien positif terinfeksi virus corona (Covid-19) bertambah menjadi 790 orang. Dari jumlah tersebut, korban meninggal mencapai 58 orang, dengan jumlah yang sembuh 31 orang.

“Koreksi data 686 pasien positif kemarin, menjadi 685 kasus. Ditambah hari ini ada 105, sehingga totalnya 790 kasus,” kata juru bicara pemerintah untuk penanganan Covid-19, Achmad Yurianto dalam keterangan persnya kemarin, di Jakarta.

Mengingat terus bertambahnya jumlah pasien yang positif, petugas medis mulai kekurangan alat pelindung diri (APD) untuk menangani pasien. Hal ini akan menyebabkan petugas medis menjadi terancam tertular dari pasien karena mereka bekerja tanpa alat pelindung diri (APD) yang memadai.

Terus meningkatnya kebutuhan APD bagi petugas medis ini membuat salah satu peneliti dari Amerika Serikat berinovasi untuk mengatasi hal ini.

Peneliti dari Rumah Sakit Anak Boston, Amerika Serikat, mengklaim berhasil menciptakan masker bagi petugas medis yang bisa dipakai berulang kali. Masker tersebut diharapkan bisa mengatasi kelangkaan masker N95 akibat pandemi virus corona yang menyebabkan Covid-19.

Kelangkaan alat pelindung diri (APD) seperti masker, kacamata, hingga pakaian pelindung tubuh merupakan masalah terpenting bagi petugas kesehatan. Karena mereka termasuk garda depan yang terus menghadapi beban risiko terbesar terkait ke Covid-19.

Para peneliti mengatakan masker hasil penelitian yang disebut ‘respirator’ di bidang medis itu berfungsi sebagai cadangan untuk respirator N95 yang sangat berharga, namun terancam punah.

Selain memberikan perlindungan yang efektif terhadap virus, respirator baru tersebut memiliki manfaat tambahan karena relatif murah dan dapat digunakan kembali.

Berdasarkan pantauan gaekon dari Forbes, setiap respirator baru dapat diproduksi dengan biaya sekitar US$3. Petugas kesehatan dapat memproduksinya dengan cepat menggunakan persediaan medis yang murah dan sudah tersedia di sebagian besar rumah sakit, misalnya masker anestesi, filter ventilator, dan tali elastis.

Para peneliti mengingatkan masker baru ini bukan pengganti untuk APD konvensional meski akan sangat berguna jika penyedia layanan kesehatan kehabisan N95. Para peneliti diketahui telah menguji masker baru itu terhadap orang sehat.

Dalam pengujian tersebut, sukarelawan dalam kondisi stabil setelah menggunakan masker selama 20 menit.

Ribuan petugas layanan kesehatan di AS saat ini sangat ketakutan karena bisa terinfeksi Covid-19 melalui udara dari pasien yang positif Covid-19. Hal ini sangat ditakutkan, karena ketika satu petugas kesehatan yang terinfeksi maka petugas kesehatan yang lain dapat terinfeksi secara berjenjang.

Berdasarkan data, rata-rata orang yang terinfeksi Covid-19 kemungkinan menginfeksi 1 hingga 3 orang. Cepatnya proses penularan tersebut karena Covid-19 dapat ditularkan melalui udara.

Kekurangan masker telah melanda AS selama seminggu terakhir. Selain penjatahan, dokter disarankan untuk menggunakan kembali masker yang digunakan saat mengunjungi pasien. Hal ini dilakukan untuk menghemat persediaan masker.

Berdasarkan pantauan Gaekon dari Business Insider, dalam pedoman terbaru untuk mengatasi kekurangan masker, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS merekomendasikan bahwa petugas medis mungkin dapat menggunakan masker buatan sendiri misalnya bandana atau syal untuk merawat pasien dengan Covid-19 sebagai upaya terakhir jika peralatan lain tidak tersedia.

Epidemiolog Universitas New York, Celine Gounder mengaku khawatir dengan rekomendasi CDC. Dia berkata tidak ada bukti bahwa rekomendasi itu bisa melindungi penularan Covid-19.

“Walaupun mengenakan syal atau bandana mungkin membantu mencegah orang sakit dari menularkan infeksi Covid-19 kepada orang lain dengan menjebak tetesan pernapasan, tapi tidak aman bagi petugas kesehatan untuk mengandalkan syal dan bandana untuk melindungi diri mereka sendiri dari infeksi oleh pasien mereka,” kata Gounder.

Pedoman CDC sendiri mengakui bahwa bandana atau syal yang diikat di wajah masih belum dianggap sebagai alat pelindung diri.

KL For GAEKON