Peneliti Temukan Fosil Dinosaurus Berbulu ‘Dineobellator notohesperus’

0

Washington- Fosil dinosaurus berbulu (Dineobellator notohesperus) ditemukan oleh para peneliti di New Mexico barat laut, Meksiko. Apabila dilihat dari bekas luka di salah satu cakar berbentuk sabit yang menakutkan, dinosaurus zaman kapur ini biasa bertarung dengan sesama spesiesnya.

Fosil yang menakutkan ini merupakan predator gesit dan lincah yang mampu memburu mangsa lebih kecil atau bahkan menyerbu mangsa yang lebih besar. Serangan secara berkelompok ini sudah terjadi pada 67 juta tahun yang lalu.

Berdasarkan kutipan GAEKON dari Antara yogya, Peneliti juga mengumumkan penemuan Dineobellator notohesperus ini adalah pemakan daging berkaki dua yang relatif kecil. Dineobellator notohesperus ini memiliki panjang sekitar 7 kaki (2 meter) dan tinggi 3 kaki (1 meter) di pinggul.

Berat badan yang dimiliki Dineobellator notohesperusini adalah sekitar 40-50 pound (18-22 kg). Meskipun tidak begitu besar, namun keganasan Dineobellator luar biasa.

Dineobellator atau yang bernama “Kesatria Navajo” ini dipilih untuk menghormati penduduk asli Amerika yang tinggal di daerah tersebut. Mereka bagian dari garis keturunan dinosaurus yang sama, dromaeosaurus, spesies terkenal bernama Velociraptor yang hidup sedikit lebih dulu di Mongolia.

Penelitian ini dipimpin oleh seorang Ahli Paleontologi Steven Jasinski dari State Museum of Pennsylvania di Harrisburg. Ia mengatakan bahwa Dineobellator notohesperusmerupakan predator yang sangat aktif dan cepat.

“Mereka adalah predator aktif dan cepat. Cakarnya dapat berukuran sampai beberapa inci panjangnya dan cukup kuat, kurang efektif untuk mengiris daging, cakar mereka mungkin lebih berguna untuk mencengkram sesuatu,” Kata Steven, dikutip dari Antara yogya.

Dalam tulisannya yang diterbitkan, Steven juga menjelaskan bahwa pada cakar empat inci (10 cm) di tangan kanannya terdapat luka yang cukup dalam. Luka tersebut mengindikasi bahwa disebabkan oleh perkelahian antar sesama spesies mereka sendiri.

“Kami berhipotesis itu disebabkan oleh perkelahian dengan Dineobellator lain,” Lanjut Steven.

Steven juga mengatakan perkelahian hewan berkelompok seringkali disebabkan oleh beberapa hal, seperti sumber daya makanan, wilayah, dan bahkan sinar matahari. Steven menambahkan perkelahian ini juga mungkin antara dua pejantan atas pasangan, atau seekor betina melawan pejantan yang agresif ketika dia mungkin tidak merasa siap untuk kawin.

Tulang rusuk yang dimiliki fosil dinosaurus tersebut juga seperti sembuh dari patah. Menurut Steven hal tersebut membuktikan bahwa Dineobellator notohesperus tidak hanya menunjukkan kehidupan yang sulit, tetapi juga menunjukkan dinosaurus ini mampu hidup walaupun ia menghadapi beberapa cedera.

Dineobellator notohesperus mempunyai senjata di mulutnya, yaitu barisan gigi pemotong. Dineobellator hidup di dekat akhir zaman dinosaurus, sekitar satu juta tahun sebelum hantaman asteroid memusnahkan mereka. Mereka menghuni dataran banjir yang penuh dengan dinosaurus lain termasuk predator yang jauh lebih besar dan berbagai dinosaurus pemakan tumbuhan.

“Menggabungkan fitur-fitur ini menunjukkan Dineobellator adalah pemangsa yang cepat dan terampil serta dapat berlari ke mangsa yang lebih kecil dan menyerang serta melompat ke mangsa yang lebih besar, mencengkeram dengan kaki depan yang lebih kuat dan pegangan yang lebih erat,”

Dineobellator notohesperus memiliki inovasi evolusi yang membedakannya dari jenis dromaesaurus lainnya dengan kekuatan cengkeraman yang lebih unggul di tangannya, peningkatan kelenturan di lengan dan struktur ekor yang unik.

Sekitar 25 persen kerangka Dineobellator notohesperus ditemukan. Steven menambahkan bahwa dinosaurus ini masih terus berusaha dan terus mencoba jalur evolusi baru bahkan pada saat mereka hampir punah.

KL For GAEKON