Nekat Pesan Uang Palsu Untuk Ritual, Dukun Di Lombok Timur Ini Ditangkap Polisi

0

Nekat Pesan Uang Palsu Untuk Ritual, Dukun Di Lombok Timur Ini Ditangkap PolisiGaekon.com – Praktik pemalsuan uang di Indonesia sepertinya masih terus dilakukan. Baru-baru ini Polres Kota Mataram menggagalkan aksi dukun praktik pemalsuan uang di Lombok Timur.

Seperti yang dilansir GAEKON dari Kompas, Seorang dukun asal Dusun Dasan Baru, Desa Surabaya Utara, Sakura Timur, Lombok Timur, nekat memesan hampir setengah miliar uang palsu pecahan Rp 100.000.

Pelaku MH (58) yang berprofesi sebagai dukun pengganda uang mengaku, uang palsu pecahan Rp 100.000 itu akan digunakan untuk ritual.

Namun, belum sampai menipu para korbannya, aksi dukun itu digagalkan oleh aparat Polres Kota Mataram.

“Saya bukannya mau memperbanyak uang, tapi kita mau ritualkan supaya menjadi asli, tapi belum kita laksanakan ritualnya, kita sudah ditangkap,” kata MH.

MH mengaku yakin bahwa uang palsu tersebut bisa berubah menjadi asli usai melakukan ritual. Ia bahkan telah menyiapkan sesajen, termasuk ayam hitam untuk dipotong dan darahnya dipakai untuk memuluskan ritualnya.

“Bisa (jadi asli) kalau kita yakin,” ungkapnya.

MH mengaku akan melakukan ritual dengan cara berdoa seperti doa meminta rezeki kepada Tuhan. Insiden ini terungkap berawal dari laporan warga.

Kapolres Kota Mataram, Kombes Pol Heri Wahyudi menerangkan bahwa warga mendapati LK (17) warga Gegelang, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat berbelanja dengan uang palsu pecahan Rp 100.000.

LK mengaku mendapatkan uang palsu itu dari MST (51). Setelah dimintai keterangan, MST mengaku mendapatkan uang dari MN (60) yang kedapatan menyimpan satu karung uang palsu pecahan Rp 100.000.

MN mengaku, dirinya mendapatkan dan menyimpan uang dalam karung sebanyak 3.998 lembar atau hampir setengah miliar itu, untuk kebutuhan ritual penggandaan uang yang akan dilakukan MH.

Dukun Mencetak Uang Dengan Teknik Scanner

Heri menerangkan, sebelumnya MH pernah mencetak ratusan lembar uang palsu mengunakan teknik scanner. Namun hasilnya kurang sempurna, sehingga MH memesan uang palsu melalui JN (34) warga Dusun Montong Tangga Desa Sikur Selatan, Lombok Timur.

JN nampak cekatan ketika Kapolres memintanya mempraktikkan caranya mencetak uang palsu, bermodal laptop, sebuah printer dan kertas HVS.

“Caranya itu uang ini akan dibakar, kemudian dimasukkan dalam kotak dan akan dicari lagi setelah tiga hari disimpan dalam kotak, maka akan menjadi uang asli, katanya begitu, tapi belum pernah dicoba, karena tertangkap,” jelas JN.

JN mengaku dipaksa mencetak uang palsu, dan JN akan dibayar sebesar Rp 4 juta rupiah setelah mencetak 4000 lembar uang.

Atas perbuatannya JN pembuat uang palsu, MH sang dukun dan rekannya AD, serta mereka yang turut membantu mengedarkan yaitu LK, MST dan MN harus berhadapan dengan hukum.

Mereka dijerat dengan Pasal 36 ayat 1,2 dan 3 junto pasal 38 Undang Undang Nomer 7/2011 tentang mata uang, dengan ancaman hukuman paling lama 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 10 miliar.

D For GAEKON