Peneliti Ungkapkan Meditasi Dapat Memperlambat Penuaan Otak

0

Kebanyakan orang salah mengartikan meditasi. Mereka mengganggap meditasi sama dengan melamun sehingga meditasi dianggap hanya membuang waktu dan tidak ada gunanya.

Padahal meditasi memiliki sejumlah manfaat. Meditasi yang kita lakukan manfaatnya bisa dirasakan secara langsung maupun tidak langsung secara fisik. Jika kita sedang menderita sakit tertentu, dengan meditasi kita akan sembuh. Dari sudut pandang fisiologis meditasi ini merupakan anti stres yang paling baik.

Seperti yang dikutip GAEKON dari laman CNNIndonesia, meditasi, tidak hanya baik untuk kesehatan mental seperti mencegah kecemasan di tengah pandemi virus corona penyebab Covid-19. Meditasi juga sangat baik untuk kesehatan otak. Hampir semua pakar kesehatan sepakat dengan pernyataan tersebut.

Studi terbaru menunjukkan, meditasi rutin setiap hari mampu menghambat penuaan otak. Analisis selama 18 tahun yang dilakukan Tim peneliti dari University of Wisconsin-Madison dan Harvard Medical School ini mendapati meditasi intensif setiap hari dapat memperlambat penuaan otak hingga delapan tahun.

Proyek penelitian yang dilakukan pada 1990-an ini berawal dari hubungan ahli saraf Richard Davidson dengan Dalai Lama. Davidson melihat terdapat hubungan antara emosi positif dan kesehatan otak, yang menjadi dasar penelitian ini.

“[Dalai Lama] benar-benar mendorong saya untuk meneliti tradisi mereka dengan alat-alat sains moderen,” terang ahli saraf, Richard Davidson dalam tulisannya.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neurocase itu, dilakukan dengan menganalisis seorang biksu yang bermeditasi setiap hari dan dampaknya terhadap otak.

Penelitian ini mempelajari otak seorang biksu Buddha Tibet. Seperti yang dikutip dari Mediaindonesia, biksu Buddha Tibet ini bernama Yongey Mingyur Rinpoche. Biksu berusia 41 tahun itu telah mempraktikkan meditasi hampir setiap hari dalam hidupnya. Ia menunjukkan kemampuan meditasi di atas rata-rata dan sebagai guru meditasi sejak beberapa tahun silam.

Tim peneliti memindai empat kali otak Yongey Mingyur Rinpoche menggunakan mesin MRI selama 14 tahun terakhir. Dalam periode yang sama tersebut, para peneliti juga mencatat pindaian otak MRI dari kelompok kontrol yang terdiri dari 105 orang dewasa lainnya dari daerah setempat yang usianya mendekati Yongey Mingyur Rinpoche.

Para peneliti kemudian menyerahkan semua pemindaian otak ke sistem kecerdasan buatan (AI) yang disebut kerangka Brain Age Gap Estimation (BrainAge). Sistem BrainAge telah dirancang untuk menerka tentang usia seseorang dengan melihat hasil pindaian otak. Hal itu dilakukan dengan memperhatikan struktur materi abu-abu di otak, yang massanya akan berkurang seiring bertambahnya usia seseorang.

Sistem BrainAge menilai usia Yongey Mingyur Rinpoche adalah 33 tahun. Sedangkan 105 orang lainnya dalam kelompok kontrol masuk ke dalam kategori yang memiliki penuaan tipikal.

Hasil tersebut ditafsirkan oleh tim peneliti sebagai bukti penuaan otak Yongey Mingyur Rinpoche lebih muda delapan tahun dibandingkan kelompok kontrol. Tim peneliti juga mencatat bahwa otak Yongey Mingyur Rinpoche menunjukkan telah matang lebih awal dibandingkan otak lainnya dalam kelompok kontrol.

“Jika efek ini terakumulasi dari waktu ke waktu, kami pikir akan ada implikasi kesehatan dan kesejahteraan yang sangat penting,” tegas Richard Davidson.

KL For GAEKON