Tak Kunjung Diperbaiki, Perempuan Asal Bolmut Ingin Jual Ginjal Untuk Bangun Jembatan Di Desanya

0

Tak Kunjung Diperbaiki, Perempuan Asal Bolmut Ingin Jual Ginjal Untuk Bangun Jembatan Di DesanyaGaekon.com – Seorang perempuan asal Desa Olot II, Kecamatan Bolangitang Barat, Kabupaten Bolmong Utara (Bolmut), Alin Pangalima mendadak viral di media sosial. Alin mengaku ingin menjual ginjalnya untuk membangun jembatan di desanya.

Alin ingin menjual ginjalnya agar mendapatkan dana untuk membangun jembatan Goyo yang merupakan jembatan penghubung di desanya.

Hal ini merupakan bentuk protesnya kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang tak kunjung memperbaiki jembatan tersebut.

“Soalnya dana daerah katanya ndak cukup untuk membiayai pembangunan jembatan yang sudah 16 tahun mangkrak. Mungkin “ginjal” saya bisa sedikit membantu,” narasi yang ditulis Alin.

Dalam foto yang beredar terlihat Alin mengenakan pakaian serba hitam sembari membawa spanduk bertuliskan ingin menjual ginjal.

Alin memposting foto itu di akun facebooknya Sabtu (7/5) sekitar pukul 17.27 WITA. Postingannya ini sendiri sudah dikomentari ratusan netizen dan dibagikan puluhan orang. Begini bunyi postingan Alin terkait alasan kenapa jembatan harus diperjuangkan:

Pertama, ketika terjadi banjir dan sungai meluap, maka akses penghubung antara Ollot dan Goyo akan seekstrem ini. Bayangkan jika ada orang yang lagi kena sial terus masuk ke dalam sungai lalu tengelam dan meninggal, siapa yang bertanggung jawab?

Kedua, biaya yang harus dikeluarkan untuk menyebrang sungai lewat rakit. Saat sungai normal, biayanya 3.000 rupiah sekali lewat. Bayangkan masyarakat berapa kali lewat dalam sebulan di tempat ini.

Apalagi masyarakat Bolangitang dan sekitarnya ada juga yang berkebun di seberang sungai, maka bisa dipastikan biaya yang mereka keluarkan 6.000 rupiah per hari, yang jika rutin ke kebun dan dijumlahkan dalam sebulan menelan biaya yang cukup untuk membeli beras untuk dimakan sepekan. Jumlahkan saja berapa totalnya.

Belum lagi jika sungai sedang banjir dan air meluap bagaikan janji Pemda, biayanya jadi berlipat ganda, 10.000 rupiah sekali lewat, dengan risiko yang cukup tinggi. Bayangkan jika datang musim penghujan, berapa biaya yang harus dikeluarkan. Sedangkan penghasilan masyarakat rata-rata memprihatinkan (soalnya kita rasa sandiri).

Kedua, mengingat tiang jembatan yang sudah “tatono” selama kurang lebih 16 tahun lamanya, bahkan sebelum Bolmut menjadi daerah otonom baru di Sulawesi Utara. Sangat disayangkan jika pemerintah terus mempertontonkan kegagalan di tengah masyarakat, dengan dalih “nanti, nanti, nanti”.

Ketiga, banyaknya kecelakaan ketika melewati sungai saat sedang hujan maupun tidak menjadikan jembatan memang layak diperjuangkan. Saya pun menyaksikan sendiri betapa kejadian kecelakaan itu terjadi di depan mata. Mungkin bisa ditanyakan kepada yang bertugas menyeberangkan kendaraan, berapa korban yang sudah “tabulengkar” di situ.

Keempat, karena jembatan yang hampir dimuseumkan itu, menjadikan Goyo menjadi lebih tertinggal daripada dusun lainnya. Saya kadang iri dengan Pangkusa yang meski di pedalaman dan sulit jaringan, tapi ada jembatannya. Indah pula.

Ketertinggalan itu membuat siapapun yang pernah menginjakkan kaki langsung di tanah Goyo, akan tahu bagaimana sulitnya masyarakat. Karena seperti yang kita tahu bersama, bahwa bukan hanya jembatan yang terbengkalai, tapi jalan juga yang belum diaspal sepenuhnya membuat masyarakat menjadi berlipat ganda kesulitannya.Yang jika orang hamil muda lewat secara terus menerus di jalan Goyo itu, pasti akan mengalami keguguran atau bahkan lahir prematur. Juga banyaknya kecelakaan yang terjadi menjadikan ini sekali lagi layak diusut tuntas. Sangat disayangkan sekali.

Dan kabar baiknya, semoga tahun ini jalan “spanggal” itu akan diteruskan pembangunannya. Jika tidak, som ba demo jo dg.

Yang lainnya nanti saya jelaskan di tulisan lain. So isya kwa.

Salam akal sehat.

Kementerian PUPR kemudian langsung merespon dan melakukan Zoom Meeting terkait dengan pembangunan jembatan Goyo.

Untuk diketahui, perjuangan Alin Pangalima terkait pembangunan Jembatan Goyo sudah dilakukannya sejak lama. Bahkan pada 12 April 2022, Alin memposting tulisan panjang tentang alasannya memperjuangkan pembangunan jembatan di desanya.

D For GAEKON