Peneliti Temukan Bahan Baku Beton dari Urine Astronaut

0

Jika mendengar kata ‘urine’ pasti identik dengan sesuatu yang kotor. Namun baru-baru ini penelitian menemukan bahan baku beton dari urine dan urea astronaut dicampur dengan tanah untuk membangun pangkalan di permukaan Bulan.

Seperti yang dikutip GAEKON dari laman CNNIndonesia, penelitian ini dilakukan oleh gabungan peneliti internasional yang bekerja sama dengan Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA).

Pangkalan Bulan memang diperlukan sebagai tempat tinggal astronaut yang akan melakukan misi di Bulan pada 2024.

Namun mendirikan bangunan di Bulan membutuhkan biaya yang sangat mahal. Menurut sebuah survei hanya mengangkut bahan seberat 0,45 kg ke orbit saja harus mengeluarkan biaya sekitar US$10 ribu atau lebih dari Rp150 juta.

Bulan memiliki banyak bahan yang dapat digunakan untuk mendirikan bangunan. Namun proses ini membutuhkan sejumlah besar bahan kimia dan air yang perlu diangkut dari Bumi. Di sinilah urea bisa digunakan.

Menurut ESA, bahan baku beton yang terbuat dari campuran urine, urea manusia, dan tanah dianggap lebih praktis dan murah daripada mengirim komponen bahan bangunan dari Bumi ke luar angkasa.

Penelitian yang dihelat ESA dan sejumlah peneliti itu dipublikasikan berbentuk jurnal yang berjudul, “Utilization of Urea as an Accessible Superplasticizer on The Moon for Lunar Geopolymer Mixtures,“. Jurnal tersebut dapat diakses dalam situs ScienceDirect secara gratis.

Berdasarkan penelitian tersebut, pangkalan Bulan perlu dibangun karena permukaan Bulan jauh lebih keras dari Bumi. Hal inidikarenakan fluktuasi suhu hingga radiasi yang ekstrem.

Pencampuran urea dan urine manusia dimaksudkan sebagai plasticizer yang akan membuat tekstur beton lebih fleksibel sebelum terjadi proses pengerasan. Nantinya, semua bahan akan dicampur dan dicetak 3D.

Saat menguji penggunaan urea dan urine sebagai plasticizer, tim peneliti menggunakan bahan yang dikembangkan ESA mirip dengan regolith atau material lepas dari permukaan Bulan.

Mereka menguji urea dengan bahan plasticizer untuk mengukur seberapa besar berat yang bisa didukung. Mereka juga menguji ketahanan bahan dengan cara memanaskan material pada suhu 80 derajat Celsius.

Pengujian yang dilakukan tidak hanya sekali saja, namun berulang-ulang. Para peneliti juga mencairkan bahan beton untuk mereplikasi siklus suhu ekstrem yang terjadi di permukaan Bulan.

“Air yang berasal dari urine dapat digunakan untuk campuran beton, tetapi mungkin saja ada komponen lainnya yang juga dapat digunakan untuk membentuk beton mengunakan bahan geopolimer,” kata salah satu peneliti dari Universitas Norwegia, Anna-Lena Kjoniksen dikutip dari Space.com.

Melansir dari laman Kompas.com, para ilmuwan di Bumi sudah melakukan percobaan untuk menentukan bahan mana yang layak untuk digunakan dalam membangun pangkalan Bulan. Meskipun demikian, ada beberapa masalah yang perlu dipertimbangkan. Di antaranya temperatur Bulan yang bervariasi, dari 120 derajat Celcius pada siang hari, dan minus 130 derajat Celcius pada malam hari.

Bahkan, kondisi temperatur suhu di Bulan bisa lebih dingin dari wilayah kutub. Oleh karena itu, bahan bangunan yang disiapkan harus mampu menahan panas yang dapat berubah secara signifikan.

Selain itu, Bulan tidak memiliki lapisan atmosfer, sehingga permukaannya selalu terkena banyak radiasi. Tentunya, tanpa atmosfer, tidak ada yang bisa membakar meteor yang mungkin bisa menghujani kapan saja.

Diperkirakan sebanyak 44.000 kilogram bahan meteor menghantam Bumi setiap harinya, sehingga ada banyak potensi bombardir meteor yang harus ditahan oleh struktur Bulan.

Hingga saat ini, penelitian menemukan material yang tepat untuk membangun pangkalan di Bulan masih terus dilakukan.

Sebagai informasi, misi mengirimkan astronaut Amerika kembali ke Bulan tersebut memakan biaya sekitar US$20 miliar hingga US$30 miliar atau sekitar Rp287 triliun hingga Rp340 triliun.

Artemis 2024 pertama kali diumumkan oleh Wakil Presiden Amerika Mike Pence pada Maret 2019 bahwa administrasi Trump ingin mempercepat ambisi bulan NASA dan meluncurkan misi kru pertama pada 2024 bukan 2028.

Sejauh ini, NASA secara resmi hanya meminta tambahan US$1,6 miliar untuk Artemis, yang digambarkan oleh Bridenstine sebagai ‘uang muka’ untuk keseluruhan program. Bridenstine juga harus menang atas Demokrat yang sudah skeptis.

NASA juga berencana mengirim perempuan pertama untuk misi ke Bulan itu. Rencana ini diungkap oleh direktur komunikasi NASA, Bettina Inclan.

KL For GAEKON