Peneliti Temukan Fosil Akar Hutan Hujan Kuno Di Antartika

0

Antartika yang sekarang sudah menjadi daratan es, sekitar puluhan juta tahun yang lalu ternyata merupakan hutan hujan dengan iklim hangat yang ditumbuhi dengan tanaman purba. Penemuan ini telah diteliti oleh gabungan tim peneliti dari Inggris dan Jerman.

Hutan hujan ini diketahui ada sejak 90 juta tahun yang lalu. Setelah peneliti menganalisis inti es yang di ambil dari Antartika ini, ternyata salah satu bagian intinya menarik perhatian para peneliti. Karena bagian tersebut memiliki warna yang cukup aneh.

Awalnya para peneliti melakukan pengeboran sampai ke dasar laut Amundsen yang juga dekat dengan lokasi gletser Pulau Pinus dan Thwaites dan berjarak sekitar 900 kilometer dari Kutub Selatan.

Pada waktu menyentuh kedalaman 30 meter, mereka menemukan komposisi sedimen yang lebih dekat ke permukaan. Pewarnaan yang tidak biasa pada lapisan sedimen tersebut menarik hati para peneliti.

Analisis pertama yang dilakukan mereka menemukan lapisan yang awalnya terbentuk di darat. Penemuan ini pada kedalaman sekitar 27-30 meter di bawah dasar laut. Data tersebut kemudian dihimpun dan mereka kembali ke darat untuk melakukan pemindaian.

Pemindaian tersebut cukup rumit, karena gambar yang didokumentasikan berupa akar-akar tanaman yang sudah menjadi fosil. Para peneliti kemudian melakukan analisis dengan metode mikroskopis.

Fosil tersebut terpelihara dengan baik, sehingga mereka bisa melihat struktur selnya dengan jelas. Fosil tersebut juga mengandung banyak jejak serbuk sari dan spora tanaman yang tidak terhitung jumlahnya.

Melansir dari Science Daily, para peneliti kemudian merekonstruksi lingkungan hutan hujan ini. Hasilnya, suhu rata-rata tahunan Antartika pada saat itu adalah sekitar 12 derajat Celcius. Sementara itu, pada musim panas suhunya mencapai 19 derajat Celcius dan suhu air berkisar hingga 20 derajat Celcius.

Para peneliti akhirnya menyimpulkan, jika 90 juta tahun yang lalu Antartika ditutupi vegetasi lebat. Tidak ada massa es di wilayah tersebut.

Seorang peneliti dari Alfred Wegener Institute Helmholtz Center for Polar and Marine Research, Johann Klages mengatakan, jika konsentrasi karbon dioksida di atmosfer ternyata jauh lebih tinggi daripada asumsi sebelumnya.

“Sebelum penelitian, asusmsi umum adalah konsentrasi karbon dioksida globa di periode Cretaceous sekitar 1000 ppm. Tapi dalam model percobaan kami, tingkat konsentrasi berada pada 1120-1680 ppm,” kata Johann.

Lebih lanjut, melansir dari Newsweek, peneliti mengungkapkan jika tidak ditemukan bukti jenis-jenis hewan yang mungkin hidup di hutan di masa Antartika saat itu. Johann mengatakan dapat diasumsikan kemungkinan ada banyak spesies yang hidup di sana, bahkan mungkin dinosaurus.

“Akan lebih mengejutkan jika tidak (ada hewan yang hidup di Antartika di masa itu),” kata Johann.

Mengutip dari CNN, Temuan tersebut dimulai dari ekspedisi yang mereka lakukan pada 2017 di lautan Amundsen. Lautan Ini terletak di bagian barat Antartika. Mereka melakukan ekspedisi ini dengan menggunakan kapal RV Polarstern.

Peneliti lain dari Imperial College London, Inggris, Tina van de Flierdt mengatakan penemuan luar biasa yang dipublikasikan di jurnal Nature ini tentunya tetap membuka pandangan baru mengenai Antartika.

“Daratan beku itu (Antartika) ternyata dulunya hutan hujan berawa dengan iklim jauh lebih hangat dari yang kita bayangkan,” ungkap Flierdt.

Para peneliti pun berkesimpulan bahwa hutan hujan kuno Antartika memberikan mereka pemahaman tentang hubungan antara konsentrasi karbon dioksida dan iklim kutub saat masa prasejarah.

KL For GAEKON