Sempat dicokok polisi pada malam hari lalu digelandang ke Markas Polda Metro Jaya adalah nasib yang harus diterima dengan ikhlas oleh Ananda Badudu. Aktivis kemanusiaan dan musisi itu harus menjalani pemeriksaan sejak 26 September hingga pukul 10.30 WIB tanggal 27 September. Penangkapan oleh polisi itu akibat dia mengekspresikan sikap dan pendapat terkait gelombang demo mahasiswa akhir September lalu.

Usai bebas, mantan wartawan Tempo itu ditetapkan kepolisian sebagai saksi. Ananda usai bebas berucap, “Saya salah satu orang yang beruntung punya privilege untuk bisa segera dibebaskan. Tapi di dalam saya lihat banyak sekali mahasiswa yang diproses tanpa pendampingan, diproses dengan cara-cara tidak etis. Mereka butuh pertolongan lebih dari saya.”

Menyusul pernyataan itu, Polda Metro Jaya merasa keberatan. “Kami akan mengirimkan somasi ke Ananda Badudu. Apa yang dia nyatakan kepada pers silahkan bantah, memberikan pernyataan dan kabur. Ada nama baik Polri yang dipertaruhkan,” kata Kepala Unit IV Subdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKP Rovan Richard Mahenu, di Polda Metro Jaya, Senin, 30 September 2019. Intinya,Polda  Metro Jaya  keberatan terhadap pernyataan Ananda yang menyebutkan bahwa ada banyak mahasiwa yang diproses secara tidak etis dan tanpa pendampingan.

Namun anehnya, yang dijadikan bukti untuk penguat somasi itu hanya rekaman kamera CCTV di ruangan pemeriksaan yang pada saat itu memang cuma ada dua mahasiswa, Hatif dan Nabil, yang diperiksa bersamaan dengan Ananda Badudu pada Jumat (27/09) lalu. Secara mekanisme publik juga tabu, tentu tidak semua mahasiwa dan pelajar diperiksa dalam satu ruangan bersamaan.

“Saya hargai kepolisian dan saya siap ikuti semua proses kepolisian sesuai prosedur hukum yang ada,” kata Ananda, dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa malam (1/10/2019). “Saya tidak akan kabur, tidak akan lari.”

Darurat Kebebasan Berpendapat?

Apa yang membuat Ananda tertangkap adalah ihwal sikap dan pendapat yang dia utarakan. Dia dipanggil sebagai saksi karena mengkoordinir dana publik untuk mendukung demonstrasi yang dilakukan oleh aliansi rakyat mulai dari mahasiswa, gabungan kelompok tani, pelajar dan buruh. Demonstrasi ini membesar sejak ada gerakan Gejayan Memanggil pada 23 September 2019.

Mungkin nasib Ananda yang ditangkap aparat pada Jumat 27 September pukul 04.30 masih lebih enak daripada nasib yang dialami oleh Dhandy Dwi Laksono. Aktivis HAM dan pendiri Watchdoc Documentary itu dicokok pada Kamis 26 September pukul 23.00 WIB akibat cuitannya terkait ricuh Papua. Dhandy diperiksa, dibebaskan dan dilepaskan tapi masih menyandang status tersangka. Namun, kasus keduanya mempunyai dua kesamaan. Pertama mereka ditangkap tanpa surat panggilan terlebih dahulu dan kedua ditangkap saat jam orang sedang enak-enaknya tidur.

Mengaca pada kasus tersebut boleh dibilang kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat yang menjadi ciri dari demokrasi belum terjamin. Buktinya, baik Ananda dan Dhandy menjadi obyek kesewenang-wenangan aparat. Tidak salah bila ada salah satu baliho demonstrasi yang isinya anekdot: demokrasi bagi rakyat hanya ketika pelaksanaan pemilu, selebihnya itu tak terasa.

Jadi, jangan salahkan bila rakyat menilai kepemerintahan Joko Widodo tak beda jauh dengan zaman orde baru yang represif militeristik. Aparat tak senang pemerintah dikritik, lalu menankapi orang-orang yang mengemukakan pendapat yang berseberangan dengan sikap pemerintah. Tak hanya aparat yang ditugasi mengawasi, bahkan Menristekdikti pun melakukan pembungkaman dengan ancaman sanksi untuk rektor dan mahasiswa yang terus menerus berdemonstrasi.

Disisi lain, penangkapan Ananda dan Dhandy sarat dengan kejanggalan. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan pihaknya memanggil Ananda untuk melakukan klarifikasi karena dialah yang melakukan transfer uang untuk demonstran. Padahal Ananda hanya menggalang donasi dana lewat situs Kitabisa.com dan bukan pihak yang mentransfer.

Lalu apa salahnya juga menangkap orang atas tuduhan melakukan transfer. Hal itu begitu konyol sebab yang ditransfer juga bukan dalam rangka cuci uang, korupsi, apalagi terorisme.

Untuk kasus Dhandy beda kekonyolan lagi. Sebab laporan tersebut adalah dari polisi sendiri bernama Asep Sanusia. Menurutnya Dandhy adalah orang penting sebab paling banyak didengar terkait kasus di Papua. Cuitannya di twitter membuatnya ditangkap. “Mahasiswa Papua yang eksodus dari kampus-kampus di Indonesia, buka posko di Uncen. Aparat angkut mereka dari kampus ke Expo Waena. Rusuh. Ada yang tewas”. Menurut polisi kabar itu adalah hoax yang sengaja dilontarkan Dandhy.

Dandhy ditangkap karena diduga melanggar “Pasal Karet” Pasal 28 ayat (2), jo Pasal 45 A ayat (2) UU No 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 14 dan Pasal 15 No.1 tahun 1946 tentang hukum pidana.

Apa yang dialami oleh Dandhy adalah pembungkaman berekspresi yang sebaiknya sudah terkikis di era demokrasi. Terlebih sikap aparat yang main tangkap membuat kondisi makin bergejolak.

Beda Perlakuan Negara

Anehnya, aparat seolah tebang pilih dalam bersikap. Coba lihat bagaimana sikap aparat kepolisian terkait cuitan ambulansn bawa batu yang akhirnya diketahui itu adalah hoax yang dilontarkan oleh buzzer pemerintah, Denny Siregar.

Denny mencuit, “Hasil pantauan malam ini. Ambulans pembawa batu ketangkep pake logo @DKI Jakarta.” Setelah ditelusuri tidak ada petugas medis yang menyimpan batu di ambulans. Namun, di ujung kasusnya dia bebas, tak ditangkap dan tak ditersangkakan.

Polisi pun terlihat kompak. Polda Metro Jaya ikut-ikutan mencuit video-video ambulans yang akhirnya ditelusuri tidak berisi batu sama sekali. Usai dihujat warganet baik Dandhy dan Polda Metro Jaya menghapus video itu dan meminta maaf. Sekedar itu saja.

Tak hanya itu polisi berjanji mengusut siapa penyebar konten hoaks ambulans bawa batu tersebut. Namun sampai sekarang apa? Tidak ada satupun yang ditersangkakan. Penyidik kepolisian hanya berkata akan mendalami terkait cuitan Denny Siregar.

Beda penanganan semacam itu tentu tak bisa dianggap sepele. Sebab rakyat sudah tak percaya penguasa. Apalagi yang pilih kasih.

K for GAEKON

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here