Produksi 420 Juta Butir Obat Keras Per Bulan, Polisi Amankan 13 Tersangka Kasus Pabrik Obat Keras Ilegal Dan Psikotropika Di Bantul

0

Produksi 420 Juta Butir Obat Keras Per Bulan, Polisi Amankan 13 Tersangka Kasus Pabrik Obat Keras Ilegal Dan Psikotropika Di BantulGaekon.com – Polisi berhasil mengamankan 13 tersangka dalam kasus pabrik obat keras ilegal dan psikotropika di Bantul, DIY.

Seperti yang dilansir GAEKON dari CNN, Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Pol Agus Andrianto menyebut pihaknya mengamankan total 13 tersangka dalam kasus ini.

Mereka adalah tiga orang penanggung jawab pabrik, penyuplai bahan baku, serta pihak yang terlibat peredaran di berbagai daerah. Beberapa barang bukti yang diamankan meliputi 1 unit truk Colt diesel; 30 juta butir obat keras dalam 1.200 kemasan colli; 15 unit mesin cetak pil, oven, pewarna, cording atau printing.

Kemudian, bahan prekusor seperti 25 kg Polivinill Pirolidon (PVP); 150 kg Microcrystalline Cellulose (MCC); 450 kg Sodium Starch Glycolate (SSG); 15 kg Polyoxyethylene Glycol 6000 (PEG); 200 kg Dextromethorphan; 275 kg Trihexyphenidyl; 45 kg Talc; 6.250 kg Lactose; ratusan kardus serta botol kosong.

“Tidak menutup kemungkinan peredaran obat ini sudah diedarkan di seluruh wilayah Indonesia. Dari 13 tersangka ini akan berkembang dengan tersangka-tersangka lain,” ungkapnya.

Untuk ketiga tersangka yang terlibat dalam proses produksi obat-obatan ini, polisi mengenakan Pasal 60 UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja atas perubahan Pasal 197 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan subsider Pasal 196 dan/atau Pasal 198 UU Kesehatan Jo Pasal 55 KUHP.

Dua pabrik di Bantul dan Sleman tersebut diketahui memproduksi sebanyak 420 juta butir obat keras ilegal dan psikotropika setiap bulan. Direktur Tindak Pidana Narkoba Badan Reserse Kriminal Polri Brigjen Pol Krisno Siregar menuturkan pengungkapan dua pabrik ini berawal dari rangkaian kasus obat-obatan keras di Cirebon, Indramayu, Majalengka, Bekasi, dan Jakarta Timur.

Krisno berhasil menyita 5 juta pil obat keras dan psikotropika dari kasus-kasus itu. Jenisnya antara lain Hexymer (meningkatkan kendali otot dan mengurangi kekakuan, biasanya untuk Parkinson), Trihex (Trihexyphenidyl, untuk Parkinson).

Selain itu, DMP (Dextromethorphan Hbr atau dekstro, obat yang bekerja di sistem saraf pusat, biasanya untuk batuk), Tramadol (obat pereda rasa sakit), double L (obat epilepsi dan parkinson, berefek halusinasi), dan Aprazolam (obat terapi pada gangguan cemas, serangan panik).

“Semuanya ini kami analisa dan kami mendapatkan petunjuk bahwa pengiriman dari Jogja (DIY),” kata Krisno.

Pabrik obat keras di Jalan PGRI I Sonosewu Nomor 158, Kasihan, Bantul itu dibongkar keberadaannya pada Selasa (21/9). Lokasi pabrik lainnya, yakni di Banyuraden, Gamping, Sleman, terungkap sehari setelahnya.

Dari kedua pabrik ini, polisi menemukan berbagai mesin produksi, bahan kimia atau prekursor obat, adonan obat siap olah, serta obat-obatan keras-psikotropika siap edar. Dari total 7 mesin yang ada di kedua pabrik itu, pihaknya memperkirakan lebih kurang 2 juta pil bisa diproduksi tiap harinya.

Biaya operasional dari kedua pabrik ini Rp2-3 miliar untuk belanja bahan baku, pengoperasian mesin, serta gaji para pegawai. Menurut Krisno pabrik tersebut masuk dalam level mega atau besar. Soal bahan baku obat-obatan ini, Krisno menduga itu diperoleh dari China. Namun, pihaknya masih belum memastikan adanya keterlibatan warga negara asing dalam kasus ini.

D For GAEKON