Peraturan lalu lintas yang mewajibkan pengendara motor harus menyalakan lampu di siang hari jadi sasaran kejengkelan warga negara. Seorang Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (FH UKI) Jakarta, Eliadi Hulu menggugat UU Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Kejengkelan mahasiswwa semester 7 itu dipicu usai kedapatan tidak menyalakan lampu motornya di siang hari. Sehingga, Eliadi harus ditilang polantas di Jalan DI Panjaitan Jakarta Timur pada 8 Juli 2010 lalu pukul 09.00 WIB.

Eliadi yang super kritis malah mengajak debat polantas. Dia mempertanyakan mengapa dia wajib menyalakan lampu motor. Padahal bumi sudah terang terkena sinar matahari. Namun jawaban petugas tidak memuaskan.

Eliadi kemudian bersama temannya, Ruben Saputra menggugat Pasal 197 ayat 2 dan Pasal 293 ayat 2 UU LLAJ. Sebagai informasi Pasal 197 ayat 2 berbunyi: Pengemudi Sepeda Motor selain mematuhi ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyalakan lampu utama pada siang hari.

Sedangkan pasal Pasal 293 ayat 2 berbunyi: Setiap orang yang mengemudikan Sepeda Motor di Jalan tanpa menyalakan lampu utama pada siang hari sebagaimana dimaksud dalam Pasal 107 ayat (2) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 15 (lima belas) hari atau denda paling banyak Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah).

Memang secara nalar aturan ini tampak mudah dipatahkan. Argumen aparat mengklaim dengan menyalakan lampu, motor bisa terlihat jelas di kaca spion, sehingga meminimalisir kecelakaan.

Pertanyaannya, bila landasan logikanya seperti itu mengapa mobil tidak diwajibkan pula menyalakan lampu di siang hari? Namun bukan hal itu yang diutarakannya, Eliadi punya gagasan kritis yang jauh lebih canggih.

“Negara-negara yang pertama kali menerapkan wajib menyalakan lampu utama pada sepeda motor siang hari adalah negara-negara Nordik yang berada di bagian utara bumi yang sinar mataharinya sangat sedikit pada siang hari. Sehingga membutuhkan bantuan penerangan dengan konsep pencahayaan lampu Daytime Running Lamp (DRL),” katanya sesuai berkas permohonan yang dilansir oleh website MK Jumat 1 Januari 2020.

Menurutnya, negara yang memelopori lampu motor menyala adalah Swedia di tahun 1977. Pada 1972, Finlandia menerapkannya di pedesaaan pada musim dingin. Sepuluh tahun setelahnya diperpanjang sepanjang tahun.

Disusul Finlandia mewajibkan pada 1997 untuk sepanjang tahun. Adapun di Norwegia berlaku sejak 1986. Sedangkan Islandia sejak 1988 dan Denmark pada 1990.

“Negara-negara tersebut merupakan negara yang sinar mataharinya sangat sedikit pada siang hari sehingga membutuhkan bantuan pencahayaan guna menekan angka kecelakaan lalu lintas,” ujarnya.

Dasar geografis di negara Nordik itu dinilai tidak tepat berlaku untuk Indonesia. Sebab, Indonesia berada di garis lintng khatulistiwa yang terik akibat mendapat cahaya matahari sepanjang siang dan sepanjang tahun.

Besar kemungkinan, menurutnya, Indonesia tidak mempertimbangan alasan geografis tersebut. Di Indonesia UU LLAJ resmi berlaku sejak 2009. Akibat regulasi itu, pabrikan motor pun ikut-ikut membuat produk yang lampunya otomatis menyala bila mesih hidup. Padahal sebelumnya motor punya tuas untuk mengatur mati-nyala lampu.

“Maka cahaya tersebut akan menyorot langsung pada masyarakat sekitar yang sedang duduk atau sedang melakukan kegiatan lainnya sehingga menggangu kenyamanan. Selain itu juga merupakan bentuk ketidaksopanan. Akan tetapi bila sepeda motor dilangkapi dengan saklar alat untuk menghidup dan memarikan lampu utama, maka hal itu bisa dihindarkan,” ketus Eliadii.

K For GAEKON

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here