Perajin Peti Mati Di Kota Mojokerto Kewalahan Terima Orderan

0

Perajin Peti Mati Di Kota Mojokerto Kewalahan Terima OrderanGaekon.com – Angka kematian kasus Covid-19 di Jawa Timur semakin memprihatinkan. Hal ini membuat perajin peti mati di Kota Mojokerto banjir pesanan bahkan sampai kewalahan.

Seperti yang dilansir GAEKON dari Liputan6, Perajin peti mati di Mojokerto kewalahan menerima orderan beberapa hari terakhir ini. Menurut sang pemilik usaha, Purwaningtyas (75) jumlah permintaan peti mati mengalami peningkatan.

Permintaan Membludak Seiring Angka Kematian Pasien Covid Di Kota Mojokerto

Bahkan dua minggu terakhir angka covid-19 membludak seiring dengan angka kematian pasien covid-19 di Kota Mojokerto. Purwaningtyas mengatakan bahwa sejak pandemi sudah 250 lebih peti yang terjual.

“Kalau dihitung sejak awal adanya Corona ya mungkin sudah 250 lebih peti mati yang sudah terjual dipesan dari berbagai rumah sakit rujukan hingga gereja. Tapi yang paling banyak memang untuk pasien Covid-19,” ungkapnya.

Purwaningtyas mengaku sampai menolak pesanan dikarenakan minimnya pekerja dan bahan, sehingga ia kewalahan mengerjakan itu semua. Dalam sehari biasanya ia bisa memproduksi 1 sampai 2 peti mati.

“Dalam sehari, minim bisa membuat satu sampai dua peti mati, itupun melihat dari jumlah pekerja, satu pekerja mampu membuat satu peti mati saja. Kita juga terbatas lokasi sehingga membuatnya juga terbatas,” katanya.

Selama ini Purwaningtyas sudah menyiapkan stok peti mati banyak, sehingga ia bisa menerima pesanan dalam jumlah banyak.

Terhitung sejak dua minggu terakhir, permintaan dari Kabupaten dan Kota Mojokerto sudah ada 20 lebih peti mati. Sementara itu untuk harga peti mati ini berkisar dari Rp 1 sampai Rp 1,4 juta. Sedangkan untuk peti bayi dijual dengan harga Rp 600 ribu.

Purwaningtyas mengaku bahwa tak sampai hati menaikkan harga peti yang dijualnya itu. Karena menurutnya, menjual peti mati sama dengan membantu orang terkena musibah.

”Buat bantu sesama, juga bantu pekerja saya. Gini kalau ditinggal mati oleh keluarga kan sudah susah dan sedih, masak kita juga tega mempermainkan harga apa lagi menaikkan. Masak ya bersyukur banyak orang mati,” terangnya.

Kerajinan peti mati di Kelurahan Magersari Kota Mojokerto ini dimulai di tahun 1970. Purwaningtyas merupakan generasi ketiga yang meneruskan usaha ini. Diawali oleh mendiang ayahnya, Sudamono, kemudian usaha ini diteruskan oleh kakaknya hingga akhirnya dikelola olehnya.

D For GAEKON