Polisi Tangkap 5 Nelayan Di Sulsel Terkait Kasus Perdagangan Penyu

0

Polisi Tangkap 5 Nelayan Di Sulsel Terkait Kasus Perdagangan PenyuGaekon.com – Direktorat Kriminal Khusus Polda Sulsel menangkap 5 nelayan dan seorang buruh harian terkait kasus perdagangan penyu.

Melansir dari Liputan6, pihak kepolisian turut mengamankan sejumlah bukti mulai dari penyu hidup hingga potongan-potongan tubuh satwa tersebut.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Komang Suartana menerangkan bahwa 5 nelayan itu adalah S (49), Z (18), B (54), R (71) dan RA (53), sementara seorang buruh harian yang turut ditangkap adalah K (34).

Nelayan Dan Buruh Harian Ditangkap Di Lokasi Berbeda

“Jadi S, Z, B, dan R itu ditangkap di Pulau Gondong Bali sementara RA dan K itu ditangkap terpisah di Jalan Tentara Pelajar, Kota Makassar,” kata Komang.

Mereka ditangkap di dua lokasi berbeda yakni di Pulau Gondong Bali, Desa Mattiro Matae, Kecamatan Liukang Tuppabiring Kabupaten Pangkep dan di sebuah rumah makan yang berada di Jalan Tentara Pelajar, Kota Makassar.

Pewakilan Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kementerian Kelautan dan Perikanan, Ilham mengatakan bahwa Pulau Gondong Bali merupakan bagian dari Kawasan Konservasi Perairan Nasional Taman Wisata Perairan Kapoposang.

Ulah para tersangka terungkap setelah Ilham dan pihaknya menerima informasi dari warga tentang aktivitas eksploitasi penyu para nelayan tersebut. Sejak menerima informasi tersebut, Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kementerian pun mulai melakukan penyelidikan hingga dikemudian hari pihaknya menerima laporan bahwa para nelayan tersebut mulai menebar jaring untuk menangkap penyu.

“Selama 6 bulan terakhir kami berusaha mencari informasi dan hingga kami mendapat informasi dari masyarakat bahwa para pelaku ada di sekitar perairan Gondong Bali sedang menebar jaring. Ketika itu teman-teman dari pengelola kawasan konservasi melakukan pengecekan di lapangan hingga pagi hari kami menemukan sebuah kapal yangdigunakan oleh tersangka dan di dalamnya itu ada 5 ekor penyu hijau, empat dalam kondisi hidup dan satu dalam kondisi mati,” jelasnya.

Pihak Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional Kementerian kemudian langsung berkoordinasi dengan Direktorat Kriminal Khusus Polda Sulsel untuk menindak lanjuti temuan tersebut.

Subdit IV Direktorat Kriminal Khusus Polda Sulsel pun kemudian turun tangan untuk menyelidiki kasus eksploitasi dan perdagangan hewan dilindungi ini. Dari hasil pengembangan, aparat kepolisian kemudian berhasil menangkap dua orang lagi pelaku beserta 93 kilogram potongan tubuh penyu yang sudah dikeringkan.

Dari hasil pengakuan kedua pelaku tersebut, lanjut Widoni, potongan tubuh penyu kering itu digunakan sebagai menu di salah satu rumah makan yang ada di Kota Makassar.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan, tersangka K mengaku bahwa bagian-bagian tubuh tersebut adalah daging penyu yangditerima dari tersangka R di Dermaga Takalar Lama, selanjutnya tersangka K berangkat membawa daging penyu tersebut untuk dijual kepada konsumen seharga Rp250 ribu per kilogram sehingga total penjualan sebesar Rp22.750.000,” jelas Widoni.

Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Komang Suartana mengatakan bahwa keenam tersangka disangkakan Pasal 40 Ayat 2 Juncto Pasal 21 Ayat 2 huruf a Undang Undang RI Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

“Adapun ancaman hukumannya adalah pidana penjara paling lama 5 tahun penjara dan denda paling banyak Rp100 juta,” sebut Komang.

Komang menjelaskan adapun kerugian yang ditimbulkan akibat aktivitas yang dilakukan oleh para tersangka tersebut cukup besar. Negara Indonesia mengalami kerugian akibat perdagangan TSL dan mencapai Rp13 triliun setiap tahunnya.

D For GAEKON